BACAMALANG.COM – Pegowes ‘Justice for Kanjuruhan’ Narendra Wicaksono mencatat ada kesamaan dan perbedaan antara suporter sepak bola Indonesia dan Turki yang menjadi sebuah dinamika tersendiri.
Intinya apabila ada hal positif dan baik selayaknya diadopsi dan sebaliknya jika ada hal buruk, layak didoakan semoga ke depan ada perubahan menjadi lebih baik.
“Ada kesamaan yakni mereka sama-sama powerfull dan “giras” terhadap kesebelasan kesayangannya. Yang baik kita contoh dan yang kurang baik semoga ke depan lebih baik,” tegas Narendra kepada BacaMalang.com, Sabtu (29/6/2024).
Berikut di bawah ini hasil catatan Narendra tentang persepakbolaan di Turki.
Ia menuturkan, ada banyak sekali secara umum nomenklatur kompetisi sama dengan di Indonesia.
Di Turki ada kompetisi tertinggi yaitu Türkiye Superlig, lalu ada TFF Second Lig dan beberapa divisi amatir di bawahnya yang terdiri dari klub – klub kotamadya dan tim sepak bola dari universitas.
Ia menjelaskan, untuk tingkat kecamatan dan kelurahan. Di tempat Narendra singgah paling lama yaitu Rami terdapat klub kecil bernama Rami Spor Kulübü 1924 yang bermarkas di Rami Stadı, walaupun hanya berkompetisi di liga amatir fasilitas klub ini terbilang lengkap dengan keberadaan kolam renang atlet dan toko merchandise.
Gambaran perilaku suporter
Rivalitas klub sepak bola di Istanbul sangat cair, ringan, dan santai. Walaupun Derby antara Galatasaray dan Fenerbahçe adalah yang paling sengit di dunia dengan tajuk Derby Inter-continenal.
Mengingat markas Fenerbahçe ada di Istanbul sisi Asia dan Markas Galatasaray ada di Istanbul sisi Eropa tapi persaingan di sini tidak dibawa “lebay” tidak ada kebencian yang berbuntut kekerasan di sini, anak-anak dan orang dewasa bebas memakai jersey tim yang ia dukung tanpa harus khawatir akan datangnya sebuah serangan kekerasan dari kelompok lawan.
Narendra Diberi Jersey
Suatu hari Narendra pernah berjalan – jalan ke stadion Eyüpspor klub kotamadya yang berhasil keluar sebagai juara Second Lig, disaat yang sama seseorang mengajaknya mengobrol lalu memberinya Jersey Galatasaray.
Selanjutnya saat Narendra bertemu dengan Mr. Nuri Aktemur di kampus IZU sebagai penggemar Fenerbahçe, tampaknya tidak terlalu suka dirinya menggunakan Jersey Galatasaray, dan langsung mengambilkan stok kaos tim gulat üniversites (Güreş Takımı). Rivalitas di sini benar-benar dewasa dan elegan.
Kerusuhan sepak bola dan bertemu jurnalis
Selama ia berada di Turki tidak terjadi karena dia tiba disaat momentum timnas Türkiye berjuang dalam Turnamen Euro 2024, di mana Timnas Türkiye akhirnya lolos menuju babak 16 besar sebagai Runner-up grup F.
Berkat admin akun Instagram Indo.Awaydays Narendra dikenalkan oleh Manuel Shamoney seorang jurnalis EUFA yang secara khusus meliput intens berbagai aksi suporter timnas Türkiye selama gelaran turnamen Euro 2024 di Jerman.
Menurutnya suporter Türkiye dan suporter Indonesia punya banyak kesamaan dari hal gairah, chant dan koreografi di dalam stadion. Hal ini mengingat Shamoney pernah berkunjung ke stadion Surajaya Lamongan untuk meliput aksi suporter Persela Lamongan.
Komentar suporter Turki soal Tragedi Kanjuruhan
Narendra bertemu Yahya Selim Kaynar seorang mahasiswa Universitas Marmara yang juga fans klub Fenerbahçe, dia berpendapat bahwa kejadian memilukan seperti Tragedi Kanjuruhan tidak semestinya terjadi.
“Gairah suporter yang alami tidak seharusnya dibenturkan dengan aparat bersenjata karena sudah pasti itu akan berubah menjadi kekerasan yang mematikan,” terang Narendra menirukan Yahya Selim.
Seperti diketahui, dalam berita sebelumnya, Narendra Wicaksono telah memulai perjalanan bersepeda dari Klaten menuju Makkah, sambil menuntut keadilan bagi korban Tragedi Kanjuruhan dan kini, Narendra telah tiba di Turki.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor/Publisher: Aan Imam Marzuki



















































