Code of Silence

Dr Riyanto, Budayawan dan Akademisi Universitas Brawijaya. (ist)

Oleh: Dr Riyanto*

“Musuh polisi adalah polisi itu sendiri …..

Capa Octamus berapi-api. Cerita Timor-Timur, Aceh, Poso, dan penugasan lainnya. Sesanti perangnya, “tampak, gerak, tembak !

Dengan sabar mengarahkan setiap petembak. Beliau sangat sopan berhati-hati. Tahu persis, Kita bukan tentara yang harus dimarahi

“Hendaknya bapak-bapak fahami, pelatuk senjata tidak boleh disentak. Tekan dan tarik pelan-pelan, biar meletus sendiri.

“Pelan, pelaan, satu, dua, tiga ….. doaar !!!

Suara Glock sangat keras. Senjata tidak “gemen-gemen. Hanya disandang oleh perwira.

“Nggak apa-apa, coba ulang lagi. Bapak belum terbiasa. Di kampus terlalu banyak lihat mahasiswa cantik. Sniper serius itu berusaha membuat saya santai. Akhirnya jarak 10 meter, dua peluru tepat sasaran”.

Prajurit gagah perkasa. Setiap penugasan dilewati dengan baik. Musuh dibinasakan. Mereka terlatih untuk membunuh atau dikebumikan.

Pak RT perumahan perwira mengatakan, “Kata orang, seperti suara petasan ! Pestol Glock yang mengkaparkan Brigadir Je, kurang meyakinkan. Kata masyarakat seperti petasan.”

Akhirnya, lima jendral, ahli forensik, pengacara, pada menuntut. Mungkin tentang suara Glock kok seperti petasan. Fokus bergeser ke penganiayaan, pembunuhan tak berperikemanusiaan, bukan semata penembakan.

Mengapa banyak ahli berkomentar ?
Gugurnya Brigadir Je, adalah pertaruhan. Melawan “Code of silence. Melindungi sesama kolega, terutama atasan. Untuk menjaga nama baik kaprajan.

Semoga segera terbuka terang benderang. Untuk melindungi nama baik kepolisian.

*Dr Riyanto : Budayawan dan Akademisi Universitas Brawijaya

*Isi tulisan menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya.