Kedai Ramah Djiwa, Menikmati Kopi Dengan Udara Segar di Tengah Kota

Pengunjung menikmati suasana di Kedai Ramah Djiwa Kota Malang, Sabtu (21/8/2021). (ned)

BACAMALANG.COM – Salah satu bisnis yang masih bertahan di masa pandemi ini adalah warung kopi. Adanya PPKM dengan berbagai level yang diterapkan tidak menyurutkan minat masyarakat untuk menghabiskan waktu mereka bersama dengan teman atau keluarga di warung kopi. Hal ini pula yang mendorong para pelaku usaha tetap berusaha memenuhi keinginan warga dengan mempertahankan bahkan membuka usaha warung kopi.

Seperti Kedai Ramah Djiwa, sebuah kedai kopi yang justru memulai beroperasi di tengah badai pandemi ini. Berlokasi di salah satu sudut perkampungan padat di Jalan Letjen Sutoyo gang IV Kota Malang, kedai kopi yang beroperasi di awal bulan Agustus 2021 ini menawarkan suasana berbeda dari warung kopi lainnya.

“Sebenarnya konsepnya adalah tempat makan sekaligus roastery yang mengarah ke garden resto, karena pengunjung dapat menikmati kopi di tengah suasana taman hijau yang segar,” ungkap pengelola Kedai Ramah Djiwa, Kenny Handriyanto,39, Sabtu (21/8/2021).

Selain itu, ujar Kenny, pengunjung dapat menikmati makanan dan minuman lepas dari hiruk pikuk suara kendaraan yang lalu lalang, serta bercengkrama dalam suasana nostalgia dengan furniture jaman lawas.
Kenny menuturkan, bahwa konsep ini juga menyesuaikan dengan PPKM kondisi di masa pandemi saat ini. Berdiri di atas lahan seluas 700 meter persegi, Kedai Ramah Djiwa mempunyai space cukup luas untuk penerapan protokol kesehatan. Mulai dari jarak antar meja, ruang terbuka hijau maupun ketersediaan wastafel serta hand sanitizer maupun kamar kecil hingga musholla. “Waktu operasonal juga kami sesuaikan dengan peraturan saat ini,” imbuhnya.

Dia menjelaskan, bahwa kedainya pada intinya menawarkan konsep yang homy, sehingga pengunjung yang datang bukan hanya dari kalangan anak muda saja, namun beberapa juga dari komunitas dan keluarga. “Yang pasti, makanan dan minuman di sini harganya terjangkau,” tegas pria yang juga mengajar halalfoodpreneur di salah satu pondok pesantren ini.

Ia juga mengaku telah menjalin kerjasama dengan warga setempat, sehingga operasional tetap berjalan lancar meski berada di tengah perkampungan.
Salah seorang pelanggan, Sri Widiastuti, mengaku sudah ketiga kali berkunjung ke kedai yang belum berusia sebulan ini.

“Saya merasa cocok karena tempatnya sesuai dengan penerapan protokol kesehatan seperti wastafel, jarak meja makan, hingga menikmati makanan di ruang terbuka yang menjadi hal penting di era pandemi saat ini,” ungkapnya.

Ibu dua anak ini menjelaskan, bahwa dirinya biasanya datang bersama keluarga, sehingga tidak khawatir jika anaknya yang masih kecil bermain di taman yang merupakan bagian dari kedai ini. “Selain itu kembali ke tujuan utama kalau kita ke resto, yaitu cocok dengan makanan serta racikan kopinya,” aku wanita yang menggeluti bisnis online ini.

Keberadaan warung kopi sebagai salah satu UMKM ini juga menjadi kolaborasi berkesinambungan bagi petani kopi. Seperti diungkapkan, Andriyanto,27, yang menjadi supplier biji kopi mentah atau green coffee beans.
“Alhamdulillah, saya sudah empat tahun terakhir menyalurkan biji kopi ke berbagai coffee roastery, dan kini salah satunya di Kedai Ramah Djiwa ini, karena saat pandemi ini prinsipnya adalah bukan bersaing, namun grow up together atau tumbuh bersama,” ujarnya.

Ia mengaku sangat senang dengan banyaknya munculnya coffe roastery, sehingga dapat menyerap hasil bumi dari perkebunan kopi yang ada di Malang Raya pada khususnya. Sarjana Ekonomi dari Univeristas Brawijaya ini mengaku bangga menjadi petani kopi dan dapat menggarap kebunnya yang ada di lereng gunung Arjuno, di Kabupaten Lawang.

“Walaupun pandemi ini bertepatan dengan masa panen kopi, namun kita harus optimis, agar tetap dapat mempertahankan kebun yang kita olah maupun orang-orang yang terlibat di dalamnya,” tandasnya. (ned)