Kedai Ramah Djiwa, Menikmati Kopi Dengan Udara Segar di Tengah Kota - BACAMALANG.COM

Menu ✖

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

KULWIS · 21 Agu 2021 17:20 WIB ·

Kedai Ramah Djiwa, Menikmati Kopi Dengan Udara Segar di Tengah Kota


 Kedai Ramah Djiwa, Menikmati Kopi Dengan Udara Segar di Tengah Kota Perbesar

BACAMALANG.COM – Salah satu bisnis yang masih bertahan di masa pandemi ini adalah warung kopi. Adanya PPKM dengan berbagai level yang diterapkan tidak menyurutkan minat masyarakat untuk menghabiskan waktu mereka bersama dengan teman atau keluarga di warung kopi. Hal ini pula yang mendorong para pelaku usaha tetap berusaha memenuhi keinginan warga dengan mempertahankan bahkan membuka usaha warung kopi.

Seperti Kedai Ramah Djiwa, sebuah kedai kopi yang justru memulai beroperasi di tengah badai pandemi ini. Berlokasi di salah satu sudut perkampungan padat di Jalan Letjen Sutoyo gang IV Kota Malang, kedai kopi yang beroperasi di awal bulan Agustus 2021 ini menawarkan suasana berbeda dari warung kopi lainnya.

“Sebenarnya konsepnya adalah tempat makan sekaligus roastery yang mengarah ke garden resto, karena pengunjung dapat menikmati kopi di tengah suasana taman hijau yang segar,” ungkap pengelola Kedai Ramah Djiwa, Kenny Handriyanto,39, Sabtu (21/8/2021).

Selain itu, ujar Kenny, pengunjung dapat menikmati makanan dan minuman lepas dari hiruk pikuk suara kendaraan yang lalu lalang, serta bercengkrama dalam suasana nostalgia dengan furniture jaman lawas.
Kenny menuturkan, bahwa konsep ini juga menyesuaikan dengan PPKM kondisi di masa pandemi saat ini. Berdiri di atas lahan seluas 700 meter persegi, Kedai Ramah Djiwa mempunyai space cukup luas untuk penerapan protokol kesehatan. Mulai dari jarak antar meja, ruang terbuka hijau maupun ketersediaan wastafel serta hand sanitizer maupun kamar kecil hingga musholla. “Waktu operasonal juga kami sesuaikan dengan peraturan saat ini,” imbuhnya.

Dia menjelaskan, bahwa kedainya pada intinya menawarkan konsep yang homy, sehingga pengunjung yang datang bukan hanya dari kalangan anak muda saja, namun beberapa juga dari komunitas dan keluarga. “Yang pasti, makanan dan minuman di sini harganya terjangkau,” tegas pria yang juga mengajar halalfoodpreneur di salah satu pondok pesantren ini.

Ia juga mengaku telah menjalin kerjasama dengan warga setempat, sehingga operasional tetap berjalan lancar meski berada di tengah perkampungan.
Salah seorang pelanggan, Sri Widiastuti, mengaku sudah ketiga kali berkunjung ke kedai yang belum berusia sebulan ini.

“Saya merasa cocok karena tempatnya sesuai dengan penerapan protokol kesehatan seperti wastafel, jarak meja makan, hingga menikmati makanan di ruang terbuka yang menjadi hal penting di era pandemi saat ini,” ungkapnya.

Ibu dua anak ini menjelaskan, bahwa dirinya biasanya datang bersama keluarga, sehingga tidak khawatir jika anaknya yang masih kecil bermain di taman yang merupakan bagian dari kedai ini. “Selain itu kembali ke tujuan utama kalau kita ke resto, yaitu cocok dengan makanan serta racikan kopinya,” aku wanita yang menggeluti bisnis online ini.

Keberadaan warung kopi sebagai salah satu UMKM ini juga menjadi kolaborasi berkesinambungan bagi petani kopi. Seperti diungkapkan, Andriyanto,27, yang menjadi supplier biji kopi mentah atau green coffee beans.
“Alhamdulillah, saya sudah empat tahun terakhir menyalurkan biji kopi ke berbagai coffee roastery, dan kini salah satunya di Kedai Ramah Djiwa ini, karena saat pandemi ini prinsipnya adalah bukan bersaing, namun grow up together atau tumbuh bersama,” ujarnya.

Ia mengaku sangat senang dengan banyaknya munculnya coffe roastery, sehingga dapat menyerap hasil bumi dari perkebunan kopi yang ada di Malang Raya pada khususnya. Sarjana Ekonomi dari Univeristas Brawijaya ini mengaku bangga menjadi petani kopi dan dapat menggarap kebunnya yang ada di lereng gunung Arjuno, di Kabupaten Lawang.

“Walaupun pandemi ini bertepatan dengan masa panen kopi, namun kita harus optimis, agar tetap dapat mempertahankan kebun yang kita olah maupun orang-orang yang terlibat di dalamnya,” tandasnya. (ned)

Artikel ini telah dibaca 372 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Jatim Park 1 Hadirkan Mega Science Center dan Budaya, Satukan 1.640 Alat Peraga dan Artefak

4 November 2026 - 20:56 WIB

Perkuat Daya Tarik Wisata Kuliner, Atria Hotel Malang Siapkan Atria Bakery untuk Desember 2026

29 Oktober 2026 - 10:55 WIB

Kopi Cuma Rp9.500! Rojo Roso Cafe Punya Pecel Rawon dan View Sunset yang Bikin Betah ‎

24 Oktober 2026 - 19:06 WIB

Jelajahi Malang di Akhir Pekan, dari Festival Kreatif hingga Wisata Penuh Cerita

17 Oktober 2026 - 17:14 WIB

Sambut HUT ke-25 Kota Batu, Mikutopia Gratiskan Tiket Masuk Selama Tiga Hari

12 Oktober 2026 - 13:59 WIB

Sejenak Berhenti dari Kesibukan, HARRIS Malang Hadirkan Wellness Studio

6 Oktober 2026 - 07:48 WIB

Trending di KULWIS

©Hak Cipta Dilindungi !