BACAMALANG.COM – Keputusan pegowes ‘Justice for Kanjuruhan’ Narendra Wicaksono melakukan misi menyuarakan keadilan korban Tragedi Kanjuruhan merupakan kombinasi dari berbagai faktor pendorong.
Prioritas utama pendorong tentunya pemuda tangguh asal Klaten ini terpanggil nuraninya untuk menegakkan kebenaran dan berkhidmat di jalan kemanusiaan.
Faktor pendorong lainnya adalah pemuda yang sehari-harinya berprofesi sebagai ojol ini, mempunyai hobi bermain sepak bola.
Dalam setiap kesempatan di jalur (rute) lokasi negara yang dilewatinya tak lupa ia menyempatkan untuk bersilaturahmi ke suporter bola, bermain sepak bola dengan anak-anak, atau juga menonton pertandingan sepak bola.
Sama seperti yang disebutkan terakhir tadi, kali ini Narendra bercerita tentang dirinya yang berkesempatan menonton bareng warga, laga sepak bola fase penyisihan grup F UEFA Euro 2024 antara Timnas Türkiye vs Timnas Portugal.
“Hari ini Sabtu (22/7/2024) pukul 19.00 Waktu Istanbul saya pergi ke Küçükköy Meydanı yang berada di Gaziosmanpaşa, untuk nonton bareng Pertandingan fase penyisihan grup F UEFA Euro 2024 antara Timnas Türkiye vs Timnas Portugal bersama warga Türkiye,” tutur Narendra kepada BacaMalang.com, Minggu (23/6/2024).

Suasana nonton bareng Euro 2024 Türkiye vs Portugal di Küçükköy Meydanı Gaziosmanpaşa Istanbul Türkiye. (IG Narendra)
Lokasi nonton sepak bola di Küçükköy Meydanı ini berada tidak jauh dari alun-alun Gaziosmanpaşa.
Ia berjalan sendirian dari apartemen Rami di Eyüp Sultan berjarak 3 km, dengan niat ingin merasakan atmosfer pertandingan Timnas Türkiye.
Ia sengaja berjalan kaki 2 jam sebelum pertandingan dimulai, dengan estimasi jarak dan agar bisa mendapatkan kursi untuk menonton di depan bigscreen yang disediakan oleh Gaziosmanpaşa (Belediyesi = Pemerintah Kota)
Setelah sampai lokasi, ia bertemu dengan Mr. Yagiz Karkın yang datang bersama putranya yang masih berusia 10 tahun, dan mereka fasih berbahasa Inggris.
Narendra mengajak dan berharap suporter bola Indonesia bisa belajar dewasa dari sepak bola Turki.
Ia mengungkapkan, seperti diketahui bersama bahwa di Provinsi Istanbul banyak sekali klub sepak bola, hampir setiap kotamadya memiliki tim sepak bola dari yang paling populer dan paling banyak penggemarnya yaitu Galatasaray dan Fenerbahçe disusul oleh Beşiktaş JK lalu masih banyak lagi klub seperti Eyüpspor Kulübü, İstanbul Spor, serta Gaziosmanpaşa Spor Kulübü.
Tapi saat tim nasional Türkiye bertanding mereka bisa bersatu padu datang ke lokasi nobar, walaupun mereka datang dengan seragam klub masing-masing, tidak ada kebencian, tidak ada sentimen.
Semua bisa menempatkan diri dan menyikapi rivalitas dengan bijak kendati persaingan Derby Istanbul antara Fenerbahçe dan Galatasaray adalah satu dari derby paling sengit di dunia.
Pertandingan berlangsung kurang baik bagi Timnas Türkiye, beberapa kali pemain belakang membuat kesalahan sehingga Bernardo Silva mampu membuat Timnas Portugal memimpin pada menit 21 dan ironisnya kecerobohan pemain belakang dan kiper Türkiye diulangi lagi.
Kali ini karena miskomunikasi bek Samet Akaydın dan kiper Altay Bayındır menghasilkan gol bunuh diri di menit 29.
Sampai pada titik itu Narendra melihat bahwa suporter Türkiye mampu bersikap dewasa dengan terus bertahan di lokasi nobar, tanpa menggerutu menyalahkan para pemain yang membuat kesalahan, atau langsung pergi meninggalkan tempat.
Narendra merasa hal ini sangat berbeda dengan suporter Timnas Indonesia, yang hanya datang dan bersorak saat performa timnas sedang bermain bagus, atau sedang sering memetik kemenangan.
Narendra bercerita kepada orang-orang di sana tentang Tragedi Kanjuruhan, dengan bahasa Inggris dan bahasa Türkiye lewat bantuan Google Translate.
Beberapa dari mereka langsung membuka di Google. Narendra meminta untuk dihubungkan pada komunitas suporter lokal agar bisa membawa bendera ‘Justice for Kanjuruhan’ pada pertandingan terakhir fase grup melawan Republik Cekoslovakia.
Terkait Tragedi Kanjuruhan, Baki (pemuda berkaos putih) dan seorang warga lokal Mr. Yagiz Karkın berkomentar dan berusaha akan membuatkan momen agar perjalanan ini bisa terhubung dengan kelompok suporter lokal di Gaziosmanpaşa.
“Belajar untuk konsisten dan totalitas dalam mendukung tim tidak peduli menang dan kalah, 90 menit fokus pada permainan tim, luapkan emosi pada gestur tubuh yang hidup,” tukasnya.
Narendra menuturkan, membentangkan bendera di negara lain khususnya Türkiye, harus sangat berhati-hati karena orang-orang sangat sensitif dengan bendera selain Türkiye, perlu verifikasi dan konfirmasi yang berlapis-lapis untuk bisa membentangkan bendera selain Bendera Türkiye.
Pernah suatu hari apartemen mahasiswa Indonesia didatangi polisi karena mengibarkan bendera Indonesia di balkon dan diminta untuk menyimpannya.
Seperti diketahui, dalam berita sebelumnya, Narendra Wicaksono telah memulai perjalanan bersepeda dari Klaten menuju Makkah, sambil menuntut keadilan bagi korban Tragedi Kanjuruhan dan kini, Narendra telah tiba di Turki.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor/Publisher: Aan Imam Marzuki



















































