DPC PDIP Kabupaten Malang: Refleksi Kudatuli, Menjaga Demokrasi Tetap Bernyawa - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

MALANG RAYA · 28 Jul 2026 06:46 WIB ·

DPC PDIP Kabupaten Malang: Refleksi Kudatuli, Menjaga Demokrasi Tetap Bernyawa


 Puncak peringatan peristiwa Kudatuli yang digelar DPC PDI Perjuangan Kabupatean Malang berlangsung di Ruang Paripurna DPRD Kabupaten Malang. (ist) Perbesar

Puncak peringatan peristiwa Kudatuli yang digelar DPC PDI Perjuangan Kabupatean Malang berlangsung di Ruang Paripurna DPRD Kabupaten Malang. (ist)

BACAMALANG.COM – Peringatan peristiwa Kudatuli (Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli) di Kabupaten Malang mencapai puncaknya melalui forum diskusi publik bertajuk ‘Meretas Jalan Demokrasi’ yang digelar DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang, Senin (27/7/2026).

Rangkaian peringatan sebelumnya telah dilaksanakan melalui kegiatan khotmil Quran dan malam renungan pada, Minggu (26/7/2026), sebagai bentuk refleksi sejarah sekaligus penghormatan terhadap perjuangan demokrasi.

Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang sekaligus Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Malang, Abdul Qodir, menegaskan bahwa Kudatuli bukan sekadar catatan sejarah, tetapi menjadi pengingat penting bahwa demokrasi harus terus dijaga oleh seluruh elemen bangsa.

Menurutnya, peristiwa tersebut mengajarkan bahwa ketika ruang demokrasi dipersempit, rakyat akan selalu memiliki keberanian untuk memperjuangkan hak-haknya.

“Kudatuli mengandung pelajaran berharga bagi kehidupan demokrasi kita. Peristiwa itu mengingatkan bahwa demokrasi bukan hadiah dari penguasa, tetapi sesuatu yang harus terus diperjuangkan dan dijaga bersama,” ujar Abdul Qodir.

Ia juga menekankan bahwa pemerintahan yang demokratis harus selalu membuka ruang partisipasi masyarakat dalam setiap proses pengambilan kebijakan.

“Pemerintah tidak boleh berjalan dengan cara-cara yang menjauh dari rakyat. Kritik, masukan, dan partisipasi publik adalah bagian penting dari demokrasi yang sehat,” imbuhnya.

Forum diskusi yang berlangsung di Ruang Paripurna DPRD Kabupaten Malang tersebut dihadiri sekitar 400 peserta dari berbagai latar belakang, mulai mahasiswa, pemuda, jurnalis, akademisi hingga tokoh masyarakat.

Kegiatan ini menjadi ruang terbuka bagi berbagai perspektif untuk membicarakan masa depan demokrasi, terutama dalam menghadapi tantangan zaman yang terus berubah.

Abdul Qodir menambahkan, Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Malang memandang kritik masyarakat sebagai energi positif dalam menjalankan fungsi pengawasan.

“Bagi kami, kritik adalah vitamin demokrasi. Kritik yang konstruktif menjadi bahan evaluasi agar fungsi legislatif dapat berjalan memastikan setiap perencanaan dan program pemerintah benar-benar berpihak kepada kepentingan masyarakat,” jelasnya.

Dalam forum tersebut hadir dua narasumber, yakni Dosen Universitas Airlangga Dr. Suko Widodo, Drs., M.Si. dan Praktisi Budaya Dr. Agung Suprojo, S.Kom., M.AP.

Suko Widodo menyampaikan bahwa tantangan demokrasi saat ini bukan hanya persoalan tekanan politik, tetapi juga melemahnya daya kritis generasi muda akibat berbagai bentuk distraksi dan pragmatisme.

Menurutnya, hilangnya idealisme generasi muda merupakan ancaman serius bagi masa depan demokrasi.

“Setiap upaya merampas idealisme adalah bentuk penjajahan. Ketika generasi muda dibuat nyaman hingga kehilangan kepedulian terhadap persoalan sosial, maka demokrasi kehilangan penjaganya,” kata Suko.

Ia mendorong mahasiswa dan pemuda untuk kembali membangun kepekaan sosial dari lingkungan terdekat. Demokrasi, menurutnya, tidak cukup hanya dibicarakan melalui ruang digital, tetapi harus hadir dalam keberpihakan nyata terhadap persoalan masyarakat.

“Jangan hanya melihat persoalan besar di media sosial. Demokrasi harus dimulai dari kemampuan melihat dan merasakan persoalan rakyat di sekitar kita,” pungkasnya.

Pewarta : Dhimas Fikri
Editor/Publisher : Rahmat Mashudi Prayoga

Artikel ini telah dibaca 12 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Reses Bersama Komunitas Koperasi Wanita, Dr Sri Untari Perkuat UKM Lewat Pelatihan dan Dorong Transformasi Digital

28 Juli 2026 - 08:14 WIB

Warga Keluhkan Jalan Jurang Metro Licin Akibat Tumpahan Air Tahu, Sejumlah Pengendara Jatuh

27 Juli 2026 - 16:47 WIB

Dari Uang Jajan yang Tipis Sampai Financial Freedom: Bagaimana Menaklukkan Tiap Fase Finansial Bagi Anak Muda?

27 Juli 2026 - 14:41 WIB

Protes Keras Frasa “Kami Bukan Londo Ireng”, Lintas Organisasi Wartawan Malang Raya Gelar Aksi Damai di Bundara Tugu Malang

27 Juli 2026 - 14:13 WIB

Insan Pers Malang Raya Gelar Aksi Damai, Desak Presiden Prabowo Minta Maaf atas Sebutan ‘Londo Ireng’

27 Juli 2026 - 12:36 WIB

Aksi “Kami Bukan Londo Ireng”, PFI Malang: Kemerdekaan Pers Tak Boleh Dibungkam

27 Juli 2026 - 12:15 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !