Tri WPA Turen: Jangan Kucilkan Anak dengan Status HIV-AIDS - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

MALANG RAYA · 25 Jul 2020 01:53 WIB ·

Tri WPA Turen: Jangan Kucilkan Anak dengan Status HIV-AIDS


 Tri WPA Turen: Jangan Kucilkan Anak dengan Status HIV-AIDS Perbesar

BACAMALANG.COM – Ketua Warga Peduli AIDS (WPA) Turen Tri Nurhudi Sasono ,M.Kep. meminta masyarakat untuk tidak mengucilkan Anak dengan Status HIV-AIDS (ADHA).

“Kami minta masyarakat jangan mengucilkan Anak dengan Status HIV-AIDS (ADHA) dan anak-anak yang sehat negatif HIV akan tetapi orang tuanya ODHA (Orang dengan status HIV-AIDS),” tandas Tri Nurhudi baru-baru ini.

Seperti diketahui, setiap tanggal 23 Juli selalu diperingati sebagai Hari Anak Nasional tidak terkecuali Warga Peduli AIDS Turen memperingatinya dengan mengkampanyekan dengan tidak mengkucilkan Anak dengan status HIV-AIDS atau yang biasa disebut ADHA dan anak-anak yang sehat negatif HIV akan tetapi orang tuanya ODHA (Orang dengan status HIV-AIDS).

Kasus perlakuan tindakan diskriminasi terhadap ADHA masih banyak terjadi di masyarakat seperti tidak diterima keluarga dan lingkungan sekitar, tidak mendapatkan pengobatan yang layak dan bahkan tidak diterima di sekolah pada anak-anak sebayanya.

Sebagian besar anak-anak ini tertular virus HIV bukan karena perilaku negatif atau perilaku-perilaku yang tidak baik, akan tetapi anak-anak itu terlahir dengan HIV karena tertular dari orang tua mereka.

Sebenarnya jika seandainya bisa memilih mereka tentu tidak ingin dilahirkan dalam kondisi status HIV dengan adanya virus HIV ini di dalam tubuhnya.

Menurut Tri Nurhudi Sasono ,M.Kep. masalah stigma diskriminasi ini sebenarnya terjadi ketika status HIV penyakit diketahui secara publik.

Membuka status HIV terkadang diawali dari keluarga, tetangga sekitar, petugas kesehatan bahkan guru yang ada di sekolah.

Sebenarnya tidak ada kewajiban untuk membuka status HIV selama tidak melakukan perilaku-perilaku beresiko seperti petugas kesehatan, pekerja seks, atau bidang pekerja lain yang memang kontak beresiko langsung dengan orang lain.

Adapun ADHA termasuk anak usia sekolah tidak berkewajiban harus buka status di sekolahannya ataupun kepada gurunya karena tujuan dari sekolah untuk mengetahui status HIV adalah sebagai kebutuhan sejauh mana penanganan terhadap kondisi fisik ADHA ketika di sekolah.

Ironisnya, di lingkungan masyarakat masih menganggap HIV-AIDS adalah penyakit kutukan padahal orang-orang baikpun sebenarnya bisa tertular HIV.

ADHA ini hanyalah korban sangat membutuhkan dukungan dari sekitarnya karena mereka sedang berjuang melawan penyakitnya.

Tidak adil rasanya bila anak-anak yang terlahir dan positif HIV masih harus mendapatkan stigma diskriminasi di lingkungan sekitar bahkan kesusahan untuk mendapatkan haknya bersekolah.

Tri menuturkan pernah kasus diskriminasi terjadi di sebuah sekolah SMP di wilayah Kabupaten Malang tidak mau menerima ADHA bersekolah dan bercampur anak-anak pada umumnya dengan alasan kondisi fisik sebaiknya anak dengan status HIV dianjurkan Home Schooling.

Akan tetapi ujung-ujungya sekolah tidak mau menerima ADHA karena khawatir kalau orangtua wali siswa lain ada yang mengetahui kredibilitas sekolah akan turun dan akan banyak siswa-siswi yang keluar serta tidak ingin sekolah di SMP tersebut.

Lelaki yang juga Dosen STIKes Kepanjen ini menghimbau kepada masyarakat untuk selalu melindungi ADHA, tidak melakukan tindakan stigma diskriminasi dan jangan menjauhinya.

Mayoritas ADHA memiliki kondisi fisik yang sehat dan tidak pernah sakit layaknya anak yang tidak terinfeksi selama patuh dan disiplin terhadap pengobatan ARV.

Mereka juga mempunyai masa depan gemilang dan memiliki cita-cita yang mulia. Terdapat 3 ADHA yang tergabung di WPA Turen menyatakan keinginannya untuk menjadi dokter dan bercita-cita menjadi guru. “Semoga cita-citanya terkabul semuanya. Aamiin,” tutup Tri. (had/red)

Artikel ini telah dibaca 25 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Antrean Pertalite Mengular di Kabupaten Malang, Warga Bertahan demi Menjaga Pengeluaran Rumah Tangga

13 Juni 2026 - 20:17 WIB

Studi Tiru, Kecamatan Grati Pasuruan Belajar Inovasi Pelayanan ke Pakisaji

13 Juni 2026 - 14:18 WIB

Terapkan Green Chemistry, Departemen Kimia FSTeM UB Hasilkan Puluhan Produk Ramah Lingkungan Bernilai Ekonomi

13 Juni 2026 - 07:46 WIB

Siswa SMK Turen Ikuti Simulasi Evakuasi, BPBD Tanamkan Budaya Sadar Bencana Sejak Dini

13 Juni 2026 - 07:07 WIB

Kejurnas Tenis Beregu XX Piala Ketua Mahkamah Agung RI Perkuat Sport Tourism Kota Malang

12 Juni 2026 - 22:25 WIB

Kuasa Hukum Sinal Abidin Minta Publik Hormati Proses Hukum, Soroti Pemberitaan Dugaan Penganiayaan Usai Laga Bulu Tangkis

12 Juni 2026 - 22:16 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !