Oleh: Dr Riyanto*
BHARADA ELIEZER
“hidup ini kesempatan, indah pada waktunya …..
“Anakku Tjahjanto, sapalah anak buahmu. Tidak mungkin mereka menyapamu !
Sang Jendral ter-ngiang perintah “seorang kopral, anak buahnya.
Bambang Sudarto tentu merasakan. Betapa sapaan itu jadi sejarah dalam kehidupan kopral.
Mereka tentara yang benar-benar bangga dengan kesatuannya.
Irjen Ferdy Sambo berbeda. Jenjang kelewat gemilang, seksi kriminal.
Banyaknya kejahatan, tentu perintah menembak tak terhitung jumlahnya.
Dar der dor, tugas cepat terselesaikan. Kariernya melesat, melewati Krisna Murti atasannya.
“Jangan membanding dirinya dengan orang lain,” Brigjen Krisna Murti, menanggapi dengan santai.
Kebiasaan nembak dan perintah menembak membelit dirinya.
Hotman Paris si indra ke enam, ikut memerintah.
Bharada Eliezer, untuk tidak terlambat. Segera membuka fakta …..
Diantara renungan, Bharada Eliezer dipandu pengacara.
“Ya Tuhan, semoga teman saya bisa tenang, hidup untuk kemulyaan Tuhan.
Melantunlah kidung gerejawi, “Hidup ini adalah kesempatan, indah pada waktunya …..
Dengan semangat, semua dibuka terang – benderang.
Hukuman dari manusia, adalah kasih sayang Tuhan.
Irjen Ferdy Sambo sudah terlambat. Perintah menembak tepat pada dirinya.
Sederet perwira, sebarisan yang lain sedang menunggu keputusan.
“Anakku Tjahjanto, sapalah anak buahmu !
Pesan ayahanda Bambang Sudarto, Kopral Angkatan Udara.
Semua anak buah tidak bersalah. Telah menyerahkan jiwa dan raga pada komandannya.
Bebaskan dari penderitaan. Brigadir Je, hanyalah sarana pembuka kejahatan. Didekap Putri Candrawati, untuk dilindungi.
Semua masih berjalan. Sabar menanti …..
Selamat untuk Polri, prediktif, responsibilitas, dan transparansi, serta berkeadilan.
Presisi – singkatan yang menyulitkan.
??
Dirgahayu Republik Indonesia.
*Dr Riyanto Budayawan dan Akademisi Universitas Brawijaya
*Isi tulisan menjadi tanggung jawab sepenuhnya penulis.
*Tulisan ini secara khusus didedikasikan dan menjadi wujud apresiasi kinerja kepolisian dibawah kepemimpinan Kapolri Listyo Sigit Prabowo dalam pengungkapan pembunuhan Brigadir J.






















































