BACAMALANG.COM – Menjelang Dies Natalis XVI, Universitas Ma Chung Malang memperkenalkan sejumlah program unggulannya. Universitas yang berlokasi di Villa Puncak Tidar N-01 Malang ini akan membuka program studi (prodi) Optometri.
Wakil Rektor III Ma Chung yang juga rektor terpilih periode 2023-2027 Dr Ir Stefanus Yufra M Taneo, dalam media gathering di Labore Coffee Eatery Malang mengungkapkan, optometri ini sebelumnya dikenal dengan nomenklatur RO atau Refraksionis Optisien.
“Optometri sendiri merupakan profesi perawatan kesehatan yang melibatkan pemeriksaan mata dan sistem visual yang berlaku untuk cacat atau kelainan serta diagnosis medis dan manajemen penyakit mata lainnya,” jelasnya, Rabu (3/5/2023) malam.
Stefanus Yufra menambahkan, prodi baru tersebut dibentuk berdasarkan kepedulian terhadap kesehatan mata masyarakat, mengingat saat ini kehidupan sehari-hari tak lepas dari penggunaan gawai dan akses terhadap media elektronik.
“Lewat prodi Optometri ini kami ingin berkontribusi dengan menyiapkan tenaga-tenaga optician baik itu di Malang Raya, bahkan Jawa Timur dan seluruh Indonesia. Peraturan yang ada mengharuskan hanya optik yang punya tenaga optician yang bisa menerima BPJS,” jelas Yufra.
Dalam prosesnya selama 4 tahun terakhir, Yufra mengaku menemui sejumlah kendala, salah satunya mencari dosen pengajar.
“Di Indonesia untuk Optometri baru ada jenjang D3 dan D4, padahal dosen syaratnya harus S2,” tukas pria yang berasal dari NTT ini.
Namun pihak Ma Chung, imbuhnya, terus berupaya keras agar prodi ini terbentuk, karena Optometri ini bukan hanya menyediakan kacamata saja, namun juga ke informasi dan edukasi kesehatan seputar penglihatan dan cara menjaga kesehatan mata.
“Nanti akan ada kolaborasi dengan berbagai bidang maupun disiplin ilmu, seperti fisika, ilmu gizi, maupun dokter mata. Karena selain di bidang akademik, Optometri akan berkembang luas di bidang industri,” tegasnya.
Optometri di Universitas Ma Chung ini akan menjadi prodi pertama yang didirikan di Malang dan prodi ke 13 di Indonesia.
Sementara itu, Dwi Andriyanti Agustin dari Badan Pengelola Usaha Universitas (BPPU) Universitas MA Chung menjelaskan sejumlah unit kerja yang mengelola dan mengembangkan unit-unit usaha Universitas dalam upaya untuk mengoptimalkan perolehan sumber-sumber pendanaan alternatif serta pendapatan alternatif yang mendorong terciptanya kemandirian finansial Universitas.
“Kami dari BPUU telah memiliki sejumlah unit kerja, mulai yang terkait training dan sertifikasi hingga venue dan event organizer,” imbuhnya.
Namun salah satu yang unik adalah belajar bahasa Mandarin di Kampung Mandarin, sebuah Kampung yang menyediakan kelas kursus Bahasa Mandarin di Desa Tumpuk, Kabupaten Tulungagung.
“Kampung ini diinisiasi pertamakali oleh Prof. Murpin Josua Sembiring pada tahun 2021, dan telah mendapatkan dukungan penuh dari warga Dusun Tumpuk dan Pemerintah Kabupaten Tulungagung,” ungkapnya.
Dwi Andriyanti Agustin menuturkan, 60 persen warga Tumpuk adalah eks Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari Hongkong dan Taiwan. Konsep yang ditawarkan nantinya adalah belajar di kelas dan tinggal di rumah warga.
Bahasa Mandarin dalam dunia akademik maupun bisnis cukup penting untuk dipelajari dan dikuasai, mengingat saat ini merupakan bahasa yang paling banyak digunakan nomor dua di dunia.
“Dengan konsep belajar bahasa seperti ini, diharapkan akan ada efek berganda, yakni menambah pengetahuan bahasa Mandarin dan menggerakkan perekonomian warga di Desa Tumpuk,” tandasnya.
Rangkaian Dies Natalis XVI ini terdiri dari sejumlah kegiatan yang akan dimulai pada bulan Juli 2023 mendatang, yang meliputi acara seremonial, Pelantikan Rektor periode 2023-2027, Entreprenurship Bootcamp serta Open House.
Pewarta : Nedi Putra AW
Editor/Publisher : Aan Imam Marzuki




















































