BACAMALANG.COM — Sebuah foto tidak hanya merekam apa yang terlihat. Di dalamnya, tersimpan cerita tentang manusia, ruang, perubahan, bahkan perjalanan sebuah kota.
Hal itu terlihat saat Wali Kota Malang Dr. Ir. Wahyu Hidayat, MM mengunjungi pameran fotografi “Tanah, Pangan dan Harapan” Pewarta Foto Indonesia (PFI) Malang, Sabtu (26/9/2026) di Gedung Parkir yang disulap menjadi Galeri Kayutangan tersebut. Saat berdiskusi mengenai sejumlah karya yang dipamerkan, Wali Kota mengaitkan fotografi dengan perubahan yang terjadi di Kota Malang, salah satunya melalui karya yang merekam kawasan Pasar Gadang.
Wali Kota kemudian menceritakan pengalamannya ketika masih menjadi Camat Tajinan sekitar dua dekade lalu. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari cara pandangnya saat melihat persoalan Pasar Gadang.
Menurutnya, sebuah foto dapat menjadi medium untuk melihat kembali bagaimana sebuah tempat berkembang dari waktu ke waktu. Foto tidak sekadar menunjukkan kondisi sebuah lokasi, tetapi juga dapat menghadirkan konteks dan cerita di balik perubahan tersebut.
“Foto tentang Pasar Gadang menjadi menarik, karena ditampilkan dalam angle yang berbeda dan tidak biasa di media-media, apalagi di sini ada before dan after-nya” ungkap Wali Kota.
Oleh karena itu, ketika kemudian menjadi wali kota Malang, ia mengaku kerap menerima masukan masyarakat mengenai kondisi Pasar Gadang, termasuk melalui media sosial.

Wali Kota Malang Dr. Ir. Wahyu Hidayat, MM (tengah), bersama peserta diskusi pameran foto “Tanah, Pangan dan Harapan” di Galeri Kayutangan, Kota Malang, Sabtu (29/6/2026). (Dok PFI Malang)
“Ini dari permintaan juga. Dari banyak orang-orang yang selalu saya temui, ketemu di mana-mana, di media sosial saya. Selalu banyak masalah Pasar Gadang,” ujarnya.
Bagi Wali Kota, karya fotografi yang merekam sebuah tempat seperti Pasar Gadang dapat menjadi cara untuk melihat perjalanan sebuah kawasan secara lebih utuh. Kondisi masa lalu dan perubahan yang terjadi kemudian menjadi bagian dari cerita yang dapat dibaca melalui visual.
Ia menilai kekuatan fotografi terletak pada kemampuan fotografer menghadirkan sudut pandang yang tidak selalu terlihat dalam pemberitaan sehari-hari.
Menurutnya, sudut pandang tersebut membuat penonton tidak berhenti pada apa yang terlihat secara visual. Sebaliknya, sebuah foto dapat mendorong orang untuk bertanya dan mencari tahu cerita yang ada di baliknya.
Pandangan serupa ia sampaikan ketika melihat sejumlah karya lain dalam pameran. Salah satunya foto yang menggambarkan kehidupan sebuah keluarga di dalam rumah.
Dari elemen-elemen sederhana yang hadir dalam foto, Wali Kota melihat adanya cerita mengenai kehidupan, identitas, hingga nasionalisme. Baginya, fotografer mampu menghadirkan cerita tanpa harus menjelaskan semuanya melalui teks.
“Yang tidak biasa ini menjadi sesuatu yang menarik. Yang tidak bisa kita lihat semua, yang tidak biasa tapi tampilannya juga membuat orang pertama ini melihat, ingin langsung kemudian berpikir,” ujarnya.
Pameran PFI Malang tahun ini mengangkat tema “Tanah, Pangan, dan Harapan”. Tema tersebut juga menjadi ruang untuk melihat berbagai persoalan masyarakat melalui perspektif fotografi, mulai dari tanah dan pangan hingga harapan yang tumbuh di tengah perubahan zaman.
Wali Kota menilai tema tersebut relevan dengan persoalan yang tengah dihadapi masyarakat, termasuk keterbatasan tanah, persoalan pangan, serta harapan terhadap masa depan.

Wali Kota Malang Dr. Ir. Wahyu Hidayat, MM, saat mengikuti diskusi pameran foto “Tanah, Pangan dan Harapan” di Galeri Kayutangan, Kota Malang, Sabtu (29/6/2026). (Dok PFI Malang)
Melalui kunjungannya, Wali Kota berharap pameran fotografi seperti yang digelar PFI Malang dapat terus berkembang dan menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Baginya, ketika sebuah karya mampu menghadirkan cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat, fotografi tidak hanya menjadi karya visual, tetapi juga menjadi medium untuk memahami perubahan di sekitar.
Diskusi pada hari ketiga tersebut menghadirkan Kurator Pameran, Idealita Ismanto serta perwakilan pameris Suci rahayu (Kompas.com) dan Muhammad Firman (Malang Posco Media). Diskusi dihadiri sejumlah photography enthusiasts dari berbagai kalangan dan masyarakat umum, termasuk perwakilan Astragraphia sebagai salah satu pendukung utama pameran.
Pameran fotografi PFI Malang berlangsung hingga Minggu (27/9/2026), dan dapat dinikmati secara gratis mulai pukul 09.00 hingga 21.00 WIB.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW





















































