Napak Tilas Sejarah, IPNU-IPPNU Pagedangan Turen Adakan Sarasehan Mengenang Tragedi G30S PKI - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

MALANG RAYA · 23 Sep 2020 12:39 WIB ·

Napak Tilas Sejarah, IPNU-IPPNU Pagedangan Turen Adakan Sarasehan Mengenang Tragedi G30S PKI


 Napak Tilas Sejarah, IPNU-IPPNU Pagedangan Turen Adakan Sarasehan Mengenang Tragedi G30S PKI Perbesar

BACAMALANG.COM – Generasi milleneal saat ini cenderung akrab dengan gawai (ponsel) yang dikhawatirkan dapat melunturkan pemahaman sejarah perjuangan para pejuang dan ulama dalam menumpas gerakan G 30 S/PKI.

“Sebagai generasi muda NU, Kami prihatin atas kondisi saat ini. Banyak pemuda milleneal akrab dengan ponsel. Kami ingin menapak tilas sejarah perjuangan para ulama dan pahlawan bangsa menumpas PKI lewat sarasehan mengenang tragedi G30S PKI Hari Minggu 4 Oktober nanti,” tandas konseptor sarasehan
Ahmad Rodzi, Rabu (23/9/2020).

Sekilas informasi, sarasehan ini digelar oleh IPNU-IPPNU Dusun Wonokasian Desa Pagedangan Kecamatan Turen Kabupaten Malang.

Turut dihadirkan sebagai pemateri Yuyud Hadi Purnomo (danramil) dan H. Syaiful Anam (tokoh NU).

Rodzi menjelaskan, tujuan kegiatan adalah untuk mengenang jasa para pahlawan dan ulama berjuang pada waktu pengkhianatan dan adu domba PKI pada tahun 1965 dan sebelum itu.

“Agar tidak sampai terulang lagi dan supaya pelajar dan pemuda Nahdliyin cerdas dalam menyerap informasi yang bebas aktif saat ini,” terang Rodzi.

Jas Merah dan Jas Hijau

Rodzi mengungkapkan, dirinya menilai acara ini sangat penting, mengingat sekarang pelajar dan pemuda mayoritas asyik dengan gawai.

“Mereka generasi milleneal banyak yang akrab dengan gawai. Dengan game yang bisa melupakan segalanya ditambah lagi dengan mudah mengakses informasi tanpa batas yang sumbernya juga masih perlu dipertimbangkan ulang. Saya takut generasi milenial ini menjadi generasi yang menjadi santrinya ustadz google dan kyai youtube,” papar Rodzi.

Rodzi menjelaskan, pihaknya ingin membentuk mindset pemuda dan pelajar bahwa mengingat dan mengetahui sejarah itu penting.

“Mohon dipahami soal Jas merah dan jas hijau. Yaitu jangan sekali-kali melupakan sejarah dan jangan sekali-sekali melupakan jasa ulama,” tutup Rodzi. (*/had)

Artikel ini telah dibaca 59 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Motor Dikira Dicuri, Warga Gondanglegi Baru Tahu Tertukar Setelah Sepekan

4 Juni 2026 - 20:39 WIB

Dua Begal Bersenjata Tajam yang Ancam Mahasiswa Ditangkap, Satu Pelaku Masih Buron

4 Juni 2026 - 19:49 WIB

GAPEMBI Jatim Berikan Respon Soal 372 SPPG Kena Suspend

4 Juni 2026 - 14:32 WIB

Remaja Disabilitas Penghuni Panti Asuhan di Lowokwaru Hilang Sepekan, Belum Minum Obat Jantung

4 Juni 2026 - 11:38 WIB

Kuasa Hukum AS Siapkan Laporan Dugaan Keterangan Palsu, Sebut Kliennya Dikambinghitamkan dalam Kasus Pasar Among Tani

4 Juni 2026 - 09:38 WIB

Bocil Gondanglegi Jadi Korban Jambret Kalung di Wisata Lembah Astri Turen

4 Juni 2026 - 09:23 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !