BACAMALANG.COM-Di balik sajian sarapan hotel yang tersusun rapi setiap pagi, tersimpan persoalan yang jarang terlihat oleh tamu. Potongan roti yang tak habis, buah yang tak lagi tampil sempurna, hingga sisa makanan dari meja prasmanan. Kondisi ini berpotensi menjadi timbunan sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.
Namun di Kota Malang, limbah makanan mulai dipandang dengan cara berbeda. Bukan lagi sekadar sampah yang harus dibuang, melainkan sumber daya yang masih memiliki nilai ekonomi dan manfaat lingkungan.
Semangat itulah yang mengemuka dalam peluncuran gerakan “Beyond Waste” yang digelar di Grand Mercure Malang Mirama, Kamis (4/6/2026), bertepatan dengan momentum peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026.
Melalui kolaborasi antara Grand Mercure Malang Mirama, Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama), Local Preneur, dan People Hub, gerakan ini mengajak berbagai pihak untuk melihat limbah makanan dari perspektif baru sebagai bahan baku ekonomi sirkular yang dapat diolah menjadi pakan ternak, pupuk, hingga peluang usaha baru bagi masyarakat.
Sedikitnya 50 delegasi dari sektor perhotelan, pelaku UMKM kuliner, akademisi, hingga organisasi non-pemerintah hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka mengikuti diskusi keberlanjutan, pemaparan isu food waste, hingga praktik pengolahan limbah makanan menjadi pakan ternak bersama peternak lokal.
Gerakan ini mengusung visi “Building a Sustainable Future, One Waste at a Time”, dengan target indikator keberhasilan, antara lain tercapainya tingkat kesadaran masyarakat sebesar 95 persen dan pengurangan limbah makanan hingga 80 persen.

Wakil Rektor Bidang Pengembangan Sumber Daya dan Universitas Unikama, Irma Tyasari, SE, S.Pd, MM, Ak, CA, CPA, CRA, Ph.D. didampingi Dosen Fakultas Peternakan Unikama, Dr. Ir. Tri Ida Wahyu Kustyorini, S.Pt., M.P., IPM., ASEAN Eng. dalam sesi diskusi bersama Founder Local Preneur, Baskoro dan Operational Manager Grand Mercure Malang Mirama, Wahyu Widianto, Kamis (4/6/2026). (Nedi Putra AW)
Bagi Cluster General Manager Grand Mercure Malang Mirama, Sugito Adhi, gerakan ini bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan.
“Beyond Waste diharapkan menjadi awal dari gerakan sustainability yang dapat diterapkan secara nyata. Kami tidak hanya mengelola limbah, tetapi sedang membangun warisan tanggung jawab untuk generasi mendatang melalui penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance atau ESG,” ujarnya.
Menurut Sugito, selama ini banyak orang memandang limbah sebagai sesuatu yang tidak bernilai. Padahal, melalui pendekatan ekonomi sirkular, limbah organik dapat diubah menjadi produk yang memiliki manfaat ekonomi sekaligus sosial.
“Gerakan ini bukan hanya tentang pengurangan limbah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru. Dari pengolahan food waste, masyarakat bisa menciptakan lapangan kerja baru, sementara industri dapat membangun kemandirian material melalui pemanfaatan sumber daya yang selama ini terbuang,” jelasnya.
Komitmen tersebut ternyata sudah diterapkan jauh sebelum gerakan ini diluncurkan. Sejak mulai beroperasi pada tahun 2021, Grand Mercure Malang Mirama menerapkan standar pengelolaan sampah makanan yang ketat sesuai kebijakan jaringan hotel Accor Global.
Operational Manager Grand Mercure Malang Mirama, Wahyu Widianto, menambahkan bahwa volume sampah makanan sangat bergantung pada tingkat hunian hotel setiap harinya. Area sarapan menjadi penyumbang terbesar food waste.
“Jika jumlah tamu sarapan sekitar 250 orang, akan menghasilkan sampah makanan berkisar 8 sampai 10 kilogram. Saat okupansi naik menjadi 400 hingga 500 orang, jumlahnya dapat mencapai 13 sampai 15 kilogram,” jelasnya.
Meski demikian, pihak hotel berupaya agar jumlah tersebut tidak melampaui batas maksimal yang ditetapkan Accor Global, yakni 15 kilogram per hari.
Berbagai inovasi dilakukan untuk mengurangi limbah sejak dari dapur. Roti yang tidak habis terjual di kafe diolah kembali menjadi hidangan penutup khas Timur Tengah, Om Ali. Stroberi yang bentuknya kurang menarik tetapi masih layak konsumsi diproses menjadi selai. Sementara sisa makanan yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan untuk konsumsi manusia dialihkan menjadi kompos dan pakan ternak.
Sementara bagi Founder Local Preneur, Baskoro, langkah kecil seperti ini justru menjadi kunci perubahan besar.
“Kami mendukung penuh para pelaku industri untuk mulai memperhatikan dampak lingkungan di sekitarnya. Langkah yang diambil tidak harus selalu muluk-muluk, melainkan apa yang bisa dilakukan saat ini, sekecil apa pun itu,” ujarnya.
Ia menilai paradigma bisnis masa depan tidak cukup hanya berbicara soal keuntungan finansial. Pelaku usaha juga perlu memperhitungkan dampak sosial dan lingkungan dari setiap aktivitas yang dijalankan.
“Bisnis tidak hanya melulu bicara tentang untung dan rugi, tetapi juga harus memberikan kontribusi nyata terhadap kelestarian lingkungan,” tambahnya.
Pandangan tersebut mendapat dukungan dari kalangan akademisi. Pakar lingkungan sekaligus Dosen Fakultas Peternakan Unikama, Dr. Ir. Tri Ida Wahyu Kustyorini, S.Pt., M.P., IPM., ASEAN Eng., mengingatkan bahwa limbah makanan yang tidak dikelola dengan baik akan meningkatkan pencemaran dan emisi gas rumah kaca.
“Limbah restoran maupun rumah tangga jika tidak dimanfaatkan justru akan menambah cemaran serta meningkatkan emisi gas rumah kaca yang dapat mengganggu dan merusak lapisan atmosfer,” jelasnya.
Menurutnya, pemanfaatan limbah organik menjadi pakan ternak maupun pupuk tidak hanya berdampak positif bagi lingkungan, tetapi juga membuka sumber pendapatan baru bagi masyarakat.
“Ekonomi masyarakat saat ini membutuhkan inovasi. Pemanfaatan limbah yang tadinya tidak memiliki nilai guna, jika diolah dengan baik akan memberikan nilai ekonomis yang tinggi dan menjadi sumber pendapatan baru,” ujarnya.
Di tengah meningkatnya kesadaran dunia terhadap isu perubahan iklim dan pengelolaan sampah, gerakan Beyond Waste menjadi contoh bahwa solusi lingkungan dapat dimulai dari langkah sederhana. Dari sisa makanan yang biasanya berakhir di tempat sampah, lahir gagasan baru tentang keberlanjutan, kolaborasi, dan masa depan yang lebih hijau.
Melalui kolaborasi lintas sektor ini, Malang Raya menunjukkan bahwa menjaga bumi tidak selalu membutuhkan teknologi mahal. Terkadang, perubahan besar justru dimulai dari keberanian untuk melihat sampah sebagai peluang.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW





















































