Jaksa Dokter Polisi

Dr Riyanto Budayawan dan Akademisi Universitas Brawijaya Malang. (ist)

Oleh : Dr Riyanto*

Jaksa Dokter Polisi…
“Tiga profesi yang tidak disarankan …..

Romo Kyai Asir bicara slengek-an.
“To, bentar lagi, banyak orang diduding, mati !
Dengan santai saya jawab, “Romo Kyai ini, ada-ada saja. Masak diacungi telunjuk, mati …..

Satu bulan setelah guyon itu.
Dees, des, desss
Dar, der, dor …..
Mayat di jalan, tengah pasar, parit, sawah, bergelimpangan.
Preman menemukan jalan.
Senjata api pistol itu telunjuk jari.

Menjelang meninggal, beliau mengatakan, “Aja dadi jeksa, dokter, lan polisi (jangan jadi jaksa, dokter, dan polisi)….

Bukankah tiga – tiganya mulia. Jaksa memberikan tuntutan keadilan, dokter tugas kemanusiaan, polisi rasa ketentraman.

Belum sempat (saya) bertanya ke Romo, beliau meninggal dunia.
Wajahnya bersih, tidak sakit, tanpa beban.
“Mandilah sebelum matahari terbit. Karena obat menguap bersama munculnya fajar.
Kalimat terakhir “si-embahku yang sampai kini masih terngiang….

Leluhur terdahulu, bertutur pendek, bercerita panjang …..

*Dr Riyanto Budayawan dan Akademisi Universitas Brawijaya Malang

*Isi tulisan menjadi tanggung jawab sepenuhnya penulis.