Oleh : Dr Riyanto*
Terungkap mafia di tubuh Polri. Ferdy Sambo dan kelompoknya, masih menebar ancaman. Bahkan Kapolri tampak tidak berdaya.
Kanker sudah menyebar. Tidak hanya Polri. Pemerintahan, kejaksaan, BUMN, front gerombolan liar. Bahkan kemungkinan di dalam Istana.
“Sambil melirik Pangab Beni Moerdani dan Pangkopkamtib Sudomo, Pak Harto memuji Komandan Kodim tentang pembunuhan gali (gabungan anak liar) di Yogyakarta.
Ekspresi Pak Harto, dipahami sebagai perintah.
Beberapa waktu kemudian, petrus skala nasional, gali bergelimpangan.
Code of silence, amanat senyap.
Baju yang saya pakai ini dari Bangka Belitung.
Motif pucuk rebung. Yang melambangkan kerukunan. Warna hijau melambangkan kesejukan.
Jangan lagi ada politik identitas. Jangan ada lagi politisasi agama. Jangan ada lagi polarisasi sosial.
Code of silence, amanat senyap.
Presiden yang dikatakan plonga – plongo, bebek lumpuh, sedang “ngamuk”.
Kasus Ferdy Sambo, tidak komentar.
Jihad fisabilillah, menentang pemerintah, juga tidak komentar.
Akhir sambutan, lantang:
Dirgahayu Republik Indonesia.
Dirgahayu Pancasila.
Arwah Brigadir Yosua tersenyum. Tugas ketuhanan telah diselesaikan.
Seraya melayang, “aku akan bersama Bapa di Surga …..
??
Dirgahayu Republik Indonesia
*Nesu tanpa kanepson, ngguyu tanpa nggeguyu, ora amung anut ilining banyu.
*Dr Riyanto Budayawan dan Akademisi Universitas Brawijaya
*)Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.






















































