BACAMALANG.COM – Dalam menyambut Harlah Ansor ke-90 PC GP Ansor Kabupaten Malang berencana mengadakan Apel Panji 10.000 kader Ansor-Banser dengan tema “Berkibar Tinggi Panji Gerakan Mengawal Kemenangan Indonesia” pada tanggal 25 – 26 Mei 2024 di pesisir pantai Balekambang.
Dan dalam rangkaian acara itu juga ada Festival 1.000 Bantengan yang sempat menuai pro dan kontra.
Berikut Wawancara BacaMalang.com Bersama H. Fatkhurrozi, MM, Ketua PC GP Ansor Kabupaten Malang.
Momentum Harlah GP Ansor Kali ini mengambil tema Berkibar Tinggi Panji Gerakan Mengawal Kemenangan Indonesia. Pesan apa kira-kira yang ingin disampaikan sahabat-sahabat Ansor kepada masyarakat baik Malang Raya ataupun Indonesia?
Jawab : Sesuai dengan arahan Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (PP GP Ansor) yang telah meluncurkan logo Harlah Ke-90 dengan simbol orang yang saling bersalaman dan merangkul. PC GP Ansor Kabupaten Malang akan merangkul semua pihak baik internal maupun eksternal NU untuk kemaslahatan bersama.

Ketua PC GP Ansor Kabupaten Malang, H. Fatkhurrozi, MM.(ist)
Momentum Harlah kali ini setidaknya menjadi tolok ukur soliditas dan kekuatan ideologis kader sekaligus menjadi barometer kematangan Ansor secara organisatoris. Bagaimana tanggapan anda terkait umur Ansor yang sudah 90 tahun?
Jawab : Betul, di usianya yang tidak muda lagi ini, kader Ansor harus semakin matang dalam ideologi dan juga matang dalam berorganisasi. Sesuai dengan nilai-nilai dalam warna logo Harlah Ansor yang ke-90 ini yaitu: Kolaborasi, Persatuan, Kepedulian, Gotong Royong dan Soliditas.
Dalam flyer yang beredar rangkaian apel ini akan dilaksanakan dua hari dan ada acara Festival Bantengan, mengapa harus ada Bantengan?
Jawab : Begini, Hiburan Bantengan saat ini yang sedang booming di masyarakat, satu sisi juga menimbulkan keresahan karena adanya pergeseran nilai seni dalam Bantengan. Kemudian kami mencoba mempelajari asal mula kesenian Bantengan yang ternyata terkandung nilai luhur sebagai aset budaya nusantara. Di satu sisi, berbagai pihak resah dengan adanya tambahan-tambahan yang tidak sesuai dengan norma, bahkan keresahan itu juga dirasakan oleh kalangan komunitas pegiat Bantengan itu sendiri. Oleh karenanya, kita mencoba untuk merangkul mereka dan memberi wadah untuk menampilkan kesenian Bantengan yang sesuai dengan pakemnya melalui Festival ini.
Apakah ada rujukan atau dasar untuk Anda memasukkan kegiatan ini dalam momen Apel Harlah Ansor kali ini?
Jawab : Tentu, kami tidak sendirian dalam memutuskan, kami sudah diskusikan dengan LBM NU, Lesbumi dan Pagar Nusa. Dari eksternal kami juga telah diskusi banyak dengan Dewan Kesenian dan Tokoh Bantengan.
Anda yakin acara akan berjalan dengan tidak melanggar nilai-nilai atau norma?
Jawab : Insha Allah, mohon doanya.
Kira-kira seperti apa gambaran kegiatannya, sehingga Anda yakin bahwa acara tersebut tidak melanggar nilai-nilai atau norma?
Jawab : Kita awali kegiatan dengan tawassul, kemudian kita istighotsah, lalu yang pertama kali kita tampilkan adalah pencak silat Pagar Nusa. Baru kemudian penampilan grup Bantengan. Dalam penampilan grup bantengan ada aturan-aturan yang harus ditaati, yang aturan tersebut merujuk pada bagaimana pakemnya bantengan, dilarang menampilkan seksi dancer, dilarang saweran, dilarang kalap, kalau kalap maka akan didiskualifikasi. Jadi kita akan dakwahkan Pagar Nusa dan di sisi lain kita akan memberikan wadah untuk menunjukkan bahwa Bantengan tanpa seksi dancer, tanpa saweran, tanpa kalapan itu bagus.
Apakah tidak ada kekhawatiran bahwa pasca gelaran Festival Bantengan ini akan menjadi Justifikasi atau pembenaran bagi masyarakat bahwa Bantengan no problem?
Jawab : Misal ada pertanyaan balik, apakah jika Ansor tidak mengadakan festival ini kemudian fenomena Bantengan di masyarakat akan reda? Ini sudah fenomena, sudah booming, sudah terlambat jika berbicara preventiv. Kita hanya ikhtiar masuk pada mereka dan mencoba mengajak untuk mengembalikan Bantengan pada pakemnya, yang tidak disertai seksi dancer, saweran, dll. Murni kesenian. Acara Ansor ini setahun lebih setelah acara 1 Abad NU di Sidoarjo, dalam jangka waktu pasca acara di Sidoarjo dan acara Ansor tgl 25-26 nanti, fenomena Bantengan sudah sangat booming, lalu apa kita akan menyebut bahwa mereka dapat legitimasi dari PBNU yang saat acara 1 abad juga ada acara bantengan? Kan ya nggak gitu. Bahkan, jika acara Ansor akan dijadikan legitimasi, justru bagus, asalkan sesuai yang ditampilkan di festival ini, yang tanpa kalap, tanpa seksi dancer, tanpa saweran.
Apakah Anda sudah bertemu dengan para peserta bantengan atau dengan perwakilan komunitas bantengan dan bagaimana tanggapan mereka?
Jawab : Sudah, saat Technical Meeting, Minggu 19-05-2024, yang juga dihadiri oleh Lesbumi, Dewan Kesenia, Pak Takim selaku tokoh Bantengan Malang. Dan Alhamdulillah, respon mereka baik dan sangat berterima kasih kepada GP Ansor yang telah mengadakan acara ini, sehingga unek-unek mereka bisa tersampaikan dan merasa tidak sendirian dalam upaya mengembalikan marwah kesenian Bantengan ini. Saat itu juga mereka menyampaikan penolakan adanya seksi dancer pada acara Bantengan dan sekarang mereka masing-masing membuat video penolakan.
Ini heboh lho di media sosial, banyak pro dan kontra, bahkan Anda selaku Ketua PC juga diserang. Bagaimana Anda menyikapi dengan adanya kontroversi di media sosial, serta pro dan kontra ini.
Jawab : ada beberapa hal yang bisa saya tangkap (1) berarti memang ada yang kurang pada diri saya pribadi atau kepengurusan ini, sehingga Allah menggerakkan mereka untuk menegur. (2) mungkin mereka belum paham detail terkait kegiatan yang akan dilaksanakan, mungkin dalam bayangannya grup Bantengan bawa sound sendiri, bawa seksi dancer seperti yang saat ini sering tampil di masyarakat, kalau mereka paham dengan detail acara serta maksud dan tujuan, Insya Allah bisa diterima. (3) karena mereka cinta pada Ansor, sayang pada Ansor, sehingga saking cintanya dan saking sayangnya mereka khawatir Ansor jika kemudian nama Ansor akan menjadi tercoreng. Dan kami sangat memahami itu.
Dengan acara Apel ini, Anda tidak khawatir jika dianggap bahwa acara ini adalah untuk kepentingan tertentu?, mengingat acara ini disupport juga oleh pihak pemerintah. Kalau kita mau jujur, kan ada pihak-pihak yang tidak sepakat dengan kedekatan Ansor atau NU secara umum dengan pemerintah.
Jawab : Relatif, dan dugaan itu sangat wajar mengingat ini menjelang Pilkada. Akan tetapi bersinergi dan berkolaborasi dengan semua pihak, termasuk pemerintah, ini adalah arahan dari Pimpinan Pusat GP Ansor dan bahkan juga dari PBNU, kami akan taati dan ikhtiar untuk melaksanakan.
Sudah mengarah pada politik berarti. Kalau boleh tahu bagaimana pandangan Anda tentang politik dan dalam menentukan pilihan?
Jawab : Tashorruful imami ‘ala al-ro’iyati manuutun bilmaslahah
Baik, Lalu sejauh mana koordinasi panitia dan PC baik internal maupun pihak eksternal demi kesuksesan acara ini dan Perseta benar-benar mencapai 10 ribu kader?
Jawab : Alhamdulillah, sekitar 80-90%. Koordinasi internal dengan PAC-PAC berjalan dengan baik, mohon doanya.
Terakhir pesan apa yang mau disampaikan atas nama penanggung jawab kegiatan. Baik kepada kader, pemerintah, TNI polri dan kepada masyarakat umum.
Jawab : Tetap semangat, terima kasih kepada semua pihak dan Ansor-Banser selalu siap ketika dibutuhkan oleh masyarakat secara umum.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor/Publisher: Aan Imam Marzuki





















































