Bulan Suro, Pemuka Lintas Agama Kota Batu Berdoa Bersama

Foto: Ritual pawon syuro. (ist)

BACAMALANG.COM – Mengisi ibadah suci di bulan Suro yang sakral, pemuka lintas agama Kota Batu melakukan doa bersama.

“Masak bubur Suro ini hanya bisa dilakukan oleh empat wanita yang sudah menikah. Maknanya Kaki Towok yang mengolah jiwa rasa dan nini Towok yang mengolah upaya rasa. Merekalah yang memasukkan santan kedalam kenceng. Setelah santan mendidih kemudian dimasukkan beras dan biji-bijian,” tegas Perwakilan Penghayat Kota Batu, Bibit Samini.

Seperti diketahui, Bulan Suro adalah bulan penuh makna bagi masyarakat Jawa.

Bulan yang sakral sering dilakukan kegiatan ritual. Mulai dari awal bulan, pertengahan bulan hingga akhir bulan pun masyarakat Jawa masih melakukan dengan ragam macam peringatan

Tak terkecuali kegiatan Pawon Suro tahun Jawa Saka 1955 yang diselenggarakan di Dusun Ngrembuk Desa Sidomulyo Kecamatan Bumiaji Kota Batu, sebagian masyarakat pelestari adat tradisi dan budaya disibukkan mempersiapkan bubur/ jenang Suro dari pagi hingga petang hari.

Pagi hari, sebagian mempersiapkan pawon tempat tungku lengkap dengan kenceng besar tempat untuk membuat bubur/jenang Suro.

Kegiatan diawali dengan ritual hening bersama sebagai pertanda dinyalakan api untuk memulai memasak.

Ketika bubur Suro sudah masak di siang hari. Sekitar jam 13.00 WIB bubur diambil sebagian dimasukkan ke wadah takir untuk dibawa ke punden yang merupakan situs budaya setempat yang diyakini sebagai tempat orang yang mbau rekso/babat alas/leluhur Dusun Ngrembuk.

Di sore hari acara ritual dan seremonialnya baru dimulai dan dihadiri oleh Wibi Asri Fianti Punjul Istri Wakil Walikota Batu. Beliau menyambut baik.

“Kegiatan Pawon Suro yang diselenggarakan ini memberi pelajaran bagi generasi penerus bangsa sebagai laku uri-uri budaya,” tuturnya.

Adapun rangkaian seremonial ritual Pawon Suro terlebih dahulu dibuka dengan Mocopat Jawa, dilanjutkan dengan hening cipta, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan pembacaan teks Pancasila, serta sambutan dari beberapa tokoh diantaranya sambutan Ketua RT, Perwakilan dari Dinas Pariwisata Kota Batu serta Ketua Tim Penggerak PKK Kota Batu Asri Fianti Punjul

Yuli Ketua RT dari Dusun Ngrembuk berterima kasih kepada semua yang hadir bahwa acara terselenggaranya kegiatan Pawon Sora yang menampilkan ragam budaya dan dilengkapi dengan doa lintas iman.

Sementara Perwakilan Disparta Kota Batu menjanjikan bawa kegiatan ritual bulan Suro ke depan akan dimasukkan kedalam event pariwisata Kota Batu.

Doa lintas iman masing-masing, dipanjatkan untuk memohon kepada Tuhan yamg Maha Esa dipimpin oleh H. Jazuli (Islam), Mardiningsih (Kristen), Bluder Dicky (Katolik), Parman (Hindu), Agga Wiryatejavana (Budha) dan Edi Setiawan (Penghayat).

Setelah doa selesai dipanjatkan oleh masing-masing pemuka agama dan penghayat, Sidiq sekalu Ketua Pelaksana Ritual Pawon Suro menyerahkan Bubur Suro kepada kepada tokoh masyarakat Dusun Ngrembuk kepada Sutrisno.

“ini saya serahkan kepada tokoh masyarakat dan sesuai dengan nama Dusunnya Ngrembuk, semoga rembuk menjadi inspirasi cikal bakal gotong-royong dan menjadi tradisi budaya bangsa sendiri,” urainya.

Setelah serah terima Bubur Suro acara dilanjutkan dengan mbeber lan mbabar (menjelaskan) tentang makna Pawon Suro yang menggunakan bubur Suro dan tumpeng tolak balak oleh Solekan Lelono.

“Bubur Suro terbuat dari beras dan biji-bijian yang intinya sebagai gambaran dumadining (menjadinya) manusia,” imbuhnya.

Adapun unsurnya terdiri dari wos (beras) yang suci dan biji-bijian kedelai yang berbentuk tempe telor dadar dan ayam suwir.

Selain itu juga terdapat Tumpeng Pring Apus tumpeng khas tolak balak Dusun Ngrembuk yang artinya sebagai manusia tidak mudah tertipu dengan gemerlap dunia yang sifatnya hanya tipuan belaka sehingga manusia mudah untuk berbuat salah atau dosa.

“Semoga dengan Tumpeng Pring Apus ini segala macam penyakit marabahaya bencana dan pagebluk segera sirna,” pungkasnya.(*/had)