Oleh: Dr. Riyanto M.Hum*
Pembicara dari Amerika, menampilkan vedio Albert Alnord Gore, wakil presiden jaman Bill Clinton. Gambar gunung Es kutub utara runtuh mencair berantakan.
Dari Benua Eropa, kekhawatiran reaktor nuklir dan limbah pabrik-pabrik industri.
Jepang menyiapkan ikan – ikan kecil, ke depan untuk mendeteksi polusi air.
Global warming/ climate change menjadi pembicaraan seru di Temple University, Tokyo pada waktu itu. Narasumber dari berbagai negara mendiskusikan dengan serius. Meskipun sampai hari ini hasilnya nihil tak terurus.
Dunia sedang menghadapi iklim yang tidak menguntungkan. Sengatan matahari merusak kulit dan lingkungan. Polusi dan ketinggian air akan tidak terkendali.
Giliran Indonesia, ruangan menjadi ramai.
Saya katakan, “Indonesia tidak pernah khawatir. Meskipun es mencair, kotornya udara dan polusi air …..”
Peserta seminar tampak menebak-nebak. Mengapa dari Indonesia cara berfikirnya aneh berbeda.
Tidak ada dalam bahasan sebelumnya.
Saya teruskan dengan mengutip preambule Undang – Undang Dasar “45. Negara saya itu merdeka “atas berkat rahmat Allah Tuhan Yang Maha Kuasa, …..
Baru tahu mereka. Indonesia tidak hanya berfikir matematis, juga mengikutsertakan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Konon, global warming/ climate change, tidak bisa dibendung. Terjadi karena efek gas rumah kaca.
Konsentrasi berbagai kegiatan manusia seperti emisi bahan bakar fosil, perubahan fungsi lahan, limbah dan kegiatan-kegiatan industri.
Diantara kesimpulan; “Dua puluh tahun sejak itu (2012), dengan mencairnya Gunung Gunung Es Kutub, kota – kota pantai akan tenggelam.
Tidak menutup kemungkinan, pasti Ibu Kota Jakarta.
Konteks Wawasan Nusantara.
Faktor keamanan tentu telah diperhitungkan. Jangkauan pesawat tempur, Lapangan udara utama, kekuatan laut dikedepankan. Kapal selam yang hanya lima, pasti belum bisa menutup pintu – pintu yang terbuka. Harus kerja keras peningkatan sistim alutsista.
Konteks Wawasan Kebangsaan.
Telah dan harus terjadi penggusuran nilai budaya.
Serangkaian konsep dalam pikiran masyarakat, yang selama ini dijadikan arah dalam kehidupan.
Gencarkan kembali manusia Pancasila sebagai Ideologi berbangsa.
Nasionalisme etnisitas, kobarkan menjadi Nasionalisme Kebangsaan.
Dan jangan lupa merdi (cerdas), dika (kejujuran). Rencanakan dengan cerdas, didasarkan nilai kejujuran. “Merdi-dika, merdika, merdeka !!!
Bu Riyanto khawatir, meninggalkan rumah kecil di gang sempit milik orang tua.
Menjelang sore bertegur sapa. Terang bulan, nyanyi bersama.
Sekarang juga selalu tersenyum. Kekhawatiran telah sirna. Tidak sampai setahun, terbentuk kelompok baru. Bertegur sapa, nyanyi bersama.
Jaman jangan ditentang. Jakarta akan tenggelam. Budaya di tempat baru ada penggusuran.
Kerjakan dengan cerdas dasar kejujuran.
Dan yang tidak kalah penting. Disana pasti bisa bertegur sapa, nyanyi bersama.
Memang awalnya berat meninggalkan suara Kutilang yang dulu pernah ada.
?? Dirgahayu Republik Indonesia.
Yang abadi itu perubahan, jangan kau tentang …..
*) Dr Riyanto M. Hum, Budayawan dan Akademisi Universitas Brawijaya
*) Isi tulisan menjadi tanggung jawab sepenuhnya penulis.






















































