SMAK Bhakti Luhur Genjot Budaya Literasi, Siswa Didorong Kembali Gemar Membaca dan Menulis - BACAMALANG.COM

Menu ✖

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

MALANG RAYA · 8 Nov 2026 11:07 WIB ·

SMAK Bhakti Luhur Genjot Budaya Literasi, Siswa Didorong Kembali Gemar Membaca dan Menulis


 SMAK Bhakti Luhur Malang menggelar pelatihan literasi dan pengembangan minat baca bagi siswa serta tenaga pendidik, Sabtu (7/11/2026). (ist) Perbesar

SMAK Bhakti Luhur Malang menggelar pelatihan literasi dan pengembangan minat baca bagi siswa serta tenaga pendidik, Sabtu (7/11/2026). (ist)

BACAMALANG.COM – Menguatkan budaya membaca di tengah derasnya arus teknologi digital menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan. Menjawab persoalan tersebut, SMAK Bhakti Luhur Malang menggelar pelatihan literasi dan pengembangan minat baca bagi siswa serta tenaga pendidik, Sabtu (7/11/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya sekolah untuk meningkatkan mutu akademik sekaligus membangun kembali kebiasaan membaca yang dinilai semakin tergerus oleh penggunaan gawai dan konsumsi konten digital.

Sebanyak 239 siswa dari sembilan rombongan belajar (rombel) bersama para guru mengikuti kegiatan yang dirancang untuk menumbuhkan kecintaan terhadap buku, memperluas wawasan, serta mengasah kemampuan berpikir kritis dan kreatif.

Kepala SMAK Bhakti Luhur Malang, Sr. Helena Gulo, ALMA, mengatakan penguatan literasi merupakan langkah penting untuk membangun semangat belajar sekaligus memperluas cakrawala berpikir peserta didik.

Menurutnya, perkembangan teknologi perlu disikapi secara bijak agar tidak membuat siswa maupun guru kehilangan kemampuan untuk berpikir mandiri. Ketergantungan pada gawai dan kecenderungan menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk menyelesaikan tugas menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian.

“ Kita harus bekerja keras di awal agar mereka kembali mencintai buku. Jangan sampai anak-anak dan para guru terlalu bergantung pada teknologi seperti artificial intelligence (AI) atau ChatGPT untuk menyelesaikan tugas,” ujar Sr. Helena.

Ia menegaskan, teknologi seharusnya menjadi sarana pendukung pembelajaran, bukan pengganti proses berpikir, menganalisis, dan memahami informasi.

“Jika AI yang membuat soal dan AI juga yang menjawab, kita hanya menjadi pemindah data saja,” tegasnya.

Sr. Helena berharap pelatihan tersebut mampu menumbuhkan kembali kesadaran siswa mengenai pentingnya membaca dan mengolah informasi sebelum menghasilkan sebuah karya.

Baginya, pendidikan tidak hanya berorientasi pada penyelesaian tugas, tetapi juga membentuk karakter, menanamkan nilai-nilai kehidupan, dan mengembangkan kemampuan berkarya secara mandiri.

“Manusia punya hati nurani. Setelah membaca dan memahami isi bacaan, kita bisa menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari serta mampu memproduksi karya tulis sendiri,” tuturnya.

Evaluasi Literasi Jadi Dasar Pelatihan

Ketua Panitia Peningkatan Mutu Akademik SMAK Bhakti Luhur Malang Tahun 2026, Martina Bano Fahik, M.Ag., menjelaskan bahwa pelatihan tersebut diselenggarakan setelah sekolah melakukan evaluasi terhadap kemampuan literasi peserta didik.

Berdasarkan evaluasi internal dan hasil penilaian Tes Kemampuan Akademik (TKA), kemampuan literasi siswa yang sebelumnya berada pada kategori menengah dilaporkan mengalami penurunan cukup signifikan.

Martina menilai kebiasaan menggunakan telepon seluler untuk mengakses media sosial dan menonton video menjadi salah satu faktor yang memengaruhi minat baca siswa.

“Anak-anak saat ini cenderung lebih tertarik pada perangkat HP, seperti menonton tayangan di YouTube dan TikTok, dibandingkan membaca buku,” katanya.

Dampaknya, menurut dia, terlihat dalam proses pembelajaran maupun saat siswa menghadapi ujian. Ketika menjumpai soal dengan stimulus berupa teks bacaan, sebagian siswa cenderung melewati teks tersebut dan langsung mencari pertanyaan yang harus dijawab.

Kondisi ini mendorong sekolah untuk memperkuat pembiasaan membaca melalui sejumlah program yang diterapkan secara rutin.

Salah satunya dengan mengatur jadwal kunjungan perpustakaan bagi setiap jenjang kelas. Sekolah juga membiasakan siswa melakukan renungan pribadi setiap pagi melalui kegiatan membaca Kitab Suci dan menuliskan refleksi harian.

Kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya melatih kelancaran membaca, tetapi juga membangun kemampuan memahami isi bacaan, menangkap pesan, serta menghubungkannya dengan pengalaman dan kehidupan sehari-hari.

Melalui seminar dan pelatihan yang menghadirkan dosen Universitas Katolik Widya Karya Malang, Dr. Agustinus Indradi, M.Pd., sekolah ingin memberikan pengalaman belajar yang lebih mendalam sekaligus membangkitkan motivasi siswa untuk kembali akrab dengan buku.

“Harapan kami ke depan, melalui kegiatan ini minat dan semangat baca siswa dapat kembali meningkat. Dengan porsi waktu membaca yang lebih banyak, pemahaman akademik anak-anak diharapkan menjadi jauh lebih baik dan nilai literasi sekolah dapat kembali stabil serta meningkat,” ungkap Martina.

Membaca dan Menulis Harus Dilatih

Dalam sesi motivasi literasi, Dr. Agustinus Indradi mengajak para siswa dan guru menjadikan membaca dan menulis sebagai kebiasaan yang berjalan beriringan.

Ia menjelaskan bahwa menulis bukan sekadar kegiatan menuangkan kata-kata di atas kertas. Melalui tulisan, seseorang dapat memperluas pengetahuan, membuka wawasan, membangun jejaring, serta menyampaikan gagasan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Menulis juga menjadi ruang bagi seseorang untuk mengembangkan kreativitas dan merasakan kepuasan ketika mampu menyelesaikan sebuah karya.

“Setiap penulis besar adalah pembaca yang luar biasa. Dengan menulis, kita otomatis membaca,” jelasnya.

Agustinus menyampaikan tiga prinsip dasar bagi siapa pun yang ingin mengembangkan kemampuan menulis, yakni memiliki kemampuan membaca, mampu menulis, serta konsisten memperbanyak aktivitas membaca dan menulis.

Ia mengibaratkan keterampilan menulis seperti belajar berenang. Seseorang tidak akan menjadi perenang hanya dengan mempelajari teori tanpa pernah mencoba langsung di dalam air.

Hal serupa berlaku dalam dunia kepenulisan. Pemahaman teori perlu diikuti latihan secara konsisten agar kemampuan menyusun gagasan, mengembangkan ide, dan menghasilkan tulisan semakin terasah.

Lebih dari sekadar keterampilan akademik, ia menilai tulisan yang kritis dan objektif dapat menjadi sarana untuk menyampaikan realitas, menghadirkan perspektif baru, serta memberikan kontribusi bagi kemajuan masyarakat dan bangsa.

Karena itu, Agustinus berharap para siswa SMAK Bhakti Luhur Malang tidak ragu untuk mulai menulis, mengembangkan gagasan, dan menghasilkan karya yang dapat dibanggakan oleh diri sendiri maupun lingkungan sekolah.

Terinspirasi Injil, Siswi Mulai Berani Menulis Pantun

Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung. Salah satunya ditunjukkan Ifa Kana, siswi kelas XI SMAK Bhakti Luhur Malang asal Jawa Tengah, yang mengaku mendapatkan pengalaman baru melalui pelatihan tersebut.

Ifa merasa senang karena berkesempatan mempraktikkan langsung materi kepenulisan, termasuk mencoba membuat pantun secara mandiri.

Menariknya, pantun yang dibuat Ifa terinspirasi dari bait-bait Injil. Meski baru pertama kali memperoleh materi dan bimbingan khusus mengenai penulisan pantun, ia berani mencoba menuangkan gagasannya ke dalam bentuk karya.

Ia menyadari tulisannya masih membutuhkan banyak perbaikan. Namun, pengalaman tersebut justru mendorongnya untuk terus belajar dan mencoba mengembangkan kemampuan menulis.

Pengalaman Ifa menjadi salah satu gambaran bahwa pembelajaran literasi dapat membuka ruang bagi siswa untuk bereksplorasi, menyampaikan ide, dan mengembangkan kreativitas.

SMAK Bhakti Luhur Malang berharap pelatihan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, melainkan menjadi awal dari pembentukan budaya membaca dan menulis yang berkelanjutan di lingkungan sekolah.

Dengan kebiasaan literasi yang semakin kuat, siswa diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan prestasi akademik, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, mandiri, dan berkarakter dalam menghadapi perkembangan zaman.

Pewarta/Editor: Rahmat Mashudi Prayoga

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Tanam 100 Pohon di Bantaran Brantas, Kapolresta Malang Kota Perkuat Mitigasi Bencana

8 November 2026 - 10:05 WIB

Polisi Bekuk Satu Terduga Curanmor, Tiga Rekannya Masuk DPO

8 November 2026 - 05:34 WIB

Honda Vario 125 Milik Mahasiswa Pakisaji Hilang di Kos Sumbersari, Korban Sebar Informasi Pencarian

7 November 2026 - 19:22 WIB

Cegah Kecelakaan Sejak Dini, Satlantas Polresta Malang Kota Bekali Siswa SMPN 22 Edukasi Bahaya Narkoba dan Balap Liar

7 November 2026 - 13:13 WIB

Mediasi Kasus Limbah Biogas Jianto, Kuasa Hukum Pelapor Tegaskan Proses Hukum Tetap Berlanjut

6 November 2026 - 22:02 WIB

Siaga Hadapi Banjir hingga Longsor, Polresta Malang Kota Libatkan 357 Personel Gabungan

6 November 2026 - 21:25 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !