BACAMALANG.COM – Semangat inovasi mahasiswi Poltekkes Kemenkes Malang kembali membuahkan hasil. Tiga mahasiswi Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan (RMIK), yakni Nasywa Rihadatul ‘Aisy, Gadisza Zayyan Maharani Prasetio, dan Meilya Wibia, sukses mengharumkan nama almamater setelah meraih Bronze Medal kategori Bisnis Digital dalam ajang Neira Competition 3 yang digelar di Yogyakarta pada 29–30 Agustus 2026.
Kompetisi tingkat nasional tersebut diselenggarakan oleh Sentosa Foundation berkolaborasi dengan Himpunan Mahasiswa Budidaya Hutan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Dalam kompetisi tersebut, tim mempresentasikan gagasan bisnis digital bertajuk “PasarGo: Pasar Digital Malang – Belanja Kebutuhan Pasar dari Rumah”.
Ide tersebut berangkat dari keresahan terhadap keterbatasan waktu masyarakat perkotaan dalam memenuhi kebutuhan pokok melalui pasar tradisional. Gagasan ini juga didukung oleh data yang menunjukkan bahwa UMKM berkontribusi lebih dari 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sekaligus menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja.
Digitalisasi dinilai dapat membantu meningkatkan omzet pelaku usaha. Namun, biaya pengiriman masih menjadi salah satu hambatan dalam keputusan konsumen untuk berbelanja secara daring. Ongkos kirim bahkan kerap menjadi alasan konsumen membatalkan transaksi bernilai kecil dengan pedagang lokal.
Di sisi lain, Kota Malang mulai mendorong digitalisasi pasar tradisional, di antaranya melalui Pasar Klojen dan Pasar Oro-Oro Dowo. Transaksi UMKM berbasis QRIS di Kota Malang juga disebut telah menembus Rp5 triliun sepanjang Januari hingga Oktober 2024.
Berangkat dari kondisi tersebut, PasarGo hadir dengan menawarkan tiga solusi utama. Pertama, fitur Group Order yang memungkinkan pembeli dalam satu area berbagi biaya pengiriman. Kedua, fitur live chat untuk memfasilitasi komunikasi secara real-time antara pembeli dan penjual. Ketiga, dashboard pengelolaan lapak digital yang dirancang sederhana agar mudah digunakan oleh para pedagang pasar.
Selaku ketua tim, Nasywa Rihadatul ‘Aisy mengungkapkan rasa syukur dan bangganya atas pencapaian yang berhasil diraih bersama kedua rekannya. Ia menyampaikan bahwa gagasan PasarGo berawal dari observasi sederhana terhadap kebiasaan masyarakat sekitar yang mulai beralih ke belanja daring, sementara layanan serupa untuk kebutuhan pasar tradisional masih belum banyak tersedia.
Menurut Nasywa, keberhasilan tersebut menjadi motivasi bagi tim untuk terus mengembangkan PasarGo agar ke depan tidak hanya berhenti sebagai gagasan dalam kompetisi, tetapi dapat benar-benar diimplementasikan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sementara itu, Dosen Pembimbing, Edi Utomo Putro, S.KM., M.KM., menegaskan bahwa meskipun PasarGo mengusung konsep bisnis digital, gagasan tersebut tetap memiliki keterkaitan erat dengan disiplin ilmu Rekam Medis dan Informasi Kesehatan (RMIK), khususnya dalam aspek pengelolaan data dan informasi transaksi pengguna secara sistematis dan terstruktur.
Menurutnya, kemampuan mahasiswa RMIK dalam mengorganisasi dan mengelola data menjadi salah satu nilai tambah yang membedakan PasarGo dari platform belanja daring pada umumnya. Hal tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kompetensi rekam medis dan informasi kesehatan dapat diadaptasi ke berbagai sektor, termasuk dalam pengembangan bisnis digital.
Pewarta/Editor: Rahmat Mashudi Prayoga

























































