Oleh : Pietra Widiadi*
Beberapa pekan belakangan ini, para warganet dan penikmat media sosial dan media konvensional, baik tulis dan tayang dihebohkan oleh langkah dan polah dari anak-anak belasan tahun (teenager) kaum pinggiran Jakarta.
Mereka membuat ramai Kawasan SCBD (Sudirman, Citayan, Bogor dan Depok), yaitu jalur KRL dari pinggiran Jakarta menuju Pusat bisnis Jakarta, di Sudirman. Dengan bekal Rp 3.500 dari daerah pinggaran dengan KRL mereka sampai di tengah Kota.
Mereka mangkal dan beradu gaya menunjukkan keberadaan mereka. SCBD merupakan plesetan dari Sudirman Central Bussines District (pusat bisnis di Jalan Sudirman Jakarta).
Dukuh Atas tepatnya, yaitu ujung dari Jalan utama Jakarta, yaitu Jalan Thamrin menuju arah Senayan melalui Jalan Sudirman. Bahwa perjalanan yang ditempuh hampir 1 jam dari asal mereka bukanlah sebuah halangan.
Langkah menuju pada kebanggaan, bahwa mereka menaklukkan Jakarta dengan menguasai Dukuh Atas, di mana Kawasan mahal dekat dengan Stasiun KRL Dukuh atas.
Dengan cara yang dianggap memberontak ini, mereka menawarkan keramaian yang murah dan bisa dicapai tanpa harus masuk ke Mall atau Plaza yang mahal dan berkesan sangat mahal, seperti Kawasan di sebelahnya, di Bundaran HI.
Ini seperti ujung awal menuju pada pertunjukan kreasi para remaja yang menunjukkan eksistensi diri. Bahwa kemudian ini menjadi sebuah ledakan dahsyat pertunjukan jalanan, tak lepas dari gosip dan pembicaraan di media sosial dan tak terkecuali media masa.
Sebenarnya hal ini, pernah juga muncul sebuah gejala sosial yang sama, dengan pertunjukan dalam fenomena pergolakan kaum muda pinggiran yang kemudian meledak.
Misalnya meledaknya film Ali Topan anak jalanan yang bertampang dekil sok urakan dengan motor trailnya, pada akhir tahun 70an atau pada saat meletusnya tari patah-patah (break-dance) pada era muda, bintang Holywood John Travlota dan Olivia Newton John, era tahun 80an. Di Indonesia, tidak kalah kerennya, juga meletus ulah imitasi kaum muda lewat film “Mas Boy, Catatan si Boy” dengan bintang filmnya Ongky Alexander dan Meriam Bellina dan Didi Petet yang geboy, menjadi peran bencong.
Pertunjukan yang menghebohkan. Di awali sebuah tontonan film remaja pada waktu itu. Ini tentu sangat beda dengan gebyarnya tari patah-patah imbas dari kreasi para remaja dan pemuda di Bronx, New York, Amerika.
Meskipun kemudian ulah para remaja (teenager) di Dukuh Atas disamakan dengan cara berkreasi remaja Jepang dengan Harajuku, atau dikenal dengan Harajuku Style, sebagai subkultur remaja dan pemuda di Jepang.
Tapi kalua ditelisik lebih dalam, kreasi remaja SCBD ini, adalah genuine, asli peragaan kreasi anak negeri di negara Tropis, Indonesia. Kesesakan di rumah karena tinggal di Kawasan pinggiran yang merupakan keluarga pada pelaju ke Pusat Kota Jakarta.
Setelah kesebalan memuncak oleh pandemi yang nyaris tak berujung, melahirkan kelompok kreatif yang mampu mendobrak kemapanan kelas menengah-atas ekonomi Jakarta yang menghegemoni.
Sampai-sampai pejabat, para pesohor dan Presiden memberikan apresiasi atas karya jalanan itu. Tak penting seberapa murahnya sandang yang dikenakan, yang penting keberanian dan kreasi mendobrak kemapanan akan jati diri kaum muda menjadi sebuah penanda.
Sebuah karya yang benar-benar membanggakan. Awalnya pro-kontra yang muncul, sampai dipikirkan dialihkan lokasinya, supaya lebih mapan. Padahal kreasi itu, meletakkan dasar tentang kemurahan, keterjangkauan dan kemampuan, keluarga anak-anak itu.
Ide memindahkan ke Sarinah oleh Erick Tohir, menarik tetapi jelas tidak memahami kemandirian dan pendobrakan kelas bawah, dengan dasar murah dan meriah.
Panggung itu akan dibajak oleh sebuah kemapanan elan kapitalis. Bahkan ide besar ini akan “dibajak” yang seolah ingin melindungi dengan soal hak cipta, atau bahkan diancam akan ditutup kalua mengganggu keamanan dan berlalu-lintas.
Seolah mau dibantu, seolah mau diamankan karena tidak aman dan tidak mampu. Kemudian juga cap, seolah-olah sebagai sebuah cara mau naik kelas, maka diberi lebel Citayam Fashion Week.
Tapi jelas bahwa kreasi itu adalah mandiri dan murah-meriah. Lalu, pontang-panting, kaum mapan dari kota-kota satelit Jakarta juga mencoba mengimitasi, seperti di Surabaya, Bandung dan bahkan kota pinggiran sekaliber Malang, juga didera demam fashion week.
Dengan nama fashion week maka kemudian seolah menutupi kreasi dan pendobrakan kaum pinggiran yang ingin menunjukkan eksistensinya. Hal ini juga pernah terjadi demam dangdut yang diperagakan oleh Ratu Ngebor, Inul Daratista, penyanyi dangdut pinggiran Sidoarjo, yang mampu menantang sang Maestro dangdut Rhoma Irama.
Dari sini, maka dapat dilihat bahwa hegemoni, cara menguasai pola dan polah perilaku golongan tertentu ditetapkan oleh sebuah entitas pemilik modal. Ini merujuk pada, pemikiran Antonio Gramci, pada awal perkembangannya teori post-modern.
Jadi kreasi ini, berkembang dengan gaya karena ada hegemoni yang didobrak, oleh kalangan pinggiran dengan bergaya apa adanya. Hanya bersolek, bergerombol, jalan sana-sini memutar Dukuh Atas, lalu diimitasi oleh kaum pemuda dari kota-kota satelit Jakarta, menjadi tidak genuin lain.
Artinya, kaum pinggiran yang di luar Jakarta, dihegemoni gaya dan laku anak-anak pinggiran Kota Jakarta.
Katakanlah di Malang yang kemudian muncul, Kayutangan Fashion Week, yang akhir-akir jalan utama Malang itu diramaikan imitasi dari Kota Yogyakarta.
Meski nampaknya tidak penting bagi mereka yang lagi mabuk swafoto di area yang dianggap layak. Hanya jalan yang dihiasi lampu dan tempat duduk tapi tidak dikembangkan dengan regulasi yang bisa menampung wadah kreatifitas. Ini jadi pihak Pemerintah, mendorong adanya kemacetan dan menghambat lalu-lalang, lalu – lintas. Jelas ini beda jauh dengan Dukuh Atas dari SCBD.
*Pietra Widiadi (Founder Pendopo Kembangkopi Wagir, Petani dan Sosiolog)
*Isi tulisan menjadi tanggung jawab sepenuhnya penulis.






















































