BACAMALANG.COM – Laman siagapmk.crisis-center.id, telah merilis update jumlah total capaian vaksinasi ternak dari wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Diketahui wabah pada hewan ternak telah menyebar ke 24 provinsi dan 292 kabupaten atau kota di Indonesia meningkat dari pekan sebelumnya 290 kabupaten atau kota.
Total kasus PMK kumulatif di Indonesia 509.804 ekor ternak. Jumlah sembuh 350.426 ekor, dipotong bersyarat 11.107 ekor, mati akibat PMK 7.022 ekor, dan belum sembuh 141.249 ekor.
Namun 7 dari 24 provinsi tersebut sudah tidak memiliki kasus aktif PMK, meliputi Kepulauan Riau (Kepri), Kalimantan Selatan (Kalsel), Bali, Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta, Sumatera Selatan (Sumsel), Kalimantan Barat (Kalbar), dan Kalimantan Tengah (Kalteng). Jumlah ini meningkat dari pekan sebelumnya, yaitu 6 provinsi.
Kemudian, sebanyak 90 dari 292 kabupaten atau kota sudah tidak memiliki kasus aktif PMK. Sementara jumlah ternak yang telah divaksinasi mencapai 1.709.705 ekor.
Lima provinsi yang melaporkan kasus PMK tertinggi yaitu Jawa Timur 179.857 kasus, Nusa Tenggara Barat 96.900 kasus, Jawa Barat 60.141 kasus, Aceh 45.637 kasus, dan Jawa Tengah 41.765 kasus.
Kelima provinsi itu sudah menggelar vaksinasi PMK, rinciannya yaitu Jatim 720.427 ekor, NTB 100.688 ekor, Jabar 149.073 ekor, Aceh 28.583 ekor, dan Jateng 171.095 ekor.
Hewan ternak yang terkena wabah PMK yaitu sapi potong 412.093 ekor, sapi perah 71.790 ekor, kerbau 19.968 ekor, kambing 4.042 ekor, domba 1.823 ekor, dan babi 88 ekor.
Sementara itu, Ketua Satuan Tugas Penanganan PMK Letjen TNI Suharyanto S.Sos., M.M, memberikan penjelasan atas kenaikan kasus di NTB (Sumbawa) diduga terjadi akibat dari lalu-lintas truk logistik lintas pulau dan lintas provinsi dipicu jalur truk logistik sangat berpotensi menularkan virus PMK antar wilayah. Kenaikan kasus PMK seperti yang terjadi di Sumbawa dibawa oleh truk dari Jawa yang kemudian menyeberang ke Bali, Lombok hingga akhirnya sampai Sumbawa.
“Sebagai contoh, Sumbawa ini diduga kuat tertular dari jalur logistik truk yang berasal dari Jawa Timur menyeberang ke Bali kemudian ke Lombok hingga akhirnya ke Sumbawa,” jelas Suharyanto.
Dikatakannya hal itu sudah semestinya menjadi perhatian bagi para pemangku kebijakan di wilayah NTB untuk lebih memperketat implementasi regulasi lalu-lintas di setiap pintu masuk dengan lebih mengoptimalkan bio security mulai dari lingkup terkecil. Lemahnya pelaksanaan bio security akan menjadi ancaman nyata bagi wilayah sebelahnya, yakni NTT. “Jika bio security kurang baik, maka tinggal menunggu waktu saja NTT menjadi zona merah PMK karena tertular daerah sekitarnya, terutama dari Sumbawa,” ungkapnya.
Selain bio security, Suharyanto juga menekankan strategi lain dalam menekan angka kasus PMK, yakni potong bersyarat, pengobatan dan vaksinasi yang diharapkan tidak menulari hewan ternak yang lain.
Selanjutnya, mengobati hewan ternak yang terinfeksi virus PMK dilaksanakan dengan baik dan tepat waktu. Selain pengobatan, pemberian vaksinasi pada hewan ternak juga sangat penting untuk dilakukan, khususnya bagi ternak yang sehat di dalam zona merah.(*/had)



























































