BACAMALANG.COM – Antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite terjadi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di wilayah Malang Raya pada 8–11 Oktober 2026. Kondisi tersebut mendapat perhatian Divisi Politik Dewan Pimpinan Komisariat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPK GMNI) Tarbiyah Al-Qolam Malang.
Ketua Divisi Politik DPK GMNI Tarbiyah Al-Qolam Malang, Muhammad Agus Fahmi, meminta pemerintah dan Pertamina memberikan penjelasan terbuka mengenai kondisi pasokan serta distribusi Pertalite di wilayah tersebut.
Menurut Fahmi, antrean panjang dan kekosongan stok yang dilaporkan di sejumlah SPBU berdampak terhadap aktivitas masyarakat yang membutuhkan BBM untuk bekerja, berdagang, menempuh pendidikan, dan keperluan sehari-hari.
“Ketika masyarakat harus mengantre panjang, bahkan berpindah dari satu SPBU ke SPBU lainnya untuk mendapatkan Pertalite, persoalan ini perlu dijawab secara terbuka. Masyarakat berhak mengetahui kondisi distribusi BBM dan langkah penanganannya,” kata Fahmi, Senin (12/10/2026).
Ia menilai, keterbukaan informasi mengenai pasokan dan distribusi BBM diperlukan agar masyarakat memperoleh kepastian terkait ketersediaan Pertalite. Pemerintah dan Pertamina juga diminta menjelaskan langkah yang dilakukan untuk mengatasi kekosongan stok di sejumlah SPBU.
Fahmi menduga peningkatan kebutuhan Pertalite turut dipengaruhi oleh peralihan sebagian konsumen dari BBM jenis lain. Namun, dugaan tersebut perlu didukung data mengenai pola konsumsi dan kondisi pasokan di lapangan.
Selain itu, ia meminta pengawasan terhadap kemungkinan penyalahgunaan BBM bersubsidi diperkuat. Dugaan penimbunan maupun penjualan kembali BBM dengan harga di atas ketentuan, menurutnya, perlu ditindaklanjuti melalui pemeriksaan dan pembuktian oleh pihak berwenang.
“Pertamina dan pemerintah perlu menyampaikan informasi yang jelas mengenai kondisi pasokan, mempercepat penyaluran ke SPBU yang mengalami kekosongan, serta memperkuat pengawasan terhadap potensi penyalahgunaan BBM bersubsidi,” ujarnya.
Fahmi menambahkan, distribusi energi perlu dikelola dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat dan ketentuan yang berlaku. Ia berharap langkah penanganan yang dilakukan dapat mengurangi antrean dan memulihkan pelayanan di SPBU yang terdampak.
Antrean Terjadi di Sejumlah Wilayah
Berdasarkan informasi yang dihimpun, antrean kendaraan dilaporkan terjadi di sejumlah titik di Malang Raya pada 8–11 Oktober 2026. Lokasi yang disebut terdampak antara lain SPBU di Kecamatan Pakisaji, SPBU Talok di Turen, wilayah Kepanjen, serta kawasan Lowokdoro dan Gadang Selatan.
Di Kecamatan Pakisaji, antrean kendaraan dilaporkan meluber hingga badan jalan. Sementara itu, kekosongan stok di sejumlah SPBU, termasuk di wilayah Kepanjen, disebut membuat sebagian warga mencari BBM ke lokasi lain.
Meski demikian, kondisi pasokan dan penyebab antrean di setiap SPBU perlu dipastikan melalui data operasional serta keterangan pihak terkait.
Pertamina Jelaskan Upaya Penyaluran
Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, dalam keterangan resmi pada Minggu (11/10/2026), menyampaikan bahwa Pertamina terus mengatur penyaluran BBM untuk menjaga ketersediaan pasokan di Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu.
Ia menyebutkan, rata-rata konsumsi BBM harian di wilayah aglomerasi Malang Raya mencapai 720 kiloliter per hari berdasarkan data September 2026.
Menurut Ahad, pengiriman BBM dari Surabaya dilakukan tiga kali sehari, yakni pukul 01.00, 07.00, dan 13.00 WIB, mulai 8 Oktober 2026. Frekuensi pengiriman ditingkatkan menjadi empat ritase saat akhir pekan.
Fuel Terminal Malang juga dioperasikan selama 24 jam untuk mendukung kelancaran penyaluran BBM. Pertamina, lanjutnya, terus memantau kebutuhan di lapangan agar pelayanan di SPBU tetap terjaga.
Pertamina turut mengimbau masyarakat menggunakan BBM secara bijak dan menyampaikan laporan apabila mengalami kendala pelayanan melalui Pertamina Call Center 135.
Di tengah antrean yang dilaporkan masyarakat, keterbukaan informasi mengenai pasokan, distribusi, dan penanganan SPBU yang mengalami kekosongan menjadi hal penting. Penjelasan dari pihak terkait diperlukan agar masyarakat memperoleh informasi yang akurat mengenai kondisi BBM di Malang Raya.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga




















































