BACAMALANG.COM – Suasana penuh kehangatan dan persaudaraan lintas budaya mewarnai Vihara Padepokan Dhammadīpa Ārāma, Kota Batu, Selasa (14/7/2026) malam. Vihara tersebut menerima kunjungan pementasan Topeng Dalem Jawi dan Wayang Wong Tantri persembahan Yayasan Puri Kauhan Ubud, Bali. Pertunjukan seni sakral itu menjadi ruang perjumpaan budaya sekaligus pengingat bahwa keberagaman merupakan kekuatan yang menyatukan Nusantara.
Pementasan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Sastra Saraswati Sewana VI yang berlangsung pada 13–19 Juli 2026. Anak Agung Gde Ngurah (AAGN) Ari Dwipayana, Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud menyampaikan, bahwa dalam perjalanan bertajuk Yatra Topeng Sri Aji Dalem Jawi, rombongan menyusuri berbagai situs spiritual dan budaya di Pulau Jawa, mulai dari pura, vihara, candi, hingga keraton, yang meliputi Pura Agung Blambangan, Banyuwangi; Vihara Padepokan Dhammadīpa Ārāma, Kota Batu; Candi Tegowangi, Kediri, Pendopo Pura Mangkunegaran Surakarta; serta berakhir di Candi Prambanan.
“Yatra ini mengusung pesan agung Cakrawala Mandala Dwipantara, sebuah gagasan yang menegaskan bahwa laut dan berbagai perbedaan bukanlah pemisah, melainkan simpul yang menghubungkan masyarakat Nusantara dalam satu ikatan sejarah, budaya, dan kemanusiaan, dimana Yatra kerap dilakukan orang-orang suci pada masa lalu,” ungkapnya.
Menurut Ari, Sastra Saraswati Sewana bukan sekadar perjalanan budaya, melainkan juga perjalanan batin untuk menemukan kembali akar kebudayaan Nusantara. Perjalanan tersebut tidak hanya bersifat fisik, tetapi menjadi ruang perjumpaan dan dialog antarkebudayaan.

Bhante Jayamedho dan Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana bersama pendukung Sastra Saraswati Sewana VI di Vihara Padepokan Dhammadīpa Ārāma, Kota Batu, Selasa (14/7/2026) malam. (Nedi Putra AW)
“Kali ini kami mengunjungi 5 tempat, yang menjadi 5 simpul ritual kebudayaan dalam membentuk Mandala Nusantara. Perjalanan ke candi, harus mempelajari makna relief-reliefnya seperti kisah yang ditampilkan dalam tari. Sementara kunjungan ke Pura Mangkunegaran juga dalam rangka mempelajari Serat Astabrata, berupa 8 sifat kepemimpinan dengan lawatan terakhir di Candi Prambanan,” paparnya
Ari Dwipayana menegaskan, persinggahan di Vihara Padepokan Dhammadīpa Ārāma memiliki makna yang semakin mendalam. Padepokan yang dikenal sebagai “Pulau Dhamma” dan menjadi tempat ribuan orang bermeditasi serta menumbuhkan kebajikan itu tahun ini genap berusia 55 tahun. Momen tersebut juga berdekatan dengan peringatan ulang tahun ke-95 pendirinya, Y.M. Bhante Khantidharo Mahāthera, yang jatuh pada 17 Juli.
“Apa yang kita pelajari dari alam adalah buat kita sendiri. Peradaban yang besar bukan hanya membangun candi atau bangunan besar saja tapi mandala yang selaras antara diri dan alam,” tegasnya.
Menurutnya, topeng bukan sekedar seni pertunjukan tapi juga menghidupkan warisan para leluhur sebagai ruang persatuan, bukan ruang perpecahan berdasarkan pada keadilan dan keberagaman.
“Ternyata banyak yang dapat kita pelajari dari Wayang Wong Tantri ini karena sebesar apapun usaha kita akan sia-sia jika kehilangan moralitas. Kita bukan hanya belajar dari manuskrip tapi dari karakter sifat dari tumbuhan dan binatang. Semoga Sastra Saraswati Sewana di Batu ini menjadi awal kerjasama yang baik antara Jawa dan Bali, yang dalam sejarahnya adalah sudah seperti saudara,” tandasnya.

Bhante Jayamedho dan Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana bersama seniman Padepokan Seni Mangun Dharma, Tumpang di Vihara Padepokan Dhammadīpa Ārāma, Kota Batu, Selasa (14/7/2026) malam. (Nedi Putra AW)
Sesepuh Sangha Theravada Indonesia dan pembina umat di Padepokan Dhammadīpa Ārāma, Batu, YBAI Bhante Jayamedho menyambut baik kunjungan AAGN Ari Dwipayana bersama Yayasan Puri Kauhan Ubud, Bali tersebut. Pihak vihara juga menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaan atas kunjungan yang menghadirkan pertunjukan seni lintas budaya di lingkungan vihara.
“Hari ini penting dan menjadi suatu kehormatan besar bagi kami. Sebagai informasi sebelumnya, bersama saudara-saudara kami dari PHDI menggelar ziarah di Candi Singosari, serta Prakdaksina di Candi Sumberawan, sebagai candi yang pernah dikunjungi Raja Hayam Wuruk,” ujar Bhante Jayamedho.
Bhante Jayamedho juga menegaskan, bahwa mengenang 95 tahun kehidupan Y.M. Bhante Khantidharo Mahāthera adalah kembali mengingat pesan Sang Buddha bahwa Khanti atau kesabaran adalah tapa yang tertinggi.
“Kami turut bergembira (muditā) dan berterima kasih telah disinggahi rangkaian karya indah milik saudara-saudara Hindu dari Yayasan Puri Kauhan Ubud. Inilah wujud nyata Nusantara: berbeda dalam persaudaraan, bersaudara dalam perbedaan, bahkan kami siap mendampingi kunjungan ke Kediri dan Pura Mangkunegaran,” tutur Bante Jayamedho.
Pertemuan seni sakral Hindu Bali dengan lingkungan vihara Buddhis tersebut menjadi simbol kuat bahwa perbedaan keyakinan, budaya, dan tradisi tidak menghalangi tumbuhnya rasa saling menghormati. Justru melalui seni dan budaya, nilai-nilai persaudaraan, toleransi, serta semangat Bhinneka Tunggal Ika terus dirawat sebagai warisan luhur bangsa Indonesia.
Acara ini dihadiri berbagai unsur masyarakat lintas agama, lintas budaya, lintas etnis, serta berbagai komunitas. Hadir diantaranya warga Padepokan Dhammadīpa Ārāma Batu, perwakilan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Komunitas Gusdurian, Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKAUB) Malang Raya, hingga Ki Soleh Adipramono, bersama rombongan seniman Padepokan Seni Mangun Dharma, Tumpang.
Perwarta/Editor: Nedi Putra AW





















































