BACAMALANG.COM – Menurut data Badan Pusat Statistik, produksi melon nasional pada tahun 2020 mencapai 138.177 ton, menurun menjadi 129.147 ton pada 2021 dan 118.711 ton pada 2022. Sementara itu, konsumsi melon masyarakat Indonesia diperkirakan mencapai 332.698 ton per tahun. Artinya, terdapat kesenjangan antara produksi dan permintaan yang membuka peluang besar bagi pengembangan agribisnis melon, khususnya melalui metode hidroponik yang lebih efisien dan menghasilkan produk berkualitas tinggi.
Budidaya melon hidroponik juga menawarkan efisiensi lahan dan hasil panen yang lebih cepat. Studi kasus menunjukkan bahwa metode ini mampu meningkatkan kapasitas produksi hingga 20 persen. Sentra produksi utama melon berada di Jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Barat, dengan kontribusi tambahan dari NTB dan Lampung.
Meski menjanjikan, sektor ini menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya fluktuasi produksi akibat cuaca, hama, dan penyakit, volatilitas harga dan panjangnya rantai distribusi yang mengurangi margin keuntungan petani, keterbatasan akses pasar langsung, kualitas benih dan input produksi yang belum merata, serta kurangnya infrastruktur dan dukungan kebijakan yang berkelanjutan.
Terkait hal ini Kebun melon Puspa Agraria di Desa Bedali, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, mulai menarik perhatian berbagai kalangan. Mulai dari instansi pemerintah, akademisi, sektor swasta, hingga masyarakat umum. Kebun ini dikelola sepenuhnya oleh petani milenial lokal dan menjadi bukti nyata keberhasilan generasi muda dalam mengembangkan budidaya melon sebagai bagian dari ketahanan pangan desa.
Sejak dibangun pada akhir 2022 dan mulai beroperasi awal 2023, kebun melon Puspa Agraria telah berhasil panen sebanyak delapan kali. Dalam satu musim tanam selama tiga bulan, produksi melon mencapai sekitar 1,5 ton. Melon yang dibudidayakan merupakan varietas premium, termasuk jenis sweet hami yang memiliki daging buah jingga kemerahan, tekstur lembut, dan rasa sangat manis.
Ekka Riski Fajar Anam, petani milenial pengelola kebun Puspa Agraria, menyampaikan bahwa antusiasme pasar terhadap melon premium sangat tinggi.
“Kami tertarik untuk kontribusi budidaya melon yang diharapkan nantinya bisa turut meningkatkan kemakmuran warga dan mengharumkan bangsa,” tuturnya.
Biasanya saat panen, melon langsung habis dalam dua sampai tiga hari. Pembeli yang datang belakangan sering tidak kebagian
Jenis melon yang ditanam menyesuaikan dengan tren pasar. Saat ini Sweet Hami paling diminati karena rasanya yang manis dan teksturnya yang renyah.
Berkat konsistensi dan keuletan para petani muda, kebun ini terpilih sebagai lokasi pelaksanaan program Empower Academy oleh Bentoel Group. Program ini diluncurkan pada 17 September 2025 sebagai bagian dari kampanye keberlanjutan Bangun Bangsa, bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Malang.
Empower Academy berfokus pada pengembangan ekonomi pedesaan melalui pelatihan vokasi dan pendampingan intensif dalam budidaya melon hidroponik. Program ini mencakup pelatihan pengelolaan sumber daya manusia, keuangan, pengembangan usaha, pemasaran, serta penyediaan fasilitas pendukung untuk memaksimalkan potensi agribisnis melon.
Dian Widyanarti dari Bentoel Group menyebutkan bahwa Kabupaten Malang dipilih karena memiliki potensi besar dalam sumber daya alam dan manusia. Empower Academy diharapkan mampu menciptakan peluang ekonomi baru dari pedesaan.
Kepala Desa Bedali, Dewi Buyati, menyampaikan harapan agar program ini dapat memperluas greenhouse dan memberikan pelatihan bagi pemuda desa yang masih menganggur.
Ir. Tomie Herawanto, M.P., dari Bappeda Kabupaten Malang menekankan pentingnya keberlanjutan dan kolaborasi lintas sektor agar desa-desa bisa naik kelas dan menjadi model pengentasan kemiskinan. Ia menyebut bahwa angka kemiskinan di Kabupaten Malang berada di level pertengahan, sementara Jawa Timur memiliki angka kemiskinan tertinggi di Indonesia. Menurutnya, setiap kegiatan harus berdampak langsung pada pengentasan kemiskinan dan peningk


























































