Guru Besar MIPA UB Kembangkan µPADs, Lompatan Besar Inovasi Deteksi Dini Penyakit Ginjal, Lebih Cepat, Murah, dan Bisa Dipakai di Mana Saja - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

MALANG RAYA · 14 Mar 2026 14:59 WIB ·

Guru Besar MIPA UB Kembangkan µPADs, Lompatan Besar Inovasi Deteksi Dini Penyakit Ginjal, Lebih Cepat, Murah, dan Bisa Dipakai di Mana Saja


 Guru Besar bidang Analitik dan Material dari Departemen Kimia Fakultas Mataematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Brawijaya (FMIPA UB), Prof. Akhmad Sabarudin, S.Si., M.Sc., Dr.Sc (paling kanan), saat paparan dalam NGOPI SAM edisi kedua di gedung MIPA Center UB, Jumat (13/3/2026). (Nedi Putra AW)  Perbesar

Guru Besar bidang Analitik dan Material dari Departemen Kimia Fakultas Mataematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Brawijaya (FMIPA UB), Prof. Akhmad Sabarudin, S.Si., M.Sc., Dr.Sc (paling kanan), saat paparan dalam NGOPI SAM edisi kedua di gedung MIPA Center UB, Jumat (13/3/2026). (Nedi Putra AW)

BACAMALANG.COM-Jumlah kasus gagal ginjal dalam kurun waktu 2024-2025 melonjak tajam 9 kali lipat. Sementara data BPJS Kesehatan tahun 2019, beban biaya penyakit ginjal mencapai Rp6,5 triliun dan melonjak tajam mencapai Rp11 triliun pada 2024. Sebagian besar kasus gagal ginjal ini tidak muncul secara tiba-tiba, karena banyak yang berawal dari penyakit yang bisa dikendalikan seperti hipertensi, diabetes dan penyakit metabolik lainnya.

Oleh karena itu pencegahan dini menjadi faktor penting, mengingat banyak pasien yang datang sudah dalam keadaan stadium lanjut, sehingga memerlukan terapi hemodialisis rutin sebagai pengganti fungsi ginjal. Sedangkan ginjal adalah organ vital yang bertugas menyaring limbah dari darah. Saat fungsinya menurun, seseorang bisa terkena penyakit ginjal (nefropati) yang perlahan bisa menjadi kronis, gagal ginjal, dan berujung pada kematian.

Namun deteksi dini kerap menjadi masalah utama. Salah satunya harus melakukan cek darah melalui laboratorium, sehingga diperlukan tindakan invasif. Berangkat dari kondisi ini, tim peneliti yang dipimpin oleh Prof. Akhmad Sabarudin, S.Si., M.Sc., Dr.Sc mencoba memberikan solusi. Sejak 2018, mereka mengembangkan alat pendeteksi dini gangguan ginjal yang sederhana, murah, dan mudah dibawa ke mana-mana (portabel). Konsepnya mirip dengan alat tes kehamilan, tapi untuk mendeteksi kesehatan ginjal.

Guru Besar bidang Analitik dan Material dari Departemen Kimia Fakultas Mataematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Brawijaya (FMIPA UB) ini merancang alat untuk mengukur Rasio Albumin-Kreatinin (ACR) dalam urin. Inovasi ini disebut sebagai Microfluidic Paper-based Analytical Devices (µPADs), sebuah alat berbasis kertas dengan saluran mikro yang bisa mengalirkan sampel urin dan bereaksi dengan bahan kimia tertentu.
“Rasio ini adalah “alarm” dini yang andal, yakni jika kadar albumin (protein) dalam urin tinggi, itu tandanya ginjal mulai “bocor” dan tidak menyaring darah dengan baik. Pemeriksaan ini tidak perlu ribet, cukup dengan sampel urin sewaktu, tidak perlu dikumpulkan 24 jam,” terangnya dalam NGOPI SAM edisi kedua di gedung MIPA Center UB, Jumat (13/3/2026).

Prof. Sabarudin menguraikan, deteksi dini dengan µPADs ini sesuai dengan standar WHO yakni Terjangkau, Sensitif, Spesifik, Mudah Digunakan, Cepat, dan Bisa Sampai ke Tangan yang Membutuhkan, mengingat metode pemeriksaan di rumah sakit memang sudah akurat, tapi alatnya mahal, besar, dan harus dioperasikan oleh tenaga ahli. Ini tentu sulit dijangkau oleh puskesmas di pelosok atau masyarakat yang tinggal jauh dari rumah sakit.

Ada dua cara membaca hasilnya, yakni dengan Perubahan Warna, dimana semakin pekat warnanya, semakin tinggi kadar zat yang dideteksi. Sementara cara kedua adalah memalui Jarak Rambatan Warna, yang mirip seperti air yang meresap di kertas, semakin jauh warna bergerak, semakin tinggi kadarnya.

“Namun, tantangannya adalah batas perubahan warna sering tidak jelas, sehingga sulit diukur secara akurat, sehingga kami menambahkan partikel emas berukuran nano (AuNPs) ke dalam reagen kimia yang digunakan. Partikel ini bereaksi dengan kreatinin dan albumin dalam urin, menciptakan batas warna yang lebih tegas dan tajam, sehingga hasilnya lebih akurat,” jelasnya.

Tidak berhenti di situ, bersama timnya pria kelahiran Pamekasan ini juga mendesain ulang alat tersebut dengan menambahkan konektor 3D di antara area sampel dan area deteksi. Desain ini berfungsi seperti “pintu ” yang mengatur aliran urin, mencegah percampuran reagen yang tidak diinginkan, sehingga hasil pengukuran menjadi lebih presisi. Alat inovatif ini akhirnya dinamakan 3D-µPADs.

“Hasilnya? Ketika diuji pada 100 sampel urin pasien di RSSA Malang, akurasi alat ini mencapai 93,48% dan sangat presisi, sebanding dengan alat standar emas di rumah sakit (ROCHE COBAS c503),” ungkapnya.

Menurut Prof. Sabarudin, meski sangat akurat, alat ini masih mengandalkan mata manusia untuk membaca hasilnya, yang bisa menimbulkan perbedaan pendapat atau subjektivitas, apalagi jika digunakan oleh banyak orang dengan latar belakang berbeda. Langkah berikutnya adalah mengintegrasikan kecerdasan buatan atau machine learning (ML) ke dalam sistem.
“Teknologi ML akan “belajar” dari ribuan gambar hasil tes untuk kemudian secara otomatis membaca dan mengklasifikasikan hasil ACR dengan objektif dan konsisten. Algoritma seperti Random Forest atau Support Vector Machine akan membantu memastikan bahwa interpretasi hasil tidak lagi bergantung pada siapa yang membaca, tapi pada data yang akurat,” paparnya.

Ia menambahkan, bahwa dengan integrasi ini, maka akan didapat sistem deteksi nefropati yang memiliki tiga keunggulan utama, antara lain
(1) Hasil Stabil dan Akurat: Desain 3D dan partikel emas memastikan reaksi kimia berjalan optimal.
(2) Interpretasi Objektif: Kecerdasan buatan menghilangkan tebak-tebakan dan subjektivitas.
(3) Praktis dan Portabel: Dikemas dalam aplikasi digital, alat ini bisa digunakan di lapangan, di komunitas, atau fasilitas kesehatan primer tanpa perlu laboratorium canggih.

“Harganya juga relatif murah, yakni satuannya kurang dari $1 per lembarnya, apalagi nanti jika sudah dikemas lebih banyak tentu akan lebih hemat juga. Ke depan, prototipe ini diharapkan tidak hanya menjadi alat skrining, tapi juga bagian dari transformasi layanan kesehatan menuju sistem yang lebih prediktif (bisa meramal risiko), preventif (mencegah), dan presisi (tepat sasaran). Sebuah langkah kecil dari kertas dan partikel emas, untuk lompatan besar dalam menyelamatkan jutaan ginjal,” tegasnya.

Ia berharap inovasi µPADs dari penelitian yang juga didukung LPDP dan RSSA ini dapat segera diproduksi sebagai alat kesehatan yang mudah diperoleh masyarakat awam.
“Kami sebagai dari akademisi sudah berusaha di bidang risetnya, sehingga besar pula harapan kami agar hilirasinya dapat segera terwujud,” pungkasnya.

NGOPI SAM edisi kedua ini juga menghadirkan narasumber Chaerul Firmansyah, alumnus FMIPA UB yang menjadi VP Commercial & Government Relations TexCal Energy Incorporated dalam sebuah diskusi yang dipandu Wakil Dekan Bidang Umum, Keuangan, dan Sumberdaya Zulfaidah Penata Gama, S.Si., M.Si., Ph.D, serta didampingi Dekan FMIPA UB, Prof. Sukir Maryanto, S.Si., M.Si., Ph.D, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kewirausahaan Mahasiswa, Prof. Chomsin Sulistya Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D dan Nurjannah, S.Si., M.Phil., Ph.D, Wakil Dekan Bidang Akademik FMIPA UB

Pewarta/Editor: Nedi Putra AW

Artikel ini telah dibaca 19 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Satresnarkoba Polresta Malang Kota Bongkar 32 Kasus: Sita 8,9 Kg Ganja, 1,6 Kg Sabu dan 1.500 Botol Miras Ilegal

8 Mei 2026 - 18:33 WIB

Kedungpedaringan Geger! Lovebird Peliharaan Warga Hilang Bergiliran

8 Mei 2026 - 17:39 WIB

Motor Vario 125 Raib Digondol Maling di Kosan Lowokwaru Kota Malang

8 Mei 2026 - 15:46 WIB

Heboh Dugaan Jual Beli Stan PKL Alun-Alun Kota Batu, Pedagang Serahkan Bukti Transfer ke Polisi

8 Mei 2026 - 15:19 WIB

Polres Malang Tetapkan 4 Tersangka Kasus Penyerangan Wisawatan di Pantai Wediawu

8 Mei 2026 - 13:51 WIB

Mekanik di Tumpang Dilaporkan ke Polisi, Diduga Gelapkan Motor Konsumen

8 Mei 2026 - 11:54 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !