BACAMALANG.COM – Membicarakan literasi sejarah berbasis konten lokal di Malang rasanya sulit dilepaskan dari sosok Dukut Imam Widodo. Arek Malang, kelahiran 8 Juni 1954 tersebut telah menelurkan sejumlah karya yang menjadi rujukan penting tentang sejarah dan budaya Arema, mulai dari Hamuré Kèra Ngalam, Kampung Arèma, Kajoetangan Tempo Doeloe, Prèjèngané Bumi Arèma, hingga buku legendaris Malang Tempo Doeloe yang masih menjadi salah satu buku sejarah lokal paling diminati hingga saat ini.
Pengalamannya selama puluhan tahun menelusuri jejak sejarah Kota Malang dibagikan kepada para peserta Bimbingan Teknis (Bimtek) Kepenulisan Berbasis Konten Budaya Lokal Tahun 2026 yang digelar Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah (Dispussipda) Kota Malang.
Dalam sesi yang berlangsung interaktif di Gedung Dispussipda Kota Malang, Selasa (2/6/2026), Dukut membagikan pandangannya mengenai cara menulis sejarah yang menarik tanpa kehilangan akurasi.
“Menulis sejarah itu tidak perlu dibuat terlalu serius. Yang penting datanya valid sehingga gaya penulisannya bisa lebih luwes,” ujarnya di hadapan peserta.
Menurutnya, kekuatan sebuah tulisan sejarah terletak pada proses riset yang mendalam, referensi yang kuat, serta konsep yang matang sebelum mulai menulis. Namun, semua itu harus dibarengi dengan sentuhan emosional dari penulis.
“Menulisnya tetap dengan hati,” tambahnya.

Asri Hayati Nufus, (kanan) dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia yang juga kurator museum, dan arkeolog saat paparan. (ist)
Pesan serupa juga disampaikan akademisi dan tenaga ahli kuratorial Museum Tekstil Jakarta, Asri Hayati Nufus. Ia menekankan pentingnya memahami sumber data budaya dan kearifan lokal sebagai fondasi utama penulisan.
Menurut Asri, penulis perlu memahami berbagai bentuk warisan budaya, baik yang bersifat tangible seperti cagar budaya maupun intangible berupa tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, ritus, seni, hingga bahasa daerah.
“Jika menulis tentang sebuah kerajaan, maka data primer bisa diperoleh dari peninggalan seperti candi-candi pada masa kerajaan tersebut. Sedangkan manuskrip pendukung menjadi data sekunder. Begitu pula dalam penggunaan narasumber, harus dibedakan mana sumber primer dan sekunder,” jelasnya.
Pada hari kedua bimtek, peserta memperoleh wawasan dari jurnalis dan pegiat sejarah Bagus Ary Wicaksono, yang membawakan materi Teknik Penulisan Artikel dan Esai. Berangkat dari pengalaman mengeksplorasi kawasan-kawasan bersejarah, ia mengajak peserta memadukan pendekatan jurnalistik dengan kekuatan narasi.
“Jangan lupa menerapkan prinsip 5W+1H. Tetapi esai yang baik bukan sekadar curhat, melainkan harus didukung bukti yang logis dan disajikan dengan cara yang memikat pembaca,” katanya.

Devan Firmansyah (kanan), didampingi Bagus Ary Wicaksono saat berbagi tips kepenulisan kepada para peserta Bimtek pada ahri kedua, Rabu (3/6/2026). (Nedi Putra AW)
Sementara itu, penulis sejarah Malang, Devan Firmansyah, membagikan berbagai pengalaman terkait proses penerbitan naskah dan pemanfaatan arsip digital di era modern. Ia memperkenalkan sejumlah situs arsip Belanda yang menyimpan ribuan berita lawas tentang Malang hingga tingkat kelurahan.
“Yang penting tahu nama websitenya dan kata kuncinya. Kalau sudah ketemu tidak perlu bingung karena berbahasa Belanda, sekarang bisa langsung diterjemahkan menggunakan program AI,” ujarnya.
Sesi bersama Bagus dan Devan berlangsung hangat karena banyak diisi bedah karya peserta. Berbagai artikel yang sedang disusun mendapatkan masukan, koreksi, hingga ide pengembangan tema yang lebih kaya.
Salah satu contoh yang disampaikan Devan adalah tentang Boso Walikan Malang yang menurutnya masih memiliki banyak sisi menarik untuk digali.
“Kalau hanya sejarah dan tujuan penggunaan Boso Walikan sudah banyak ditulis. Tapi misalnya di daerah Mergosono atau ‘Onosogrem’, setelah dibalik masih ditambah lagi dengan sisipan ‘ars’ di tengah kata. Hal-hal seperti ini justru bisa memperkaya pembahasan,” jelasnya.
Pada sesi ini, peserta juga berkesempatan untuk berdiskusi dengan Budi Fathony, seorang akademisi, peneliti dari ITN Malang. Mantan anggota Tim Ahli Cagar Budaya Kota Malan ini banyak memberi referensi terkait sejarah kota Malang ditinjau dari sisi arsitekturnya.
Semnatara para peserta masih memiliki waktu sekitar dua pekan untuk menyempurnakan karya mereka sebelum proses finalisasi pada 17 Juni 2026. Karya-karya tersebut nantinya akan dihimpun dalam sebuah buku antologi yang direncanakan terbit melalui Perpustakaan Nasional.
Menariknya, bimtek ini juga menghadirkan sesi BI Mengajar bersama Tomi Adi Saputra dari Bank Indonesia Perwakilan Malang. Dalam kesempatan tersebut, peserta memperoleh wawasan mengenai kebanksentralan, sistem pembayaran digital QRIS, inflasi, hingga nilai tukar mata uang.
Tomi menjelaskan bahwa Bank Indonesia tidak hanya bertugas menjaga stabilitas nilai rupiah dan sistem pembayaran nasional, tetapi juga memiliki perhatian terhadap pelestarian budaya sebagai bagian dari penguatan identitas bangsa.
“Bank Indonesia memiliki komitmen mendukung pelestarian warisan budaya sebagai bagian dari pengembangan ekonomi daerah dan penguatan identitas nasional,” ujarnya.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai program pemberdayaan UMKM berbasis budaya dan kearifan lokal, mulai dari sektor kopi, batik, hingga kain tenun yang menjadi kekayaan daerah.
Bimtek ini menjadi bukti bahwa pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui konservasi benda bersejarah, tetapi juga lewat tulisan. Sebab, sebagaimana pesan Dukut Imam Widodo, sejarah yang ditulis dengan data yang kuat dan hati yang tulus akan membuat cerita lokal tetap hidup dan dikenang lintas generasi.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW





















































