Perang Bintang

Dr Riyanto: Budayawan dan Akademisi Universitas Brawijaya Malang, inzet ilustrasi Jeng Rara. (ist)

Oleh : Dr Riyanto*

Irjen Ferdy Sambo kena serangan santet …..

Susamto tergeletak, jadi “kembang amben. Tubuhnya kurus, di situ juga buang kotoran. Bukan kematian, tapi santet penyiksaan.

Wajahnya beringas. Tertawa lakak- lakak. “Ha ha haaa, apa maumu ?!
Kyai menunduk, melafazkan do’a.
Beberapa saat sepi. Direktur media terkenal di Jakarta itu diam, linglung kembali.

Jaman Orde Baru, menteri dan dirjen datang ke desa tepi hutan Banyuwangi. Cari piandel. Minimal penasehat spiritual untuk melindungi.

Bagaimana Irjen Ferdy Sambo, bintang berita hari ini ?
Kadiv Propam, jabatan langsung di bawah kapolri.
Tempat penggodokan jenjang karier yang menentukan hitam putihnya kepolisian.

Jeng Rara, Ratu Mandalika ikut berpendapat. Ada persaingan santet-menyantet di perebutan Kadiv Propam.

Irjen Ferdy, Putri Candrawati, dan keluarga diserang santet. Pengirimnya tidak menemukan jalan. Istilah ke-paranormal-an, di lingkar pagar gaib pengaman.

Matahari tenggelam, semburat warna merah jingga. Santet Raksasa Banaspati belum menemukan jalan. Dalam keputus-asa-an, terdengar bisik bisik. Kedekatan Brigadir Je, ajudan, sopir pribadi.

Tidak “pakek lama. Aji “gelap ngampar” bertiup keras. Datang pergi silih berganti. Pandangan jelas, kadang remang-remang.
Brigadir Je sering ngelantur, melihat Putri Candrawati seperti Vera Simanjuntak calon istri.

Situasi tak terkendali. Keluarga besar Propam siaga. Sasaran semakin dekat. Santet Banaspati tertawa “ngakak.
“Ferdy Sambo, kini datang ajal kariermu !!!
Perang bintang terjadi. Jenderal jenderal berebut posisi.
Pistol menyalak bersaut-sautan. Entah untuk membunuh, apa sekedar memberi luka pada si mati.

*semoga kehormatan Irjen Ferdy, kembali …..

*Penulis Dr Riyanto Budayawan dan Akademisi Universitas Brawijaya Malang
*Isi tulisan menjadi tanggung jawab sepenuhnya penulis