BACAMALANG.COM – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang Malang telah menemukan 900 kasus Tuberkulosis (TBC) hingga April 2024.
Tuberkulosis atau TB adalah salah satu penyakit menular disebabkan infeksi bakteri (Mycobacterium tuberculosis), berpotensi menyerang berbagai organ tubuh, salah satunya paru-paru.
Ada sejumlah kendala dalam menangani kasus TBC di Indonesia, salah satunya yaitu melakukan tracing dan penanganan terhadap pasien TB laten.
Tahap infeksi bakteri pada pengidap TB melewati tiga tahapan, yakni : infeksi primer, laten, dan aktif.
Pada tahap infeksi primer, terjadi saat udara mengandung bakteri penyebab TB terhirup oleh hidung atau mulut, hingga masuk paru-paru dan berkembang biak.
Sedangkan untuk infeksi laten, ketika bakteri mulai berkembang, sistem imun akan melakukan perlawanan, bakteri akan “tertidur” (pura-pura) dan tidak aktif menginfeksi, sehingga orang yang terinfeksi tidak akan merasa gejala apapun.
Sementara untuk infeksi aktif, kondisinya sebaliknya, saat imun tubuh tidak berhasil melawan bakteri yang masuk dan berkembang biak, maka bakteri akan bebas menyerang sel-sel sehat pada paru-paru hingga pengidapnya merasakan gejala.
“Perlu diketahui TBC mempunyai ciri-ciri memunculkan gejala utama yakni : sesak napas, batuk berlangsung lama hingga lebih dari 3 minggu, batuk berdarah, dada terasa nyeri, demam, menggigil, mudah lelah, berat badan turun drastis, nafsu makan menghilang, dan berkeringat di malam hari,” tegas Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Malang, dr Umar Usman MM kepada BacaMalang.com, Minggu (16/6/2024).
Kemunculan gejala-gejala tersebut biasanya akan berbeda di beberapa orang, sehingga antara satu dan lainnya tidak bisa dijadikan sebagai acuan.
“Jika ada yang merasakan beberapa gejala tersebut, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter,” urai dr Umar.
dr Umar menuturkan, saat seseorang mengidap TB Paru dan tidak mendapatkan penanganan yang tepat, maka kemungkinan komplikasi bisa terjadi, yakni seiring perkembangannya, bakteri TB paru juga menyebar ke bagian tubuh lainnya, berdampak pada kerusakan sendi, kelainan pada jantung, nyeri punggung, masalah pada ginjal dan hati, serta peradangan selaput otak atau meningitis.
Diungkapkannya, untuk pengobatan TB Paru yakni biasanya, dokter menganjurkan pengidap mengonsumsi obat selama 6-12 bulan.
Sementara, pencegahan TB adalah dengan memberikan suntikan vaksin BCG (Bacille Calmette-Guerin) yang biasanya diberikan kepada bayi dan anak-anak pada saat masa imunisasi sebanyak satu kali.
“Tetaplah tenang dan waspada. Pahami gejalanya. Jika merasakan gejala awal, harus segera berobat. Selanjutnya jika mengalami gejala berkelanjutan, jangan ragu untuk menemui dokter,” urainya mengakhiri.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor/Publisher: Aan Imam Marzuki



















































