BACAMALANG.COM – Di tengah perjalanan panjangnya melintasi Thailand, pegowes ‘Justice for Kanjuruhan’ Narendra Wicaksono menemukan kehangatan dan persaudaraan di tempat yang tak terduga.
Pada pukul 19.30 waktu setempat, dia tiba di Masjid Barokat, Distrik Thung Song, Provinsi Nakhon Si Thammarat, sebuah masjid yang telah berdiri sejak tahun 2000 dan menjadi pusat kegiatan spiritual bagi 16 keluarga muslim setempat.
Di sana, Narendra bertemu dengan Abdullah, seorang peladang (petani) yang telah bermukim selama 30 tahun di Thailand sebagai Muslim Rohingya.
Dalam percakapan yang penuh empati, Abdullah berbagi kisahnya tentang ketidakamanan kembali ke Myanmar karena perang saudara.
“Saya sangat senang ada tamu dari negara Islam seperti Indonesia dan Malaysia,” tandas Abdullah.
Ia menuturkan, kedua negara tersebut telah turut membantu saudara Muslim Rohingnya.

Narendra berfoto bersama Abdullah yang menyuguhi Nasi Kuning Lauk Ayam. (IG Narendra)
“Kedua negara telah membantu menyambung kehidupan saudara-saudara Muslim Rohingya yang lainnya, yang saat ini tengah mengungsi karena perang saudara di Burma,” paparnya.
Malam itu, Narendra memilih untuk tidur di dalam masjid, di bawah perlindungan tenda yang disediakan oleh Abdullah, yang khawatir akan serangan ular dan ulat jika tenda diletakkan di luar.
Masjid Barokat, yang hanya aktif digunakan untuk salat Jumat dan Hari Raya, menjadi tempat peristirahatan yang aman dan damai bagi Narendra dalam perjalanannya.
Pertemuan mereka juga membahas Tragedi Kanjuruhan, di mana Abdullah mengungkapkan, bahwa dia sempat berpikir korban tewas ditembaki dengan peluru tajam.
Namun, setelah Narendra menunjukkan video tentang Tragedi Kanjuruhan, Abdullah memberikan komentarnya.
“Mati dengan cara ini pasti lebih menyakitkan daripada mati dengan peluru tajam,” tukas Abdullah.
Meski berbicara dalam bahasa Inggris yang tidak begitu fasih, sorot mata Abdullah yang penuh kesedihan, menggambarkan situasi yang dia pikirkan.
Narendra juga menyampaikan pesan penting dari Abdullah kepada dunia terkait Rohingya yang beberapa waktu lalu sempat ramai dibahas.
“Jangan percaya dengan pemberitaan media yang menginformasikan keburukan Rohingya atau membuat lelucon yang berbau rasis dan menghina Rohingya. Hal itu hanya upaya untuk mengadu domba dan menciptakan situasi keruh antar kelompok,” imbuhnya.
Sebelum melanjutkan perjalanan ke Provinsi Surat Thani, Narendra disuguhi nasi kuning dengan lauk ayam goreng, sebuah hidangan sederhana namun penuh makna dari Abdullah yang mewakili keramahan dan solidaritas antar sesama.
Dalam suhu yang mencapai 39° Celcius, perjalanan ‘Justice for Kanjuruhan’ terus berlanjut, membawa pesan perdamaian dan persaudaraan, serta mengingatkan tentang pentingnya empati dan kebaikan di tengah perbedaan dan kesulitan yang dihadapi banyak orang di dunia ini.
Seperti diberitakan sebelumnya, Narendra Wicaksono, pemuda asal Klaten yang bersepeda berumroh ke Makkah, sambil menuntut keadilan untuk korban Tragedi Kanjuruhan, memulai bersepeda dari Klaten, hingga kini sampai di Thailand.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor/Publisher: Aan Imam Marzuki



















































