BACAMALANG.COM – Rentetan bencana kebakaran hutan dan lahan, banjir, hingga longsor yang melanda berbagai wilayah Indonesia mendapat sorotan dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Surabaya Komisariat FISIP Universitas Airlangga.
Ketua Umum HMI Komisariat FISIP Airlangga Umar menilai penanganan bencana masih lamban, mitigasi lemah, dan penanganan kerusakan lingkungan belum menjadi prioritas.
“Bencana tidak boleh dianggap biasa hanya karena terus berulang, negara harus hadir dan bertanggung jawab ketika rakyat kehilangan ruang hidupnya,” ujar Umar, Selasa (27/10/2026).
Ia mendorong pemerintah menetapkan karhutla sebagai bencana nasional agar penanganannya terpadu dan keselamatan rakyat terjamin, serta memastikan penanganan cepat dan berkeadilan bagi korban terdampak.
Selain itu, juga menekankan perlunya evaluasi total tata kelola lingkungan, penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran hutan dan perusakan lingkungan, serta pemulihan lingkungan dan kehidupan masyarakat terdampak secara menyeluruh.
Kerugian Ekonomi Karhutla Capai Rp167 Triliun
Kebakaran hutan dan lahan sepanjang 2026 akibat El Nino telah menghanguskan 1,35 juta hingga 1,92 juta hektare lahan. Data SiPongi Kementerian Kehutanan per Oktober 2026 mencatat sebaran terparah di Papua Selatan 173.197 hektare, disusul Kalimantan Barat 38.310 hektare, serta Riau, Sumatera Selatan, dan NTT.
Aparat telah menetapkan 72 hingga 223 tersangka individu dan menyelidiki belasan korporasi terkait pembukaan lahan dengan cara membakar.
Kerugian ekonomi nasional di sektor pertanian, kehutanan, dan logistik ditaksir Rp39,29 triliun hingga Rp167 triliun. Kabut asap juga memapar 1,78 juta warga di 7 provinsi dengan 113.336 kasus ISPA dan beban biaya kesehatan Rp9,75 triliun.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga




















































