BACAMALANG.COM-Transformasi digital telah menjadi salah satu faktor utama dalam meningkatkan daya saing Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Perubahan perilaku konsumen yang semakin mengandalkan teknologi dalam mencari informasi, melakukan pembayaran, hingga memesan produk menuntut pelaku usaha untuk mampu beradaptasi dengan perkembangan tersebut.
Selain itu, pemanfaatan teknologi digital tidak hanya mempermudah proses transaksi, tetapi juga berperan dalam membangun citra usaha, meningkatkan kepercayaan konsumen, dan memperluas jangkauan pasar. Namun di sisi lain, implementasi transformasi digital terkadang masih memberi tantangan tersendiri bagi pemilik UMKM.
Pemahaman yang kurang jelas terkait sistem QRIS, identitas visual yang ala kadarnya dan kurang representatif, serta anggapan membangun kehadiran digital merupakan proses yang sulit menyebabkan pelaku usaha belum mengimplementasikan berbagai aspek digital secara maksimal.
Berangkat dari kondisi tersebut, kelompok Mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) KRAJAN 2 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) melaksanakan Program Kerja Digitalisasi Usaha dan Branding UMKM di Desa Betak, Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung.
Program pengabdian ini berfokus pada peningkatan kapasitas pelaku usaha melalui edukasi dan pendampingan dalam (1) penerapan pembayaran digital menggunakan QRIS, (2) penguatan identitas merek melalui pembuatan logo dan desain menu, (3) peningkatan visibilitas usaha melalui Google Maps, serta (4) pengembangan website yang terintegrasi dengan layanan pemesanan WhatsApp.
“Transformasi digital saat ini sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perkembangan dunia usaha, termasuk bagi UMKM. Kami melihat bahwa pemanfaatan teknologi digital UMKM di Desa Betak memiliki ruang untuk dikembangkan, khususnya dalam aspek pembayaran, branding, dan akses informasi usaha. Karena itu, melalui program pengabdian ini, kami ingin mencoba mengimplementasikan transformasi digital secara langsung pada UMKM di Desa Betak dengan menghadirkan solusi yang sederhana, relevan, dan dapat digunakan dalam kegiatan usaha sehari-hari. Harapannya, digitalisasi yang dilakukan tidak hanya membantu pelaku UMKM dalam menjalankan usahanya, tetapi juga dapat meningkatkan daya saing dan membuka peluang yang lebih luas bagi pertumbuhan ekonomi lokal Desa Betak.” ungkap koordinator tim PKM Krajan 2, Qolbi Rana Salsabil Haryadi, belum lama ini.
Rangkaian kegiatan diawali pada 5 Juli 2026 dengan pelaksanaan sosialisasi mengenai penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sebagai salah satu alternatif metode pembayaran digital bagi pelaku UMKM. Kegiatan dimulai dengan memberikan materi mengenai manfaat dan mekanisme penggunaan QRIS. Setelahnya, tim melakukan pendampingan pembuatan QRIS hingga implementasinya pada masing-masing usaha.
Selanjutnya, tim melaksanakan observasi dan wawancara singkat kepada sejumlah pelaku UMKM di lokasi beberapa hari setelah kegiatan sosialisasi. Berdasarkan hasil observasi dan kesediaan pemilik usaha untuk mengikuti program, terpilih enam UMKM sebagai mitra pendampingan, antara lain : (1) Es Dawet Bu Anik, (2) MOZZA Es Tebu & Es Degan, (3) MOZZA Rumah Jahit, (4) Reva Fried Chicken, (5) Ayam Geprek Oemah Chicken, dan (6) Bakso Raja Murah.
Ia mengatakan, setelah proses identifikasi kebutuhan selesai dilakukan, tim menyusun dan mengembangkan berbagai luaran program. Hasil rancangan tersebut dikomunikasikan dan didiskusikan kembali dengan masing-masing pemilik UMKM untuk memperoleh masukan serta penyesuaian agar sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan usaha.

Kegiatan diskusi bersama pemilik usaha MOZZA Rumah Jahit, salah satu dari enam UMKM yang terpilih sebagai mitra pendampingan. (Dok, Tim PKM)
Usai seluruh luaran program selesai disusun, tim menyerahkan hasil kepada masing-masing pemilik UMKM untuk ditinjau dan digunakan dalam kegiatan usaha sehari-hari. Setelah memperoleh persetujuan dari pemilik, seluruh luaran kemudian diserahkan sepenuhnya untuk dimanfaatkan dalam operasional usaha.
Selama proses pendampingan lanjutan atau paskapenyerahan berlangsung, implementasi program menunjukkan respons yang positif. Salah satu UMKM mitra mengungkapkan bahwa penerapan QRIS membantu mempermudah pencatatan transaksi sekaligus memberikan pilihan pembayaran non tunai bagi pelanggan.
“Awalnya saya berpikir belum tentu QRIS ini akan digunakan, karena di sini rata-rata masih pakai cash untuk bayar. Tapi setelah pasang QRIS, beberapa pengunjung ada yang bayar pakai QRIS,” ujar salah satu pemilik UMKM mitra.
Menurutnya, anak-anak muda yang memang biasa membayar menggunakan QRIS ternyata akan lebih mudah dicatat pendapatannya. Bahkan ia merasa bersyukur karena para mahasiswa juga telah menginformasikan terkait potensi masalah penipuan dalam penggunaan QRIS ini.
“Kami sudah diberi tahu dana yang masuk bisa langsung dipantau di aplikasi, termasuk jika ingin lapor tentang permasalahan yang dihadapi,” imbuhnya.
Di sisi lain, Qolbi Rana Salsabil Haryadi menjelaskan, bahwa pemilik usaha juga menerima pertanyaan dari pengunjung mengenai website yang telah dikembangkan serta mendapati laman usahanya digunakan sebagai kanal informasi usaha. Perkembangan tersebut menjadi pengalaman awal yang dirasakan pelaku UMKM setelah penerapan berbagai solusi digital dalam usahanya.
“Dengan adanya program kerja Digitalisasi Usaha dan Branding UMKM, upaya mewujudkan transformasi digital bukan sekadar tentang menghadirkan teknologi ke dalam sebuah usaha, melainkan menguatkan UMKM agar terus tumbuh dan beradaptasi dengan perubahan zaman,” tegasnya.
Ia berharap, melalui pengabdian serta kemitraan yang dilakukan, pelaku UMKM di Desa Betak dapat memanfaatkan berbagai inovasi yang telah diberikan sebagai langkah awal menuju usaha yang lebih profesional, berdaya saing, berkelanjutan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal di Desa Betak.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW





















































