Teliti Lagu Kebangsaan 11 Negara ASEAN, Warga Malang Siap Ikuti Konferensi Internasional di Thailand - BACAMALANG.COM

Menu ✖

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

MALANG RAYA · 3 Jun 2024 13:25 WIB ·

Teliti Lagu Kebangsaan 11 Negara ASEAN, Warga Malang Siap Ikuti Konferensi Internasional di Thailand


 Rakai Hino Galeswangi (kiri) dan Hengki Herwanto siap membawa nama Malang dalam 2024 SEAMEO SPAFA International Conference on Southeast Asian Archaeology and Fine Arts atau SPAFACON 2024 di Thailand. Foto diambil, Minggu (2/6/2024). (Nedi Putra AW) Perbesar

Rakai Hino Galeswangi (kiri) dan Hengki Herwanto siap membawa nama Malang dalam 2024 SEAMEO SPAFA International Conference on Southeast Asian Archaeology and Fine Arts atau SPAFACON 2024 di Thailand. Foto diambil, Minggu (2/6/2024). (Nedi Putra AW)

BACAMALANG.COM – Lagu kebangsaan sebuah negara selain menjadi kebanggaan. Lebih dari itu lagu kebangsaan dari kawasan serumpun ternyata menjadi bahan menarik untuk diulas.

Hal ini disampaikan sejarawan Rakai Hino Galeswangi dalam sebuah penelitian berjudul “Lyrics of The National Anthem Symbol of ASEAN Unity”.

Tulisan yang digarap bersama kurator Museum Musik Indonesia (MMI) Malang, Hengki Herwanto ini akan dibawa ke Thailand dalam 2024 SEAMEO SPAFA International Conference on Southeast Asian Archaeology and Fine Arts (SPAFACON2024) pada 10-14 Juni 2024.

Diterangkan Rakai Hino, ide menulis penelitian ini justru berawal dari Hengki yang akhirnya digarap bersama.

“Dari 11 negara di ASEAN, ternyata banyak memunculkan kata ‘rakyat’ dan ‘tanah’, kecuali lagu dari Brunei, dalam arti ada kemiripan bahwa rakyat ini berjuang bersama,” ungkap Rakai Hino di Malang, Minggu (2/6/2024).

Menurut Dosen Universitas Islam Internasional Darullughah Wadda’wah (Dalwa) Bangil ini, negara-negara ASEAN kurang lebih mengalami nasib yang sama terkait penjajahan dari bangsa Eropa, kecuali Thailand, di mana latar belakang ini dikemas dalam bentuk simbol negara, salah satunya lagu kebangsaan.

Hengki Herwanto dengan piringan hitam asli ‘Indonesia Raja’ rekaman Lokananta berukuran 7 inchi yang akan dibawa dalam 2024 SEAMEO SPAFA International Conference on Southeast Asian Archaeology and Fine Arts atau SPAFACON 2024 di Thailand. Foto diambil, Minggu (2/6/2024). (Nedi Putra AW)

“Ternyata kesamaan historiografi ini menimbulkan memori kolektif dari rakyat di negara tersebut sehingga bangkit dari pengerukan kapital atau ‘merkantilisme’ bangsa Eropa itu,” tambahnya.

Rakai Hino menilai, hingga saat ini belum diketemukan penelitian serupa, khususnya yang membahas lagu kebangsaan dari tinjauan tentang ASEAN itu sendiri.

Oleh karena itu, sebagai warga Kota Malang bersama Hengki Herwanto, ia mencari beragam makna di dalamnya, baik itu religi, budaya, sejarah, pendidikan baik masa klasik hingga masa kontemporer.

Dijelaskan Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Malang ini, bahwa output yang dihasilkan dari pertemuan nanti adalah terjalinnya persatuan yang lebih kuat dari negara-negara ASEAN lewat tinjauan lagu kebangsaan masing-masing, lewat sebuah penelitian ilmiah akademik yang bisa dipertanggungjawabkan.

“Intinya misi kami membawa misi perdamaian ASEAN dari Kota Malang,” tegasnya.

Hengki Herwanto menambahkan, bahwa lagu-lagu kebangsaan di negara-negara ASEAN ini hampir tercipta pada masa pergerakan kemerdekaan, seperti Indonesia Raya karya WR Soepratman.

“Kami juga membawa salah satu koleksi langka Museum Musik Indonesia, yakni piringan hitam asli ‘Indonesia Raja’ rekaman Lokananta berukuran 7 inchi dalam forum tersebut,” ujarnya.

Misi internasional dari Malang ke Thailand ini didukung Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Rakai Hino dan Hengki Herwanto juga mohon dukungan dan doa restu dari masyarakat maupun Pemerintah Kota Malang, dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan sebagai instansi terkait.

Pewarta : Nedi Putra AW

Editor/Publisher: Aan Imam Marzuki

Artikel ini telah dibaca 498 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Mediasi Kasus Limbah Biogas Jianto, Kuasa Hukum Pelapor Tegaskan Proses Hukum Tetap Berlanjut

6 November 2026 - 22:02 WIB

Siaga Hadapi Banjir hingga Longsor, Polresta Malang Kota Libatkan 357 Personel Gabungan

6 November 2026 - 21:25 WIB

Jum’at Berkah ke-14, Aremania Jodipaness Pererat Silaturahmi Lintas Komunitas

6 November 2026 - 20:55 WIB

Pascapenyadapan Komunikasi Presiden: Bersih-bersih Institusi Atau Perang Kekuasaan?

6 November 2026 - 20:43 WIB

Kukuhkan Lima Profesor Baru, UB Hadirkan Gagasan Inovatif di Bidang Hukum hingga Perdamaian

6 November 2026 - 20:19 WIB

Buron Curanmor Tajinan Dibekuk di Madura, Motor Korban Diubah Warna dan Nomor Mesin Digerinda

6 November 2026 - 18:48 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !