BACAMALANG.COM-Penelitian terkini Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Cabang Malang menyebutkan, di Malang terdapat 30% pasien berusia di atas 80 tahun yang akan menderita sakit jantung pada 10 tahun yang akan datang. Artinya satu di antara tiga orang akan menjadi penderita jantung kalau tidak dicegah dari sekarang.
Hal ini disampaikan Ketua PERKI Malang Prof. dr. M. Saifur Rohman, Sp.JF, Subsp.K.I.(K), Ph.D. dalam Peringatan World Heart Day 2026 sekaligus Peluncuran Ambulans di Mini Block Office Kota Malang, Minggu (27/9/2026). Oleh karena itu, imbuh Prof. Saifur, upaya penanganan penyakit jantung dinilai tidak cukup hanya dilakukan ketika pasien sudah berada di rumah sakit.
“Pencegahan perlu dilakukan dengan turun langsung ke masyarakat melalui edukasi dan pengendalian faktor risiko, dimana salah satu faktor risiko yang menjadi perhatian utama adalah kebiasaan merokok,” tegasnya.
Menurut Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FKUB) ini, perokok menjadi kelompok yang mengkhawatirkan, terutama pada laki-laki usia muda.
Ia membandingkan kondisi 11 tahun lalu ketika pasien penyakit jantung termuda di Malang masih berada pada kisaran usia 40 tahun. Kini, pasien berusia 22 tahun sudah ditemukan.
“Sekarang usia 22, laki-laki sudah banyak yang menjadi penderita, terutama mereka yang mempunyai family history. Bapak atau ibunya kena sakit jantung, rokok saja ditambahkan di situ sudah bisa di usia muda sudah kena sakit jantung,” jelasnya.

Ketua PERKI Malang Prof. dr. M. Saifur Rohman, Sp.JF, Subsp.K.I.(K), Ph.D.(kanan) mendampingi Wali kota Malang Dr. Ir. Wahyu Hidayat MM dalam Peringatan World Heart Day 2026 sekaligus Peluncuran Ambulans PERKI di Mini Block Office Kota Malang, Minggu (27/9/2026). (Nedi Putra AW).
Selain rokok, hipertensi dan pola makan juga menjadi faktor risiko yang perlu dikendalikan. Ia menyebut angka hipertensi di Malang masih berada pada kisaran 35 persen, sementara hipertensi yang tidak terkontrol mencapai sekitar 60 persen. Pola konsumsi makanan tinggi garam menjadi salah satu hal yang disoroti.
Kebiasaan mengonsumsi makanan terlalu asin dapat berkontribusi terhadap hipertensi. Sementara faktor lainnya, tambah Prof. Saifur adalah gula darah. Ia menyebut angka terkait gula masih berada pada kisaran 30 hingga 40 persen dari tahun ke tahun.
“Jadi upaya pencegahan terus dilakukan melalui edukasi masyarakat. Pendekatannya bukan hanya menunggu pasien datang ke rumah sakit, tetapi mengendalikan faktor risiko sejak dari lingkungan masyarakat,” ungkap guru besar dalam bidang kardiologi dan Kedokteran Vaskuler FKUB ini.
Di sisi hilir, penguatan respons ketika serangan jantung terjadi juga menjadi perhatian. Serangan jantung, menurutnya, dapat terjadi secara tidak terduga, kapan saja dan kepada siapa saja. Untuk mempercepat pertolongan, telah disiapkan aplikasi seluler bernama Deteksi.
“Ketika seseorang mengalami nyeri atau ketidaknyamanan di dada, pengguna dapat melaporkan gejala melalui aplikasi tersebut,” paparnya.
Selanjutnya, pengguna akan diarahkan melalui Google Maps menuju rumah sakit terdekat yang telah memiliki fasilitas cath lab.
“Jangan muter-muter lagi. Kalau muter-muter itu nanti pending waktu tiga jam. Otot jantung tanpa aliran darah setengah jam bisa berhenti jantungnya,” ujar pria kelahiran Madura ini.
Prof. Saifur berharap komunikasi dan kolaborasi dengan berbagai pihak terus diperkuat sehingga ambulans PERKI di Malang dapat menjadi percontohan layanan ambulans berbasis masyarakat. Penguatan layanan kegawatdaruratan tersebut diharapkan tidak berhenti pada penyediaan ambulans, tetapi berkembang menjadi model kolaborasi yang dapat diterapkan di daerah lain.
“Semoga nanti terus kita jalin komunikasi, kolaborasi, sehingga menjadikan percontohan ini ambulans PERKI satu-satunya di Indonesia. Jadi pertama kali,” tegasnya.

Senam Jantung Sehat dalam Peringatan World Heart Day 2026 di Mini Block Office Kota Malang, Minggu (27/9/2026). (Nedi Putra AW)
Menurutnya, Ketua PERKI juga menyampaikan rencana untuk menjadikan inisiatif di Malang sebagai salah satu model yang dapat ditiru daerah lain, sehingga semakin banyak masyarakat mendapatkan akses pertolongan kegawatdaruratan.
Ia menambahkan, meski pada awalnya ambulans tersebut difokuskan untuk penanganan pasien dengan kondisi jantung, pemanfaatannya nantinya dapat diperluas untuk kondisi kegawatdaruratan lain, termasuk pasien nonjantung yang mengalami henti napas.
“Awalnya memang untuk sakit jantung, tetapi ketika ada pasien-pasien nonjantung yang berhenti napas, ketika ini tidak dipakai, kita akan bantu untuk bisa menjemput di rumah,” ungkapnya.
Pembagian peran juga akan dilakukan antara ambulans yang berada di rumah sakit dan ambulans PERKI yang beroperasi di masyarakat. Dengan pola tersebut, layanan di rumah sakit dan layanan berbasis masyarakat diharapkan dapat saling melengkapi.
“Pihak Dinas Kesehatah Kota yang di rumah sakit akan punya ambulans, yang di masyarakat ambulans PERKI yang seperti ini. Jadi semoga bermanfaat,” ujar dokter yang menjabat Wakil Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Brawijaya ini.
Jejaring pelayanan juga diperkuat melalui fasilitas kesehatan tingkat pertama. Puskesmas diarahkan menjadi bagian dari jejaring ketika menemukan pasien dengan kondisi yang membutuhkan penanganan segera. Pasien kemudian dapat langsung ditarik menuju hospital emergency dan dalam kondisi tertentu bisa melampaui proses di IGD untuk menghemat waktu penanganan.
Namun, tantangan lainnya adalah ketersediaan ambulans dan tenaga yang memiliki kemampuan menangani kondisi kegawatdaruratan. Ia berharap Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya dapat ikut membantu penguatan tenaga, termasuk melalui pelatihan. Selain pengemudi, dibutuhkan relawan yang memiliki kemampuan melakukan pertolongan seperti pijat jantung atau cardiopulmonary resuscitation (CPR) selama perjalanan menuju rumah sakit.
Program pelatihan tersebut nantinya akan menyasar masyarakat umum melalui edukasi dan corner pijat jantung. Pelatihan juga diharapkan melibatkan perawat secara sukarela untuk memperkuat kemampuan tenaga ambulans. Targetnya, dalam satu tahun ke depan semakin banyak tenaga sukarelawan yang memiliki keterampilan dalam penanganan kegawatdaruratan.
Untuk tahap awal, layanan ambulans akan terus diperkuat secara bertahap. Ke depan, diharapkan tersedia ambulans dengan perlengkapan yang lebih lengkap, tidak hanya monitor, tetapi juga ventilator.
“Ventilator itu ketika gagal napas, dibawa ke tempat, sebelum berhenti napas, kita bantu napas,” jelasnya.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa penanganan penyakit jantung membutuhkan mata rantai yang utuh, mulai dari pencegahan faktor risiko di masyarakat, deteksi gejala, respons cepat, hingga kesiapan fasilitas dan tenaga medis saat pasien membutuhkan pertolongan
Peluncuran ambulans tersebut dilakukan bersama Wali Kota Malang dan jajaran pemangku kepentingan (stakeholders), sebagai bagian dari penguatan layanan pertolongan kegawatdaruratan berbasis masyarakat.
Wali kota Malang Dr. Ir. Wahyu Hidayat MM sangat mengapreasiasi upaya PERKI Malang, dengan penyelenggaraan acara pada hari ini.
“Terkait dengan ambulans, ini adalah kerja sama yang baik antara PERKI dengan pemerintah Kota Malang. Tentu kami mengharapkan ada penurunan ya terkait dengan penyakit jantung ataupun juga kematian yang disebabkan oleh jantung,” ungkapnya.

Peluncuran ambulans tersebut dilakukan bersama Wali Kota Malang dan jajaran pemangku kepentingan (stakeholders), sebagai bagian dari penguatan layanan pertolongan kegawatdaruratan berbasis masyarakat. (Nedi Putra AW)
Wahyu menambahkan, kegiatan ini selaras dan sejalan dengan visi-misinya Bersama Wakil Wali Kota yakni Program “Ngalam Tahes” atau Malang Sehat.
“Kami ingin meningkatkan kualitas kesehatan yang ada di Kota Malang,” tandas Wali Kota.
World Heart Day sendiri jatuh setiap 29 September. Peluncuran ambulans menjadi salah satu agenda utama rangkaian World Heart Day 2026 oleh PERKI Cabang Malang yang telah digelar sejak Juli 2026. Rangkaian kegiatan tersebut mencakup edukasi kesehatan, skrining penyakit kardiovaskular, hingga pelatihan penanganan henti jantung bagi masyarakat.
Ambulans PERKI Malang akan dioptimalkan melalui kolaborasi PERKI Malang, Pemerintah Kota Malang, dan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB). Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat sistem respons cepat dan pelayanan kegawatdaruratan kardiovaskular bagi masyarakat.
Acara ini juga terhubung secara langsung dengan kegiatan “Sapa PERKI” yang berpusat di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta. Agenda lainnya adalah Fun Run dan Fun Walk, serta skrining dasar kardiovaskular di booth skrining, dan Senam Jantung Sehat yang diikuti oleh seluruh kelompok peserta.
Sementara Edukasi Kesehatan Interaktif berlangsung dalam 2 sesi, dimana sesi I menghadirkan narasumber ahli yaitu dr. Ikhwan Handi, Sp.JP(K) dan dr. Veny Mayangsari, Sp.JP, M.Biomed, Subsp. P.R.Kv. (K). Sedangkan Edukasi Kesehatan Interaktif Sesi II menghadirkan narasumber dr. Rerdin Julario, SpJP(K) dari RS Mayapada.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW





















































