BACAMALANG.COM – Polemik dugaan gangguan bau menyengat yang berasal dari pengolahan limbah kotoran sapi menjadi biogas di Jalan Daip, Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, mendapat perhatian Satreskrim Polres Batu dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu.
Untuk memastikan sumber dan dampak dari limbah tersebut, petugas telah melakukan pemeriksaan ke lokasi serta mengambil sampel limbah dari area pekarangan milik Jianto, yang disebut sebagai terlapor dalam perkara tersebut.
Pengambilan sampel dilakukan Satreskrim Polres Batu bersama DLH Kota Batu pada Senin (29/9/2026). Sampel tersebut selanjutnya akan diuji untuk mengetahui kandungan maupun dampaknya terhadap lingkungan.
Polisi Masih Menunggu Hasil Uji Laboratorium
Kasatreskrim Polres Batu AKP Zaenal Arifin, S.H., membenarkan bahwa pihaknya telah mendatangi lokasi dan mengambil sampel limbah yang menjadi bagian dari laporan.
Menurutnya, hasil pemeriksaan sampel masih dalam proses dan pihak kepolisian masih berkoordinasi dengan instansi terkait.
“Kami telah datang ke lokasi untuk mengambil sampel limbah kotoran sapi, yang nantinya kami koordinasikan dengan dinas terkait, DLH Kota Batu. Jadi, mohon bersabar karena hasilnya menunggu sekitar sepuluh hari,” ujar Zaenal kepada awak media seusai konferensi pers pengungkapan kasus penipuan dan penggelapan di Mapolres Batu, Kamis (1/10/2026).
Polemik tersebut sebelumnya mencuat setelah adanya keluhan mengenai bau menyengat yang diduga berasal dari proses pengolahan limbah kotoran sapi menjadi biogas.
Kharisma, warga yang juga berprofesi sebagai jurnalis di Kota Batu sekaligus pelapor, mengaku bersama keluarganya kerap mencium aroma yang menurutnya mengganggu dari lokasi pengolahan tersebut.
Ia juga menyampaikan bahwa kondisi tersebut telah berdampak terhadap keluarganya. Namun, terkait hubungan antara paparan bau dengan kondisi kesehatan yang dialami keluarganya, hal tersebut masih memerlukan pembuktian medis.
“Setiap hari memang kami mencium bau gas amoniak dari limbah kotoran sapi yang diolah menjadi biogas. Ibu saya juga mengalami sakit hingga batuk darah. Karena itu, demi mendapatkan kejelasan dan rasa keadilan, saya didampingi rekan-rekan wartawan melaporkan persoalan ini ke Polres Batu,” ungkapnya.
Apresiasi Langkah Satreskrim Polres Batu
Kharisma mengapresiasi langkah Satreskrim Polres Batu yang telah menindaklanjuti laporan tersebut dengan melakukan pengecekan lokasi dan pengambilan sampel.
“Kami sekeluarga beserta rekan-rekan jurnalis mengucapkan terima kasih dan mengapresiasi kinerja Satreskrim Polres Batu karena telah menerima laporan dan menindaklanjutinya, termasuk dengan mengambil sampel dan menunggu hasil pemeriksaan laboratorium,” ujarnya.
Kharisma diketahui tergabung dalam Pokja Jurnalis Polres Batu.
Sementara itu, Zulkifli, yang juga berprofesi sebagai jurnalis dan menjadi saksi pelapor, mengaku turut mencium aroma tidak sedap ketika berada di kediaman Kharisma bersama sejumlah awak media.
Menurutnya, keluhan mengenai bau tersebut perlu mendapat penanganan dan pemeriksaan dari instansi berwenang untuk memastikan apakah terdapat pelanggaran terhadap ketentuan lingkungan maupun aturan lainnya.
“Ketika kami datang ke sini, kami juga mencium bau yang tidak sedap. Karena itu, kami melaporkan persoalan ini agar dapat ditindaklanjuti dan diketahui secara jelas apakah terdapat unsur pelanggaran, termasuk terkait ketertiban umum maupun pencemaran lingkungan,” katanya.
Minta Persoalan Ditangani Secara Terbuka
Zulkifli berharap proses penanganan laporan tersebut dapat memberikan kejelasan bagi seluruh pihak yang terlibat.
Ia menilai hasil pemeriksaan sampel nantinya menjadi salah satu bagian penting untuk mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan.
“Harapan saya, kasus ini bisa menjadi terang dan memberikan rasa keadilan bagi keluarga pelapor. Kami menunggu hasil pemeriksaan dari pihak berwenang,” imbuhnya.
Selain persoalan bau, Zulkifli juga menyebut adanya informasi mengenai dugaan bantuan pemerintah melalui Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) yang berkaitan dengan pengelolaan limbah kotoran sapi menjadi biogas.
Namun, informasi tersebut menurutnya masih perlu dikonfirmasi dan diverifikasi kepada instansi maupun pihak yang berwenang.
“Informasi yang kami terima dari hasil wawancara dengan dinas terkait, ada dugaan bantuan melalui Gapoktan yang berkaitan dengan pengelolaan limbah kotoran sapi menjadi biogas. Karena itu, menurut kami informasi tersebut perlu ditelusuri dan diklarifikasi lebih lanjut, termasuk mengenai sumber bantuan dan penggunaannya,” tandasnya.
Hingga kini, hasil pemeriksaan sampel limbah masih ditunggu. Hasil uji tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran objektif mengenai kondisi limbah dan dugaan dampaknya terhadap lingkungan maupun masyarakat sekitar.
Pewarta: Eko Sabdianto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga





















































