BACAMALANG.COM – Soendari Batik and Art sukses menggelar pameran bertajuk From Java to Manila: Batik Terang Bulan as Living Heritage di Learning Commons Exhibition Area, Lantai 6 Henry Sy Sr. Hall, De La Salle University, Manila, Filipina, pada pekan lalu. Kegiatan yang didukung Dana Indonesiana Tahun 2025 melalui skema Pendayagunaan Ruang Publik ini menjadi ajang memperkenalkan Batik Terang Bulan sebagai warisan budaya hidup sekaligus media diplomasi budaya Indonesia yang dihelat selama dua hari, tepatnya pada 15–16 Juni 2026.
Pembukaan pameran dihadiri jajaran pimpinan De La Salle University, Universitas Negeri Malang (UM), Kedutaan Besar Republik Indonesia di Filipina, serta sejumlah pegiat budaya Indonesia. Dalam sambutannya, para narasumber menegaskan bahwa batik tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga menjadi simbol persahabatan, perdamaian, dan identitas bangsa Indonesia di tingkat internasional.
Pameran menampilkan beragam koleksi Batik Terang Bulan, mulai dari udeng, selendang, slayer, kain batik bermotif Atma Asia-Afrika, Modhang Hayati, dan Dove of Peace, hingga infografik sejarah Batik Indonesia, dokumentasi bersejarah era Presiden Soekarno, nobar film bertajuk “Terang Bulan: The Harmony of the World”, kain batik yang masih dalam proses pengerjaan, serta koleksi tekstil Filipina dan keris sebagai simbol dialog budaya kedua negara. Bahkan Presiden De La Salle University, Br. Bernard S. Oca FSC, turut mengunjungi pameran sebagai bentuk apresiasi terhadap kerja sama budaya Indonesia–Filipina.
Ada empat infografik yang menjelaskan perjalanan Batik Indonesia, mulai dari gagasan Presiden Soekarno tentang batik sebagai simbol persatuan nasional, peran Go Tik Swan dalam menciptakan Batik Indonesia, filosofi Nunggak Semi, hingga posisi batik sebagai instrumen diplomasi budaya. Bagian lain menampilkan instalasi ruang keluarga dengan sarung bantal bermotif Terang Bulan, buku-buku budaya Indonesia, serta koleksi kain Batik Terang Bulan dengan tiga motif utama: Atma Asia-Afrika, Modhang Hayati, dan Dove of Peace. Ketiganya membawa pesan tentang solidaritas Asia-Afrika, kemandirian, kehidupan, dan perdamaian dunia.

Dari kiri-Direktur Soendari Batik and Art, Satrya Paramanandana; Kepala Pusat Ekonomi Humaniora dan Pariwisata (PEHP), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) UM Dr. Daya Negri Wijaya, dan Director of DLSU Southeast Asia Research Center and Hub,Dr. Fernando A. Santiago, Jr. (ist)
Memasuki hari kedua, rangkaian kegiatan berlanjut dengan kuliah budaya, pemutaran film dokumenter, demonstrasi membatik, pertunjukan angklung, dan peragaan busana batik.
Dr. Daya Negri Wijaya dari UM menyampaikan nilai-nilai moral dalam relief Tantri di candi-candi Jawa Timur sebagai media pendidikan karakter masyarakat masa lampau.
“Kami mengambil contoh Candi Jago di Malang, dimana kisah-kisah binatang dalam relief Tantri merepresentasikan sikap manusia dalam menghadapi kehidupan. Cerita seperti singa dan banteng, bangau, ikan dan kepiting, serta angsa dan kura-kura mengajarkan pentingnya kehati-hatian, kebijaksanaan, kemampuan mendengar nasihat, dan sikap toleran terhadap orang lain,” papar Kepala Pusat Ekonomi Humaniora dan Pariwisata (PEHP), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) UM ini.
Sementara dosen UM Andhika Yudha Pratama, menjelaskan potensi kisah-kisah Tantri sebagai sumber inspirasi industri kreatif berbasis budaya.
“Adanya kisah yang mengangkat relief Tantri di Candi Penataran, menunjukkan bahwa cerita seperti sapi dan buaya, pemburu, harimau dan kera, serta tokoh-tokoh Nandaka dan Sembada dapat menjadi sumber pendidikan karakter. Nilai kecerdikan, empati, kewaspadaan, pengendalian diri, dan kemampuan beradaptasi tidak hanya berguna dalam pembelajaran sejarah dan budaya, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi inspirasi industri kreatif, seperti karya seni, motif kain, desain visual, dan produk budaya kontemporer,” urainya.
Kuliah berikutnya disampaikan FX Domini BB Hera, dosen dari Universitas Ciputra menyampaikan materi bertema Some Private Aspects Between Proclaimer of Indonesian Independence and Terang Bulan Batik. yang mengulas keterkaitan Batik Terang Bulan dengan gagasan kebangsaan para tokoh proklamator Indonesia.
“Batik bukan sekadar kain bermotif, tetapi juga representasi identitas nasional yang lahir dari perpaduan nilai budaya, estetika, dan semangat kebangsaan,” tegasnya.
Suasana pameran semakin semarak dengan penampilan angklung oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia di Filipina (PPIF), yang menghadirkan nuansa khas Indonesia di tengah lingkungan akademik De La Salle University. Penampilan tersebut memperlihatkan bahwa diplomasi budaya Indonesia tidak hanya diwujudkan melalui batik, tetapi juga melalui seni musik dan keterlibatan generasi muda Indonesia di luar negeri.
Salah satu agenda yang paling menarik perhatian pengunjung adalah demonstrasi membatik yang dipandu langsung oleh Direktur Soendari Batik and Art, Satrya Paramanandana. Peserta diperkenalkan pada proses pembuatan batik tulis, mulai dari penggunaan canting, malam, hingga teknik mencanting yang menjadi ciri utama batik Indonesia.
Demonstrasi ini memberikan pengalaman langsung kepada pengunjung tentang proses kreatif yang membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan pemahaman filosofi di balik setiap motif.
Kegiatan pada hari kedua ini ditutup dengan peragaan busana batik.
Satrya Paramanandana mengungkapkan, selama dua hari penyelenggaraan, pameran berhasil menghadirkan Batik Terang Bulan bukan hanya sebagai karya seni tekstil, tetapi juga sebagai ruang edukasi, dialog budaya, dan sarana mempererat persahabatan Indonesia–Filipina.
“Soendari Batik and Art menunjukkan bahwa warisan budaya Indonesia terus hidup dan mampu menjadi jembatan diplomasi budaya di tingkat internasional melalui perpaduan pameran, kuliah budaya, film dokumenter, pertunjukan seni, hingga praktik membatik,” pungkasnya
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW



























































