Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

OPINI · 30 Jul 2022 12:05 WIB ·

Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti


 Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti Perbesar

Oleh: Dr Riyanto*

Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti

Menurut Prof. Ario Santos, Jawa, Javana artinya mengangkasa.
Budaya Jawa, bebasan manuk Garuda ngekablak ngubengi jagat. Bagai burung Garuda mengembangkan sayap, mengitari dunia.

Dalam pemahaman itu, orang Jawa, bisa jadi bukan pengemban nilai budaya Jawa. Mereka kebetulan lahir dan nunut hidup di pulau Jawa.

Yuok Gwin Tong, Cwie Lan Theng, benar benar orang Jawa, njawani.
Sastro, jian blas ora Jawa. Sastro benar benar bukan Jawa.

Meskipun Cwie Lan Theng lahir di China, Sastro lahir di Yogjakarto, bisa jadi Cwie Lan Theng lebih Jawa dari pada Sastro.
Juga panjenenganipun Habib Lutfi Pekalongan.

Dalam masalah agama, budaya Jawa mampu merengkuh semua agama. Di sela sela baju agama, kalau diintip, di dalamnya ada budaya Jawa.

Bahkan Sultan Agung Hanyakrakusumo, menyambut agama Islam dengan rengkuhan, “tempuking syara’ lan ngelmu. Bertemunya syari’ah Islam dengan Kapitayan Jawa.

Mengapa bulan Muharam di tempukkan dengan bulan Suro ?

Orang Jawa itu, “sinamun ing samudana/ dibungkus kesamaran, sesadone adu manis/ semua masalah dihadapi dengan wajah manis.

Kita mulai dari bulan “Rejeb, renyep, menanam. Waktunya manusia menanam kebaikan.
“Ruwah, arwah, ruh. Mengarahkan jiwa-jiwa pada tiupan Allah yang disebut ruh. Hanya kebersamaan dengan ruh, manusia mampu menghadap Tuhan-nya.
WUjudnya ketentraman rasa, pasa.

“Syawal, meningkat naik. Semakin kuat kepatuhan pada perintah Tuhan.
Wujud Syawal, kehidupan manusia mulai longgar, “sela. Tidak ada kekhawatiran dan rasa benci pada sesama.

Rejeb, Ruwah, Pasa, Syawal, Sela, dan berakhir pada “Besar.
Dalam penanggalah Hijriyah disebut “Dzulhijah, artinya kondisi hajji atau raja. Disini manusia disempurnakan oleh Allah, dan dipanggil keharibaan-Nya; Labbaik Allahhumma labbaik – Kula dateng minangkani dawuh Panjenengan ya Allah …….

Suro itu syukur.
Kesaktian, kehebatan, dan kejayaan dunia, sudah melebur dalam ruh jiwa-jiwa yang tenang/
Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti

Bagaimana ritual wujud syukur ?
Apa makna dibalik bubur putih, kuning. Juga lombok merah, cambah, tomat, dan ingkung ?
Juga apa makna Suroboyo …..
🇲🇨

*Dr Riyanto Budayawan dan Akademisi Universitas Brawijaya Malang
*Isi tulisan menjadi tanggung jawab sepenuhnya penulis.

Artikel ini telah dibaca 70 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Peran Mindful Eating dalam Menjaga Kesehatan Mental

23 Juni 2026 - 19:47 WIB

Metri Topeng dari Sailendra

18 Juni 2026 - 14:10 WIB

Tahun Baru Hijriah: Saatnya Berhenti Mengeluh dan Mulai Berbenah

18 Juni 2026 - 05:48 WIB

Hari Lahir Pancasila: Merawat Gagasan Besar di Tengah Bangsa yang Terus Berubah

1 Juni 2026 - 20:09 WIB

1 Juni: Pancasila dan Tugas Sejarah Kaum Muda Mengawal Republik

1 Juni 2026 - 17:39 WIB

Dua Puluh Satu Mei Reformasi: Ketika Semangat Pemuda Kabupaten Malang Diuji oleh Zaman

22 Mei 2026 - 11:19 WIB

Trending di OPINI

©Hak Cipta Dilindungi !