BACAMALANG.COM – Sinyal kewaspadaan menghadapi musim kemarau 2026 mulai ditegaskan di wilayah Malang Utara. Ratusan relawan lintas sektor dikonsolidasikan dalam apel siaga di eks Pendapa Kawedanan Singosari, Kabupaten Malang, Minggu (26/4/2026), sebagai langkah konkret memperkuat respons dini terhadap ancaman kekeringan dan kebakaran hutan-lahan.
Sebanyak 373 personel dari berbagai organisasi dan potensi wilayah diterjunkan dalam apel ini. Mereka diproyeksikan sebagai kekuatan respons cepat yang siap bergerak saat kondisi darurat terjadi.
Komposisi kekuatan tersebut mencerminkan kolaborasi luas, mulai dari unsur kemanusiaan, komunikasi, keamanan, hingga relawan teknis di lapangan. Di antaranya PMI menjadi penyumbang personel terbesar dengan 150 orang, disusul unsur instansi sebanyak 50 personel, serta jaringan komunikasi seperti RAPI Singosari sekitar 30 personel.
Sementara itu, organisasi lain yang turut ambil bagian antara lain RESITA (10), SAR Samudra (20), EMT DPK PPNI (10), Rescue Bela Negara (10), Banser Singosari (10), Saka Wira Kartika Singosari (10), hingga berbagai unit ambulans dan komunitas relawan seperti MWCKarlos, STRKTB, dan NS Trade. Keterlibatan juga datang dari Redkar, KRC, Satlinmas, ORARI, LPBI SGS, Jejak Mahapena Lawang, serta BPBD Kabupaten Malang.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Malang, Purwoto, menegaskan bahwa fase peralihan musim harus dibaca sebagai peringatan dini. Berdasarkan proyeksi BMKG, kemarau akan datang bertahap dan berpotensi memicu persoalan berulang di sejumlah wilayah.
“Ancaman paling nyata adalah kekeringan yang berdampak pada air bersih dan pertanian, serta meningkatnya risiko kebakaran lahan. Ini harus diantisipasi sejak sekarang,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa pola penanganan bencana harus adaptif. Jika sebelumnya fokus tertuju pada banjir dan longsor, kini strategi harus beralih ke mitigasi kekeringan, distribusi air bersih, dan pengendalian karhutla.
Lebih jauh, Purwoto mendorong penguatan sistem peringatan dini di tingkat desa, termasuk mekanisme pelaporan cepat agar setiap potensi bencana dapat direspons tanpa jeda. Koordinasi lintas sektor juga menjadi kunci agar penanganan berjalan terpadu.
Selain itu, peran relawan tidak hanya saat tanggap darurat, tetapi juga pada fase pencegahan melalui edukasi masyarakat. Mulai dari pengelolaan penggunaan air hingga larangan pembakaran lahan harus terus disosialisasikan.
Kesiapan peralatan juga menjadi sorotan, seperti ketersediaan tangki air, perangkat pemadam, hingga jalur distribusi logistik untuk menjangkau wilayah terdampak. “Operasi di lapangan harus tetap mengedepankan keselamatan personel. Profesionalisme dan koordinasi tidak boleh diabaikan,” tegasnya.

Antusiasme personel yang ikut dalam kegiatan. (ist)
Ketua Rescue Bela Negara Malang Raya, Ganif Djuwadi, menilai apel ini sebagai momentum penting menyatukan kekuatan relawan di kawasan Singosari, Lawang, dan Karangploso.
“Ini bukan sekadar apel, tapi konsolidasi nyata relawan untuk mendukung pemerintah dalam kesiapsiagaan bencana,” katanya.
Ia juga mengungkapkan rencana penguatan kapasitas relawan melalui latihan gabungan dan skema pembelajaran antaranggota.
Program ini tidak hanya meningkatkan kesiapan menghadapi bencana, tetapi juga diarahkan untuk membekali keterampilan yang relevan dengan dunia kerja.
Sementara itu, Kapolsek Singosari, AKP Achmad Zainuddin, menekankan pentingnya pemetaan potensi risiko secara bersama-sama antara Muspika dan para pemangku kepentingan.
“Ancaman kekeringan dan kebakaran harus dipetakan sejak awal. Di sisi lain, edukasi kepada masyarakat juga harus terus diperkuat,” ujarnya.
Apel siaga ini menjadi penanda bahwa ancaman kemarau tidak bisa dipandang rutin semata. Dibutuhkan kesiapan kolektif, strategi yang tepat, dan peran aktif masyarakat agar dampak bencana dapat ditekan semaksimal mungkin.
Pewarta/Editor: Rahmat Mashudi Prayoga




















































