BACAMALANG.COM — Hobi berkebun yang dijalani oleh Supriyadi, seorang petani hidroponik asal Lawang, Kabupaten Malang, telah berkembang menjadi aktivitas produktif yang tidak hanya menghasilkan sayuran segar, tetapi juga mempererat hubungan sosial dengan sesama pencinta tanaman. Salah satu pengalaman menarik yang ia bagikan adalah menanam Pare Putih, varietas langka yang ia peroleh dari seorang teman sesama penghobi berkebun.
Pare Putih atau Momordica charantia dikenal sebagai tanaman merambat dari keluarga Cucurbitaceae. Meski umumnya pare dikenal dengan rasa pahitnya, varietas putih ini memiliki karakteristik unik: buahnya lebih besar, berwarna putih bersih, dan rasa pahitnya lebih ringan dibanding pare hijau lokal.
Benih Pare Putih tersebut dikirim oleh Jay, sahabat Supriyadi yang telah sukses menanam berbagai tanaman secara hidroponik. “Pak, di dalam paket saya sertakan benih Pare Putih dari Singapura pemberian teman saya. Nanti njenengan tanam ya,” tulis Jay dalam pesan singkatnya.
Supriyadi menanam benih tersebut di polibag dengan media campuran cocopeat dan sekam bakar, serta memberikan nutrisi AB mix yang biasa digunakan untuk tanaman hidroponik. Dalam beberapa hari, benih mulai tumbuh dan merambat dengan subur. Tak lama kemudian, bunga kuning bermekaran dan menghasilkan buah Pare Putih yang gemuk dan berisi.
“Budidaya Pare Putih memberikan banyak manfaat seperti untuk menurunkan kolesterol dan jadi menu kuliner yang enak disantap,” tuturnya
Panen Pare Putih ini pun menjadi momen berbagi. Supriyadi membagikan hasil kebunnya kepada tetangga dan teman-teman. Salah satunya, Inuk, memanfaatkan buah pare sebagai jus herbal untuk suaminya. “Jus Pare Putih ini bisa membantu menurunkan kolesterol,” katanya.
Berbeda dengan Inuk, teman lain bernama Ema lebih suka mengolah Pare Putih sebagai tumis dengan campuran tempe dan udang. “Rasanya lebih enak dan tidak sepahit pare biasa,” tuturnya.
Meski pare dikenal dengan rasa pahitnya, Supriyadi menyimpulkan dengan nada jenaka, “Kalau disuruh memilih antara pahitnya Pare dan pahitnya kehidupan, saya lebih pilih Pare. Apalagi kalau dimasak tumis atau dibuat siomay, maknyus rasanya.”
Pengalaman ini menunjukkan bahwa berkebun bukan sekadar hobi, tetapi juga cara untuk berbagi, menjaga kesehatan, dan menikmati hasil alam dengan penuh rasa syukur.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga




















































