Pakar dari UB Minta Waspadai Terorisme di Masa Pandemi - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

HEADLINE · 19 Jun 2020 19:07 WIB ·

Pakar dari UB Minta Waspadai Terorisme di Masa Pandemi


 Pakar dari UB Minta Waspadai Terorisme di Masa Pandemi Perbesar

BACAMALANG.COM – Pakar Terorisme dari Universitas Brawijaya (UB), Yusli Effendi, S.IP, MA minta semua pihak waspada terhadap terorisme yang saat ini sudah melakukan adaptasi dan ideologisasi (propaganda).

“Meski pandemi, saya minta semua pihak tetap waspada dan antisipatif terhadap bahaya terorisme. Mereka sekarang sudah bermetamorfosis, beradaptasi dan melakukan ideologisasi (propaganda) lewat medsos,” tandas Yusli Effendi, Jumat (19/6/2020).

Yusli menuturkan, Malang Raya menjadi titik penting persebaran radikalisme dan ektremisme meski pengeboman gereja dilakukan di Surabaya beberapa tahun lalu, namun beberapa pelaku sembunyi di Malang dan mengembangkan aktifitas di Malang.

Yusli mengatakan wilayah Malang Raya perlu diwaspadai karena penangkapan beberapa simpatisan dan aktifis ISIS terjadi di Kota Malang.

Ia menjelaskan, ada pula teroris yang tertembak dari Lawang bernama Abu Jandal Al Indonesia yang menjadi tokoh penting ISIS berangkat ke Suriah sekeluarga yakni suami, istri dan dua anak. Hingga akhirnya Abu Jandal ini tewas tertembak di Mossul Irak beberapa tahun lalu.

Zona Merah

Yusli menuturkan wilayah Malang Raya mempunyai zona merah rawan terorisme. “Zona merah itu diantaranya di Karangploso, Dau Lawang, Batu dan Kota Malang,” terang Dosen Hubungan Internasional Universitas Brawijaya ini.

Yusli mengatakan, momen penting agenda teroris adalah saat tahun 2014 ada deklarasi ustad Romli di Masjid Sulaiman Alhunaishil di Karangploso Kabupaten Malang.

Setelah Densus 88 melakukan pengembangan penyelidikan, maka diketahui jika mereka tidak hanya berasal atau berkumpul di satu tempat saja namun menyebar di Malang Raya.

“Ada yang dari Kabupaten Malang seperti Sumbermanjing Wetan, Karangploso, Dau dan Turen. Lalu untuk Ustad Romli setelah ditelusuri bukan dari Malang, tapi Tulungagung.
Dia mengembangkan masjid tapi sekarang sudah ditutup,” ujar alumnus S1 di FISIP Universitas Airlangga itu.

Masih Eksis

Yusli mengatakan, hingga kini gerombolan teroris masih eksis dan berada pada tempat persembunyian masing-masing.

Ia menjelaskan kondisi teroris cukup beragam. “Ada yang terpapar, lalu mengembangkan pengaruh namun tidak bisa dilakukan penindakan. Ada yang bersembunyi dan dalam pantauan Densus 88. Ada juga sebagian berhasil diamankan petugas. Sebagian dari mereka yang senior sudah tiarap,” urai peraih S2 dari Universitas Exeter Inggris ini.

Efek Destruktif

Yusli menguraikan, keberadaan teroris menimbulkan efek destruktif. Namun variasi destruktif ini beragam, yang mudah terlihat dari efek destruktif adalah teroris yang menjalankan tindakan ekstremis melalui penyerangan dan penghancuran.

Ia menjelaskan, kelompok teroris ini beragam keadaan dan klasifikasi. “Pada prinsipnya ada tiga yaitu mereka yang terdoktrin secara pandangan, pikiran, dan perilaku. Untuk golongan terdoktrin secara pandangan ini berarti terinfeksi secara kognitif (pemikiran, narasi) dan mereka ini tersebar di Malang Raya.

“Ada kelompok tidak suka kepada pemerintah, ada kelompok pengajian ingin mendirikan khilafah, namun tidak bisa ditangkap tapi selayaknya diberikan edukasi intensif karena bisa memantik munculnya benih-benih instabilitas,” jelas Sekertaris Lakpesdam NU Kota Malang dan Pengurus ISNU Jawa Timur ini.

Kontra Narasi

Yusli mengungkapkan solusi meminimalisir terorisme adalah menjalankan kontra narasi dan tidak harus hard security. Hal ini karena ideologi tidak bisa dimatikan, namun bisa dilawan dengan narasi tandingan, narasi damai, serta tidak harus deradikalisasi.

Upaya lain adalah menyebarkan budaya damai, semisal dengan menghormati budaya dan agama orang lain. Kontra narasi diperlukan agar terorisme tidak akut menyebar ke lembaga pendidikan, mimbar keagamaan, dan ruang publik.

“Kontra narasi perlu diintensifkan. Harus bekerjasama dengan pihak pihak semisal NU, Muhammadiyah, dan akademisi yang siap menebarkan pesan-pesan damai,” tukas Yusli mengakhiri. (Had/Red)

Artikel ini telah dibaca 23 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Momen Hari Laut Sedunia, SALAM Desak Ekonomi Biru Berkeadilan untuk Nelayan Kecil

8 Juni 2026 - 20:54 WIB

Gempa M 7,7 Guncang Mindanao, BMKG Cabut Peringatan Tsunami, Malang Raya Aman

8 Juni 2026 - 16:05 WIB

“Be Together, Grow Together”, Forkom Agribisnis Dorong Mahasiswa Cerdas, Berkarakter, dan Beretika

5 Juni 2026 - 10:08 WIB

Viral Pejabat BGN Ditangkap, Pengamat Soroti Krisis Tata Kelola Program MBG

4 Juni 2026 - 16:45 WIB

JMSI Jatim Siap Gelar Pelantikan Pengurus dan FGD Media

2 Juni 2026 - 19:12 WIB

Sukses Reboisasi Pujon Hill, UMM Hidupkan Kembali Mata Air dan Pasok Air Bersih untuk Empat Dusun

2 Juni 2026 - 18:54 WIB

Trending di HEADLINE

©Hak Cipta Dilindungi !