BACAMALANG.COM-Berbicara tentang Cerita Panji, ada satu nama yang tak bisa dipisahkan. Tersebutlah Dr. Lydia Kieven, seorang pakar sejarah seni asal Jerman, yang juga salah satu peneliti paling terkemuka dalam kajian sastra dan seni relief Cerita Panji pada masa Jawa Kuno, khususnya pada era Kediri, Singhasari, hingga Majapahit.
Melalui penelitian mendalam, ia mengkaji figur laki-laki berbusana sederhana dengan penutup kepala khas yang kerap muncul dalam relief candi dan sebelumnya belum banyak mendapatkan penafsiran secara khusus. Kieven kemudian mengembangkan kajian mengenai figur bertopi tersebut dan mengaitkannya dengan representasi Raden Panji Asmarabangun maupun tokoh pengiringnya dalam berbagai adegan yang menggambarkan perjalanan, pengembaraan, pencarian pasangan, hingga pencarian spiritual.
Hasil penelitian doktoralnya di University of Sydney kemudian diterbitkan dalam sebuah buku yang menjadi salah satu rujukan penting dalam kajian relief Panji, yakni “Following the Cap-Figure in Majapahit Temple Reliefs”, yang dalam edisi bahasa Indonesia dikenal dengan judul “Menelusuri Figur Bertopi dalam Relief Candi Zaman Majapahit”.
Melalui karya tersebut, Kieven menawarkan pendekatan untuk mengenali kemunculan figur Panji dalam seni relief Jawa Timur. Kajian itu turut membuka ruang penelitian lebih luas terhadap relief-relief Panji di sejumlah situs, antara lain Candi Penataran, Candi Mirigambar, Candi Kendalisodo, Candi Surowono, hingga berbagai tinggalan arkeologis di kawasan Gunung Penanggungan.
Dedikasi Kieven terhadap kajian Panji juga tidak berhenti pada penelitian akademik. Ia turut aktif memperkenalkan dan mendorong pengakuan terhadap warisan budaya Panji di tingkat internasional.
Upaya pelestarian dan pengenalan tersebut sejalan dengan penetapan naskah-naskah Cerita Panji dalam program Memory of the World (MoW) UNESCO pada 2017. Pengakuan tersebut menjadi salah satu momentum penting dalam memperkenalkan warisan dokumenter Panji sebagai bagian dari kekayaan budaya yang memiliki nilai sejarah dan lintas wilayah.
Hal lain yang menonjol dari kiprah Lydia Kieven adalah keterlibatannya dengan masyarakat dan komunitas budaya. Selama hampir 30 tahun terakhir ini, Lydia Kieven terlibat dalam kegiatan “Revitalisasi Tradisi Panji“ di Jawa dan Asia Tenggara. Penelitiannya mengenai Panji tidak hanya dilakukan melalui kajian terhadap relief dan tinggalan arkeologis, tetapi juga bersentuhan dengan kehidupan budaya masyarakat di Jawa Timur, termasuk kawasan Kediri, Malang, dan Blitar.
Kieven aktif hadir dalam berbagai kegiatan budaya, festival Panji, tur arkeologi, serta berinteraksi dengan seniman, dalang Wayang Beber, budayawan, dan komunitas lokal. Interaksi tersebut menjadi bagian dari upaya untuk melihat Panji bukan semata sebagai objek penelitian arkeologi, melainkan sebagai warisan budaya yang masih memiliki ruang untuk dihidupkan dan dikembangkan dalam kehidupan masyarakat masa kini.
Melalui perpaduan antara penelitian arkeologi, kajian budaya, dan keterlibatan dengan komunitas, Lydia Kieven turut memperluas pemahaman mengenai Panji sebagai warisan budaya Jawa Timur yang memiliki jejak kuat dalam relief candi sekaligus terus hidup dalam berbagai ekspresi seni dan tradisi masyarakat, selain tokoh-tokoh lainnya juga seperti Prof. Wardiman Djojonegoro, mantan Mendikbud RI yang menjadi promotor utama alam memperjuangkan naskah Cerita Panji agar diakui oleh UNESCO sebagai Memory of the World (Ingatan Dunia) pada tahun 2017.
Peran penting Dr. Lydia Kieven sebagai salah satu pemicu pesatnya pertumbuhan serta geliat kajian Budaya Panji di Indonesia menjadi bahan dalam sebuah perbincangan hangat dan penuh keakraban antar para budayawan di Museum Panji Tumpang, Rabu (30/9/2026).
Mereka adalah maestro seni Ki Sholeh Adi Pramono, pengasuh Padepokan Mangundharma, Tumpang, owner Museum panji sekaligus pendiri Yayasan Inggil Dwi Cahyono, pegiat dan pendiri Pusat Konservasi Budaya Panji, Henri Nurcahyo, Lulut Edi Santoso, seorang mantan guru seni di SMAN 3 Malang yang dikenal sebagai kolektor dan perawat naskah serta buku kuno, serta penulis dan edukator di Museum Panji, Ratna Arya.
Ki Sholeh Adi Pramono mengungkapkan rasa kagum sekaligus terima kasih atas geliat gerakan Budaya Panji di Jawa Timur. Gerakan ini dinilai mengalami kebangkitan pesat layaknya “kebakaran jenggot” setelah Dr. Lydia Kieven memunculkan hasil penelitiannya mengenai tradisi dan relief Panji.

Dr. Lidya ‘Candra Kirana’ Kieven dengan buku Kaffee im Tempel: Ein Leben zwischen rheinischem Dorf und Java di Museum Panji Tumpang, Rabu (30/9/2026). (Nedi Putra AW)
“Penelitiannya diibaratkan sebagai pompa semangat yang membangkitkan kembali para pegiat dan pelaku seni lokal, yang sebelumnya sempat meredup. Semangat ini kemudian berlanjut melalui perhelatan Festival Panji ke-17 di Kediri hingga puncaknya saat peninggalan naskah Panji diakui secara resmi oleh UNESCO pada tahun 2017. Pengakuan tersebut membuat gaung Budaya Panji meluas ke seluruh Indonesia dan memberi dampak nyata yang terus dirasakan hingga kini,” urainya.
Dikatakan Ki Sholeh, dampak kebangkitan ini tidak hanya dirasakan di tingkat akademisi, tetapi juga merambah ke masyarakat akar rumput dan generasi muda. Salah satu contoh nyata terlihat dari upaya pelestarian di Kranggan yng berada di wilayah Kecamatan Pakisaji, dengan ditemukannya jejak Prasasti Kemuning. Prasasti tersebut dieksploitasi dan dihidupkan kembali untuk membangkitkan seni topeng dan menyusun lakon-lakon baru.
“Pengakuan dan pergerakan kolektif ini terbukti memberi nilai tambah serta semangat baru bagi pelestarian sejarah dan budaya lokal,” tegasnya
Senada dengan Ki Sholeh, Dwi Cahyono menilai, peran Lidya Kieven tanpa disadari telah membuat para pegiat Panji mejadi bersemangat kembali. Suasana pun semakin lepas ketika mereka secara spontan sepakat mengusulkan “pengukuhan” nama baru bagi wanita kelahiran Jerman 70 tahun lalu ini.
“Nigel Bullough, seorang budayawan kelahiran Inggris saja sudah punya nama Indonesia Hadi Sidomulyo. Nah, kapan Dr. Lydia Kieven mendapatkan nama khas Indonesianya?, ” tanya Dwi Cahyono yang kontan disambut gelak tawa yang hadir.
Akhirnya, ‘usulan’ dari para budayawan tersebut membuahkan hasil. Huruf “C” pada nama Lydia C. Kieven yang semula nama tengahnya yakni Christina, kini diartikan sebagai Lidya ‘Candra Kirana’ Kieven, melengkapi dedikasi dan kecintaannya pada kebudayaan Panji. Galuh Candra Kirana, atau Dewi Sekartaji merupakan tokoh putri utama dan kekasih dari Raden Panji Inu Kertapati dalam Kisah Panji.
Dalam suasana yang hangat dan penuh rasa haru, Dr. Lydia Kieven menyampaikan rasa terimanya atas julukan baru yang disematkan kepadanya.
“Pemberian nama Cabdra Kirana ini bukan sekadar julukan biasa, melainkan seperti sebuah sebuah kehormatan bagi saya,” ungkapnya.
Namun Dr. Lydia Kieven juga tidak menolak apabila ada yang tetap memanggilnya dengan nama Dewi Sekartaji.
Di sisi lain, ia tetap menekankan pentingnya pengembangan fungsi edukasi dan keterbukaan perspektif dalam melihat Budaya Panji. Menurutnya, edukasi warisan budaya tidak boleh hanya menyasar anak-anak sekolah, melainkan harus menjangkau masyarakat umum dengan cara-cara yang kreatif dan memancing minat.
“Mari kita ajak masyarakat untuk melihat Budaya Panji dari berbagai sudut pandang baru yang lebih luas. Interpretasi terhadap Panji bersifat terbuka dan tidak ada klaim tunggal. Panji tidak sekadar dipandang sebagai simbol cerita percintaan semata, melainkan memiliki beragam nilai, makna, serta kegunaan yang sangat relevan untuk terus digali dan dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat masa kini,” tandasnya.
Pertemuan santai tersebut sekaligus sebagai perkenalan panggung baru bernuansa patirtan di Museum Panji, yang sudah dapat digunakan untuk pertunjukan-pertunjukan seni seperti pada dua panggung yang sudah ada sebelumnya di museum tersebut. Bahkan dr. Lidya ‘Candra Kirana’ Kieven dan Ki Sholeh Adi Pramono menyempatkan membasuh muka mereka, merasakan kesegaran mata air mengalir tersebut.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW





















































