MPLS Ramah 2026 di SMP Budi Mulia: Hari Pertama Sekolah Dibuat Aman, Nyaman, dan Penuh Kesan Positif - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

MALANG RAYA · 13 Jul 2026 14:23 WIB ·

MPLS Ramah 2026 di SMP Budi Mulia: Hari Pertama Sekolah Dibuat Aman, Nyaman, dan Penuh Kesan Positif


 SMP Budi Mulia Pakisaji, Kabupaten Malang, melalui pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah 2026. (ist) Perbesar

SMP Budi Mulia Pakisaji, Kabupaten Malang, melalui pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah 2026. (ist)

BACAMALANG.COM – Hari pertama sekolah menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi setiap peserta didik. Momen ini bukan sekadar awal memasuki ruang kelas baru, tetapi juga menjadi fondasi yang memengaruhi rasa percaya diri, semangat belajar, hingga kemampuan beradaptasi di lingkungan sekolah.

Komitmen itulah yang diwujudkan SMP Budi Mulia Pakisaji, Kabupaten Malang, melalui pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah 2026. Program ini dirancang bukan hanya untuk mengenalkan lingkungan sekolah, melainkan juga menjadi langkah awal membentuk karakter peserta didik sesuai visi yayasan, yakni melahirkan generasi yang berbudi pekerti mulia.

Kepala SMP Budi Mulia, Manan Supriadi, mengatakan peserta didik baru berasal dari berbagai sekolah dasar dengan latar belakang, karakter, dan pengalaman belajar yang berbeda. Karena itu, sekolah berupaya menghadirkan proses adaptasi yang menyenangkan sekaligus membangun karakter sejak hari pertama.

“Melalui MPLS ini kami membantu peserta didik beradaptasi dengan lingkungan baru sekaligus membentuk karakter sesuai visi sekolah, yaitu menjadi pribadi yang berbudi pekerti mulia,” ujarnya.

Menurut Manan, masa pengenalan sekolah juga menjadi fase transisi penting dari jenjang sekolah dasar menuju sekolah menengah pertama. Oleh sebab itu, peserta didik dibimbing agar mampu menyesuaikan diri dengan pola belajar baru sehingga lebih siap mengikuti proses pembelajaran.

Pelaksanaan MPLS Ramah mengacu pada Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026 yang mengatur pelaksanaan kegiatan selama lima hari. Regulasi tersebut juga mewajibkan sekolah menyosialisasikan program kepada orang tua sebelum kegiatan dimulai serta menempatkan budaya sekolah yang aman dan nyaman sebagai landasan utama.

Selama lima hari, peserta didik mengikuti berbagai kegiatan yang dirancang untuk mempercepat adaptasi sekaligus memperkuat pendidikan karakter. Hari pertama diisi dengan pengenalan lingkungan sekolah, tenaga pendidik, tenaga kependidikan, serta mata pelajaran yang akan dipelajari.

Pada hari kedua, siswa dikenalkan dengan beragam kegiatan ekstrakurikuler melalui demonstrasi masing-masing organisasi dan klub sekolah agar mereka dapat memilih aktivitas sesuai minat dan bakat.

Hari ketiga diisi materi Wawasan Wiyata Mandala yang menanamkan nilai kebangsaan, kedisiplinan, dan tanggung jawab sebagai generasi penerus bangsa.

Sementara pada hari keempat, peserta didik mendapat pembinaan mengenai kemandirian. Mereka mulai dibiasakan mengelola berbagai kebutuhan sehari-hari secara mandiri sebagai bagian dari proses pendewasaan.

“Di jenjang SMP, anak-anak mulai kami latih menjadi lebih mandiri. Berbagai kebiasaan yang sebelumnya masih banyak dibantu orang tua mulai kami biasakan untuk mereka lakukan sendiri,” jelas Manan.

Hari terakhir MPLS difokuskan pada edukasi literasi digital dan penggunaan media sosial secara bijak. Peserta didik dibekali pemahaman mengenai etika bermedia sosial, kemampuan menyaring informasi, serta pentingnya menghindari penyebaran berita bohong atau hoaks.

“Anak-anak harus memahami bahwa media sosial juga memiliki etika. Mereka harus mampu memilah informasi sebelum membagikannya dan tetap menjaga sopan santun dalam setiap interaksi di ruang digital,” katanya.

Selain rangkaian MPLS, SMP Budi Mulia juga membiasakan peserta didik menerapkan tujuh kebiasaan baik yang dicanangkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, yakni bangun pagi, beribadah, berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, serta tidur lebih awal.

“Kebiasaan tersebut diharapkan menjadi budaya positif yang tertanam dalam kehidupan sehari-hari siswa,” tegasnya.

Seluruh kegiatan berlangsung mulai pukul 07.00 WIB hingga selesai Salat Zuhur dengan mengedepankan konsep Sekolah Ramah Anak. Siswa senior yang terlibat diwajibkan membimbing adik kelas secara humanis tanpa kekerasan maupun perundungan.

“Kami menekankan kepada seluruh kakak kelas agar menjadi teladan dan membimbing adik-adiknya dengan santun. Tidak boleh ada bullying, kekerasan fisik maupun verbal. Kami ingin menciptakan suasana sekolah yang aman, nyaman, dan menyenangkan sehingga anak-anak merasa betah serta bersemangat belajar,” tegas Manan.

Ia menilai sekolah tidak hanya bertugas mencetak peserta didik yang unggul secara akademik, tetapi juga menjadi ruang yang membuat setiap anak merasa aman, diterima, dihargai, dan tumbuh dengan bahagia.

“Kesan pertama yang dirasakan peserta didik akan sangat memengaruhi semangat belajar, rasa percaya diri, serta kemampuan mereka beradaptasi. Karena itu, MPLS memiliki peran penting sebagai fondasi awal pembentukan karakter,” ujarnya.

Mengusung tema “MPLS Ramah, Sekolah Aman, Belajar Nyaman, Tumbuh Berkarakter,” seluruh rangkaian kegiatan dirancang edukatif, inklusif, menyenangkan, serta bebas dari segala bentuk kekerasan, perundungan, maupun praktik yang merendahkan martabat peserta didik.

“Semangat MPLS Ramah mengajak kita menghadirkan pengalaman belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan, sekaligus memuliakan setiap anak sebagai pribadi yang memiliki hak, potensi, dan cita-cita,” tuturnya.

Manan menambahkan, keberhasilan MPLS tidak dapat diwujudkan oleh sekolah semata, melainkan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, sekolah, orang tua, dan masyarakat.

Menurutnya, MPLS menjadi momentum penting untuk mengenali karakter, potensi, bakat, minat, kemampuan literasi, numerasi, hingga kondisi sosial-emosional peserta didik sejak hari pertama mereka berada di sekolah.

Selain itu, MPLS Ramah juga menjadi awal terbangunnya kemitraan antara sekolah, orang tua, dan peserta didik. Prosesi ini menjadi bentuk penyambutan bagi anak-anak hebat beserta orang tuanya sebagai bagian dari keluarga besar sekolah, sehingga proses pendampingan menuju masa depan mereka dapat dimulai sejak awal.

Ia menegaskan, MPLS Ramah dibangun di atas tiga prinsip utama, yaitu ramah anak, ramah lingkungan, dan ramah biaya. Seluruh kegiatan harus menghormati hak-hak anak, menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan, serta tidak membebani orang tua maupun peserta didik.

Pewarta: Slamet Mulyono
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga

Artikel ini telah dibaca 5 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Kecelakaan Maut Malam Hari di Singosari, Polisi Buru Bus yang Kabur

13 Juli 2026 - 14:28 WIB

Sehari, Dua Kebakaran Landa Kabupaten Malang: Gudang Mebel di Singosari dan Rumah Warga Kepanjen Hangus

12 Juli 2026 - 20:42 WIB

Polres Batu Jadi Percontohan Program “Omah Rembug”, Perkuat Penyelesaian Konflik Warga Lewat Restorative Justice

11 Juli 2026 - 21:58 WIB

UMM Pertahankan Predikat Humas Kampus Terbaik se-Jawa Timur, Konsisten Raih Prestasi Sejak 2022

11 Juli 2026 - 20:11 WIB

Sentuhan Baru di My Kopi O! Malang, Hadirkan Konsep Lebih Nyaman dan Menu Asia yang Menggugah Selera

11 Juli 2026 - 19:55 WIB

Penggerebekan Cepat! Residivis Curanmor Baru Dua Tahun Bebas Penjara, Kini Dibekuk Lagi Polisi

11 Juli 2026 - 17:58 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !