BACAMALANG.COM — Kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi dinilai tidak cukup hanya dengan mengetahui cara menyelamatkan diri saat guncangan terjadi. Masyarakat juga perlu memahami karakter wilayah, potensi kerusakan, hingga jalur evakuasi berdasarkan data dan peta risiko.
Hal tersebut menjadi salah satu pesan yang disampaikan Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT) dalam kegiatan edukasi bertajuk “Gempa Destruktif: Memahami Dampak, Menguatkan Kesiapsiagaan”, di Sekretariat JKJT, Jalan Blitar Nomor 12, Kota Malang, Sabtu (19/9/2026) malam.
Ketua Umum JKJT, Agustinus Tedja Bawana, mengatakan literasi kebencanaan perlu diperkuat agar masyarakat tidak hanya memahami ancaman gempa, tetapi juga mampu menentukan langkah yang tepat sebelum, saat, maupun setelah bencana.
Kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur relawan dan potensi pencarian serta pertolongan. Di antaranya personel Basarnas, organisasi kemanusiaan, mahasiswa, serta masyarakat.
Para peserta mendapatkan materi mengenai potensi dampak gempa terhadap bangunan dan infrastruktur, pemetaan risiko, kemungkinan terganggunya akses pelayanan publik, hingga pentingnya koordinasi dalam kondisi darurat.
Agustinus menilai edukasi kebencanaan tidak boleh berhenti di Kota Malang. Menurutnya, literasi serupa perlu diperluas ke seluruh wilayah Malang Raya maupun daerah lain yang memiliki potensi ancaman gempa.
“Selama lima tahun saya memperjuangkan edukasi ini. Saya berdiskusi dengan orang-orang yang berkompeten di bidang kebencanaan, termasuk pihak BMKG, untuk mencari cara agar masyarakat yang sebelumnya belum memahami risiko bencana dapat memperoleh pengetahuan yang benar,” ujar Agustinus.

Kerusakan Gempa Tak Selalu Sama
Agustinus menjelaskan, tingkat kerusakan akibat gempa tidak selalu sama di setiap daerah. Selain kekuatan gempa, kondisi tanah, kualitas bangunan, jarak dari sumber gempa, serta karakter guncangan turut memengaruhi dampak yang ditimbulkan.
Gempa dengan dampak besar juga dapat menimbulkan persoalan berantai. Kerusakan bangunan dan infrastruktur misalnya, bisa menghambat akses jalan, mengganggu jaringan listrik dan komunikasi, hingga menghambat pelayanan rumah sakit serta proses pencarian dan pertolongan.
Karena itu, masyarakat dinilai perlu mengenali lingkungan tempat tinggal masing-masing melalui data dan peta risiko.
Pemetaan tersebut mencakup jalur evakuasi, titik aman, bangunan vital, kelompok rentan, hingga sumber daya yang dapat dimanfaatkan ketika terjadi keadaan darurat.
“Di ruang pencegahan, mengenali wilayah berdasarkan data dan peta merupakan hal yang sangat penting. Dengan begitu, masyarakat memahami ancaman di sekitarnya dan mengetahui tindakan yang harus dilakukan,” jelasnya.
Dalam kegiatan tersebut, materi disampaikan melalui ilustrasi dan simulasi untuk menggambarkan kemungkinan dampak gempa terhadap bangunan maupun fasilitas publik.
JKJT juga menegaskan bahwa berbagai gambar kerusakan yang ditampilkan dalam materi merupakan simulasi dan bukan dokumentasi kejadian gempa nyata.
SOP Jangan Sampai Hambat Pertolongan
Selain pemahaman terhadap risiko, Agustinus menekankan pentingnya ketenangan, kecakapan, serta pemahaman terhadap standar operasional prosedur (SOP) ketika menghadapi kondisi darurat.
Namun, penerapan SOP menurutnya juga harus tetap memperhatikan situasi di lapangan. Prosedur tidak semestinya diterapkan secara kaku hingga justru menghambat proses pertolongan dan evakuasi.
“Dalam situasi bencana yang dampaknya dapat dirasakan secara luas, identitas atau latar belakang kita bukanlah yang terpenting. Hal utama adalah kemampuan bekerja sama, menolong korban, dan menjalankan peran secara tepat,” katanya.
Ia juga mendorong penerapan sistem perimeter atau pembagian zona dalam penanganan keadaan darurat. Pembagian tersebut penting untuk menjaga keselamatan petugas maupun warga, mengatur akses menuju lokasi terdampak, serta memperlancar evakuasi dan distribusi bantuan.
Menurut Agustinus, respons kebencanaan juga harus menggabungkan pengetahuan ilmiah dengan kearifan lokal.
Warga setempat dinilai memiliki pengetahuan penting mengenai kondisi wilayah, jalur alternatif, karakter lingkungan, serta kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus.
Pengetahuan tersebut, kata dia, perlu dipadukan dengan data ilmiah, SOP, serta koordinasi antarlembaga.

Data Kegempaan Perlu Dikaji Bersama
Dalam kesempatan itu, Agustinus juga menyinggung aktivitas kegempaan di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Setelah JKJT membuka posko untuk membantu masyarakat terdampak, ia mengaku turut mengamati perkembangan data gempa dari sejumlah sumber, termasuk United States Geological Survey (USGS).
“Beberapa hari setelah gempa NTT, saya melihat perkembangan data kegempaannya. Ada pola yang menurut pengamatan saya perlu mendapat perhatian dan dikaji lebih lanjut bersama para ahli,” ungkapnya.
Agustinus menegaskan, pengamatan tersebut bukan merupakan prediksi mengenai waktu maupun lokasi terjadinya gempa.
Menurutnya, analisis kegempaan dan informasi resmi tetap harus mengacu pada lembaga berwenang serta para ahli di bidangnya.
Pengamatan data, lanjut dia, diperlukan untuk memperkuat kesiapsiagaan, menyempurnakan sistem pemantauan, sekaligus membantu masyarakat memahami ancaman gempa secara rasional tanpa menimbulkan kepanikan.
Generasi Muda Jadi Penggerak
JKJT juga mengajak mahasiswa dan generasi muda mengambil peran dalam membangun budaya sadar bencana.
Mereka dinilai dapat menjadi penggerak dalam menyebarkan informasi kebencanaan yang benar, membantu pemetaan risiko, mengikuti pelatihan pertolongan, hingga mendampingi masyarakat dalam simulasi evakuasi.
“Ini menjadi tanggung jawab bersama. Mahasiswa sebagai generasi penerus harus memiliki semangat membangun masyarakat yang lebih siap menghadapi bencana,” ujar Agustinus.
Ia menambahkan, kesiapsiagaan tidak boleh baru dilakukan setelah bencana terjadi.
Edukasi, pemetaan risiko, peningkatan kapasitas masyarakat, pemeriksaan jalur evakuasi, simulasi, hingga koordinasi antarlembaga perlu dilakukan secara berkala.
“Bencana bukan hanya mengenai tindakan ketika kejadian berlangsung. Hal yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat memahami risikonya dan mampu mempersiapkan diri sebelum bencana terjadi,” pungkasnya.
Pewarta/Editor: Rahmat Mashudi Prayoga




















































