BACAMALANG.COM – Kampung Bahasa Mandarin di Dusun Tumpuk Tulungagung, yang merupakan hasil kerjasama Yayasan Kampung Mandarin Sejahtera bersama Universitas Ma Chung serta Pemerintah Kabupaten Tulungagung, tokoh masyarakat, dan tokoh agama ini diresmikan Sabtu (1/7/2023).
Terselip satu adegan menarik di sela peresmian yang berlangsung meriah tersebut. Novi Basuki, seorang alumnus Pondok Pesantren Nurul Jadid, Probolinggo terlibat perbincangan dengan ibu-ibu rumah tangga yang merupakan warga setempat yakni, Nanik, Ning, Supiah, Ganis, Kuti, dan ibu Aan.
Uniknya perbincangan mereka berlangsung dalam bahasa Mandarin. Selain bertanya kabar mereka, pembicaraan lebih banyak terfokus berapa lama para ibu ini berada di Taiwan atau di Tiongkok hingga fasih dalam berbahasa Mandarin. Jawabannya pun cukup mengejutkan karena rata-rata mereka lebih dari 10 tahun bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI), bahkan ada yang sudah 22 tahun.
“Salah satu adab orang Tiongkok adalah tidak mau menunjukkan kepintarannya walaupun mereka memang pintar. Seperti ibu-ibu ini yang sangat fasih berbicara Mandarin tapi tetap saja bilang hanya bisa sedikit-sedikit,” ungkapnya.
Adegan ini semakin menarik karena Novi menyerahkan penerjemahan perbincangan dengan ibu-ibu tersebut bagi para undangan kepada seorang pemuda beretnis china yang saat itu menjadi pemandu acara atau MC.
Novi sendiri adalah santri yang sejak tahun 2010 menempuh pendidikan S1 sampai S3 di Tiongkok selama 10 tahun. Ia berpendapat bahwa belajar berbahasa Mandarin atau bahkan menuntut ilmu di Negeri Tirai Bambu tersebut tidaklah melunturkan kadar Indonesia bahkan keagamaannya.
“Dulu sempat para kerabat dan tetangga khawatir, apakah nanti setelah dari Tiongkok saya malah jadi komunis, sering makan babi dan sebagainya, yang ternyata tidak terjadi. Intinya kadar keindonesiaan saya tidak berubah dan tetap bangga menjadi seorang muslim,” ujar pria yang mengambil S2 jurusan Hubungan Internasional (HI) dengan spesifikasi hubungan Tiongkok dengan Asia Tenggara ini.
Menurut Novi, akan dibawa kemana Kampung Bahasa Mandarin ini, akan menentukan kurikulum macam apa yang akan dipakai. Apakah sebagai bahasa sehari-hari untuk memperkenalkan Indonesia ke luar negeri, apakah sebagai bahan untuk belajar ke Tiongkok dan sebagainya.
“Memang seperti yang dikatakan Kepala Desa, perlu diselipkan juga muatan kearifan lokal seperti apa bahasa mandarin dari candi, salat, masjid, gereja, pantai ataupun goa yang terkenal di daerah Tulungagung ini sesuai dengan kondisi riil yang ada, selain sebagai upaya menjaga estetika agar tidak terjadi pergeseran sosial budaya,” paparnya.
Novi berpendapat belajar bahasa Mandarin menjadi wajib karena bahasa Inggris sudah termasuk pasaran, apalagi sejak 1978 Tiongkok membuka diri dan menjadi salah satu negara adidaya yang dapat menyaingi Amerika.
Oleh karena itu ia berterimakasih kepada Rektor Ma Chung Prof Murpin sebagai inisiator, maupun Kepala Desa yang sudah membuka diri sehingga tidak perlu jauh-jauh ke Tiongkok, namun cukup ke Tumpuk untuk belajar bahasa Mandarin.
“Selain bahasa, banyak yang bisa dipelajari dari Tiongkok. Namun memang penguasaan bahasa sebagai pengantar menjadi penting untuk mempelajari hal lainnya tersebut,” ungkap pengasuh rubrik pepatah Tiongkok di media yang dikelola Dahlan Iskan ini.
Novi sendiri datang mewakili mantan Menteri BUMN yang kebetulan berhalangan hadir dan berjanji akan datang ke Dusun Tumpuk lewat paparan yang disampaikan dalam rekaman video di hadapan para undangan.
Sebagai informasi, nama Dahlan sendiri tak bisa dilepaskan dari Tiongkok sejak kisah dan semangatnya menjadi fenomenal usai menjalani operasi transplantasi hati di Tianjin First Center Hospital, Tiongkok pada 6 Agustus 2007 silam.
Namun Novi menyatakan, pola Kursus Bahasa Mandarin di Dusun Tumpuk saat ini sudah lebih dari cukup. Tapi ia menambahkan, bahwa bahasa itu terbentuk dari lingkungan, bukan hanya kelas saja.
“Ke depan saya menyarankan, bahwa selain dengan guru yang ada dan keterlibatan warga setempat, mungkin akan lebih menarik apabila Ma Chung menghadirkan native speaker atau penutur asli dari Tiongkok untuk praktik ‘conversation’nya,” tandas dosen di salah satu kampus di Surabaya ini.
Terpisah, sejarawan Dwi Cahyono melihat bahwa maraknya bahasa Mandarin di daerah pelosok ini tidak bisa dilepaskan dari fenomena maraknya Pekerja Migran Indonesia (PMI), baik itu TKI maupun TKW ke luar negeri.
“Dulu mereka banyak pergi ke daerah Timur Tengah, namun sekarang banyak ke Asia Timur, khususnya Tiongkok dan Korea,” ujar pria kelahiran Tulungagung ini.
Dwi mengatakan, setiap daerah punya keminatan tujuan sendiri, misalnya orang Blitar banyak yang ke Korea. Sementara akhir-akhir ini Tiongkok atau Taiwanlah yang menjadi favorit tujuan para pencari kerja dari Tulungagung, khususnya sub area Selatan yang merupakan basis PMI.
“Mereka tentu mengikuti pembelajaran bahasa sebelum berangkat atau dikirim, istilah jawanya supaya tidak ‘nol potol’ bekerja di negeri orang,” tuturnya.
Dijelaskan Dwi, bekal dasar berbahasa asing itu semakin terasah ketika mereka bekerja di Tiongkok maupun Taiwan, yang membuat kemampuan para PMI ini semakin moncer.
Menurut arkeolog ini, dari sosio kulturnya pengaruh etnik china perantau memang cukup besar di Tulungagung. Namun itu di daerah perkotaaan tidak sampai ke daerah, apalagi di desa Besuki yang masuk sub area Selatan. Dari sejarahnya, tercatat Desa Besuki dahulu merupakan kawasan hutan dan rawa yang terdapat banyak ikan, hingga disebutkan asal-usul Desa Besuki adalah dari kata bahasa Jawa yakni “Ngembes di susuki”.
“Jadi ini sesuatu yang unik dan baru, selain orang-orang ini bisa berbahasa Mandarin karena benar-benar terkait faktor ketenagakerjaan, wilayah Dusun Tumpuk seolah menjadi semacam enklave,” ungkapnya.
Dwi menilai hadirnya Kampung Bahasa Mandarin di Dusun Tumpuk ini juga memberi warna baru akulturasi di sisi budaya.
“Sehingga selain kursus bahasa, saya berharap ada adaptasi dari kultur mandarin yang masuk nantinya bisa berkembang menjadi sesuatu yang lain, seperti Mandarin yang ‘nJawani’ misalnya,” pungkas Dwi.
Pewarta : Nedi Putra AW
Editor/Publisher : Aan Imam Marzuki



























































