BACAMALANG.COM – Perjuangan pegowes ‘Justice for Kanjuruhan’ Narendra Wicaksono menyuarakan keadilan korban Tragedi Kanjuruhan memperoleh dukungan akademisi Sabahattin Zaim Üniversitesi di Turki, belum lama ini.
“Alhamdulillah perjuangan saya menyuarakan keadilan korban Tragedi Kanjuruhan mendapat dukungan akademisi Sabahattin Zaim Üniversitesi,” tegas Narendra Wicaksono kepada BacaMalang.com, Jumat (28/6/2024).
Selanjutnya Narendra menceritakan berbagai hal sebelum ia bertemu dengan akademisi Sabahattin Zaim Üniversitesi.
Ia menjelaskan, beberapa hari terakhir tidak melakukan aktivitas gowes di Istanbul.
Narendra mengungkapkan, kedatangannya ke kota ini tidak sesuai rencana karena perang di Suriah dan Lebanon menghalangi perjalanan darat.
Teman-teman mahasiswa Indonesia menyarankannya agar tidak bersepeda menuju Ankara, karena semua jalur penerbangan internasional berpusat di Istanbul.

Pegowes ‘Justice for Kanjuruhan’ Narendra Wicaksono berfoto bersama Ismail Yalçın Pejabat Rektorat İstanbul Sabahattin Zaim Üniversitesi. (IG Narendra).
Akibatnya, ia seolah “terkunci” di situ dan satu-satunya opsi untuk melanjutkan perjalanan ke Yordania adalah dengan naik pesawat.
Namun, ada kabar baik di mana ia akan terbang ke Yordania pada tanggal 1 Juli. Selama berada di Istanbul, ia memperbanyak silaturahmi dan menjalin banyak persahabatan dengan penduduk setempat.
Ia menyebutkan jika kontrol polisi ketat di Istanbul. Terkait penangkapan orang yang tidak bersalah, polisi Istanbul menerapkan kontrol ketat terhadap para pendatang.
Beberapa mahasiswa mengeluh bahwa polisi terlalu mudah membawa seseorang ke kantor hanya karena lupa membawa paspor.
Namun, selama ia berada di kota ini, hal tersebut tidak menjadi masalah. Bahkan, ia pernah menawarkan petugas untuk memeriksa paspor saat ingin masuk ke sebuah hutan lindung, tapi mereka menolak.
Narendra datang ke Istanbul Sabahattin Zaim Üniversitesi berkat jejaring silaturahim yang ia bangun dengan Mr. Mehmet, seorang teknisi komputer yang tinggal di Üsküdar, yang memperkenalkannya dengan Mr. Nuri Aktemur seorang pejabat tinggi Rektorat İstanbul Sabahattin Zaim Üniversitesi serta memintanya datang ke ruangannya pada siang hari.
Ia datang dengan berjalan kaki dari apartemen di daerah Halkalı, Küçükçekmece yang berjarak sejauh 2 km.
Narendra bertemu dengan banyak dosen dan pejabat tinggi, staff dan dosen pengajar di universitas. Ia bertemu dengan Mr. İsmail Yalçın dan Mr. Abdullah Şimşek.
Mereka bertanya tentang apa yang membuatnya melakukan perjalanan jauh lintas negara, lalu ia menyampaikan tentang isi dari Alquran surat Al-Hujuraat ayat 13 yang mana Allah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal.
Mereka juga tertarik mengenai rute yang ia ambil setelah meninggalkan Istanbul dan bercerita tentang pesan solidaritas dan keadilan untuk korban Tragedi Kanjuruhan.
Narendra sangat beruntung setelah diajak berkeliling ke seluruh fakultas di universitas dan menyempatkan Salat Ashar di masjid utama kampus.
Mr. Nuri Aktemur mengajaknya untuk datang di satu ruangan kampus yang telah berusia 100 tahun.
Kebetulan ia tiba di momen yang tepat di mana salah seorang profesor di Fakultas Teknik sedang mengadakan makan siang perpisahan sebelum keberangkatannya menuju Amerika Serikat untuk melanjutkan studi.
Abdullah Şimşek sebagai pecinta sepak bola khususnya dari Klub Fenerbahçe memberikan empati yang dalam atas nasib yang menimpa korban Tragedi Kanjuruhan.
Narendra mengungkapkan, betapa hati-hatinya dirinya untuk menyampaikan pesan solidaritas untuk Tragedi Kanjuruhan berupa pembentangan bendera, oleh sebab itu Abdullah berharap akan bisa membantu untuk menemukan cara di mana ia bisa terhubung dengan komunitas pecinta sepak bola di Türkiye agar bisa berfoto bersama dengan bendera Justice 135+ tanpa melanggar ketentuan hukum.
“Ini pengalaman yang sangat menarik tentang berbagai hadiah yang diberikan Tuhan termasuk persaudaraan dan ilmu pengetahuan. Bagi saya itu merupakan harta karun dan dukungan moril untuk perjalanan panjang ini,” urainya mengakhiri.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor/Publisher: Aan Imam Marzuki



















































