Narendra Wicaksono Ngobrol dengan Petani Thailand, Sebut Korban Tragedi Kanjuruhan Lebih Menyakitkan Dibanding Meninggal Kena Peluru Tajam - BACAMALANG.COM

Menu ✖

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

MALANG RAYA · 14 Mei 2024 21:01 WIB ·

Narendra Wicaksono Ngobrol dengan Petani Thailand, Sebut Korban Tragedi Kanjuruhan Lebih Menyakitkan Dibanding Meninggal Kena Peluru Tajam


 Narendra tiba di Masjid Barokat, Distrik Thung Song, Provinsi Nakhon Si Thammarat, Thailand, sebuah masjid yang telah berdiri sejak tahun 2000 dan menjadi pusat kegiatan spiritual bagi 16 keluarga muslim setempat.(IG Narendra). Perbesar

Narendra tiba di Masjid Barokat, Distrik Thung Song, Provinsi Nakhon Si Thammarat, Thailand, sebuah masjid yang telah berdiri sejak tahun 2000 dan menjadi pusat kegiatan spiritual bagi 16 keluarga muslim setempat.(IG Narendra).

BACAMALANG.COM – Di tengah perjalanan panjangnya melintasi Thailand, pegowes ‘Justice for Kanjuruhan’ Narendra Wicaksono menemukan kehangatan dan persaudaraan di tempat yang tak terduga.

Pada pukul 19.30 waktu setempat, dia tiba di Masjid Barokat, Distrik Thung Song, Provinsi Nakhon Si Thammarat, sebuah masjid yang telah berdiri sejak tahun 2000 dan menjadi pusat kegiatan spiritual bagi 16 keluarga muslim setempat.

Di sana, Narendra bertemu dengan Abdullah, seorang peladang (petani) yang telah bermukim selama 30 tahun di Thailand sebagai Muslim Rohingya.

Dalam percakapan yang penuh empati, Abdullah berbagi kisahnya tentang ketidakamanan kembali ke Myanmar karena perang saudara.

“Saya sangat senang ada tamu dari negara Islam seperti Indonesia dan Malaysia,” tandas Abdullah.

Ia menuturkan, kedua negara tersebut telah turut membantu saudara Muslim Rohingnya.

Narendra berfoto bersama Abdullah yang menyuguhi Nasi Kuning Lauk Ayam. (IG Narendra)

“Kedua negara telah membantu menyambung kehidupan saudara-saudara Muslim Rohingya yang lainnya, yang saat ini tengah mengungsi karena perang saudara di Burma,” paparnya.

Malam itu, Narendra memilih untuk tidur di dalam masjid, di bawah perlindungan tenda yang disediakan oleh Abdullah, yang khawatir akan serangan ular dan ulat jika tenda diletakkan di luar.

Masjid Barokat, yang hanya aktif digunakan untuk salat Jumat dan Hari Raya, menjadi tempat peristirahatan yang aman dan damai bagi Narendra dalam perjalanannya.

Pertemuan mereka juga membahas Tragedi Kanjuruhan, di mana Abdullah mengungkapkan, bahwa dia sempat berpikir korban tewas ditembaki dengan peluru tajam.

Namun, setelah Narendra menunjukkan video tentang Tragedi Kanjuruhan, Abdullah memberikan komentarnya.

“Mati dengan cara ini pasti lebih menyakitkan daripada mati dengan peluru tajam,” tukas Abdullah.

Meski berbicara dalam bahasa Inggris yang tidak begitu fasih, sorot mata Abdullah yang penuh kesedihan, menggambarkan situasi yang dia pikirkan.

Narendra juga menyampaikan pesan penting dari Abdullah kepada dunia terkait Rohingya yang beberapa waktu lalu sempat ramai dibahas.

“Jangan percaya dengan pemberitaan media yang menginformasikan keburukan Rohingya atau membuat lelucon yang berbau rasis dan menghina Rohingya. Hal itu hanya upaya untuk mengadu domba dan menciptakan situasi keruh antar kelompok,” imbuhnya.

Sebelum melanjutkan perjalanan ke Provinsi Surat Thani, Narendra disuguhi nasi kuning dengan lauk ayam goreng, sebuah hidangan sederhana namun penuh makna dari Abdullah yang mewakili keramahan dan solidaritas antar sesama.

Dalam suhu yang mencapai 39° Celcius, perjalanan ‘Justice for Kanjuruhan’ terus berlanjut, membawa pesan perdamaian dan persaudaraan, serta mengingatkan tentang pentingnya empati dan kebaikan di tengah perbedaan dan kesulitan yang dihadapi banyak orang di dunia ini.

Seperti diberitakan sebelumnya, Narendra Wicaksono, pemuda asal Klaten yang bersepeda berumroh ke Makkah, sambil menuntut keadilan untuk korban Tragedi Kanjuruhan, memulai bersepeda dari Klaten, hingga kini sampai di Thailand.

Pewarta: Hadi Triswanto
Editor/Publisher: Aan Imam Marzuki

Artikel ini telah dibaca 201 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

SMAK Bhakti Luhur Genjot Budaya Literasi, Siswa Didorong Kembali Gemar Membaca dan Menulis

8 November 2026 - 11:07 WIB

Tanam 100 Pohon di Bantaran Brantas, Kapolresta Malang Kota Perkuat Mitigasi Bencana

8 November 2026 - 10:05 WIB

Polisi Bekuk Satu Terduga Curanmor, Tiga Rekannya Masuk DPO

8 November 2026 - 05:34 WIB

Honda Vario 125 Milik Mahasiswa Pakisaji Hilang di Kos Sumbersari, Korban Sebar Informasi Pencarian

7 November 2026 - 19:22 WIB

Cegah Kecelakaan Sejak Dini, Satlantas Polresta Malang Kota Bekali Siswa SMPN 22 Edukasi Bahaya Narkoba dan Balap Liar

7 November 2026 - 13:13 WIB

Mediasi Kasus Limbah Biogas Jianto, Kuasa Hukum Pelapor Tegaskan Proses Hukum Tetap Berlanjut

6 November 2026 - 22:02 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !