BACAMALANG.COM – Mangunrejo merupakan salah satu desa di Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Berdasarkan cerita rakyat, Desa Mangunrejo pada masa terdahulu masih berupa hutan belantara yang kemudian dibabat oleh para leluhur bersama keluarga dan kerabatnya hingga berkembang menjadi perkampungan seperti saat ini.
Di bagian selatan wilayah tersebut dibuka oleh Mbah Koncong bersama keluarga dan sahabatnya yang kini dikenal sebagai Dusun Mojosari. Di bagian tengah oleh Prabu Djoko bersama Mbah H. Dasuki dan Mbah Mentaram serta keluarganya yang kini dikenal Dusun Gambiran. Sedangkan di bagian utara oleh Mbah Darmo Redjo bersama keluarga dan sahabatnya yang sekarang disebut Dusun Pepen. Mereka berasal dari Keraton Yogyakarta Hadiningrat.
Di sebelah barat Sungai Babar terdapat kampung yang disebut Lowok Pepen, berasal dari kata Lowok Nggarum yang berarti tempat bekerja warga Pepen pada masa itu. Hingga kini Dusun Mojosari, Gambiran, Pepen, dan Lowok Pepen masih menjadi satu kesatuan Desa Mangunrejo dengan ikatan kekeluargaan.
Secara administratif, Desa Mangunrejo memiliki luas wilayah 423,39 hektare dan terdiri dari empat dusun, yaitu Dusun Mlaten, Dusun Sanggrahan, Dusun Mangir, dan Dusun Pesantren. Jumlah penduduknya 5.076 jiwa dengan rincian 2.557 laki-laki dan 2.519 perempuan. Desa ini berbatasan dengan Desa Pangungrejo di utara, Desa Trenyang di barat, Desa Jenggolo atau Desa Sengguruh di selatan, dan Desa Kemiri di timur.
Desa Mangunrejo juga memiliki kawasan hijau berupa Hutan Jati Santren. Menariknya, di kawasan ini terdapat makam sang pembabat alas, Mbah Sumo Saimin Bin Warso, yang hingga kini masih diselimuti misteri terkait asal-usul dan sejarahnya.
Mengisi waktu di akhir pekan, penulis bersama tokoh masyarakat Turen berkesempatan mengunjungi lokasi hutan dan berziarah ke Makam Mbah Sumo Saimin Bin Warso, Sabtu (11/7/2026).
Makam tersebut terletak di area pemakaman Desa Mangunrejo, tepatnya di area punden khusus yang dirawat juru kunci setempat.
Tradisi ziarah ke makam para leluhur di Kepanjen sudah mengakar kuat. Warga kerap menggelar bersih desa sebagai bentuk syukur usai panen, serta nyekar pada malam-malam tertentu seperti Jumat Legi atau menjelang Ramadan untuk mendoakan ahli kubur dan para leluhur yang berjasa membuka pemukiman.
*Cerita Sejarah: Hutan Jati Santren dan Lokasi Pembuangan Jenazah PKI*
Hutan Jati Santren terletak di Dusun Pesantren, Desa Mangunrejo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Kawasan ini memiliki suasana sejuk dengan rimbunnya pohon jati yang asri, serta dilengkapi Jembatan Gantung ikonik sepanjang 143 meter yang menghubungkan Mangunrejo dengan Desa Trenyang di wilayah seberang, Kecamatan Sumberpucung.
Di sekitar kawasan makam juga berkembang cerita masyarakat terkait sejarah kelam. Di area hutan tempat makam ini berada, konon menjadi lokasi pembuangan jenazah pada masa lalu.
Disebutkan bahwa ribuan jenazah PKI dikuburkan di dalam hutan tersebut. Tempat ini juga sering dikaitkan dengan suara keramaian pada malam hari sehingga dikenal dengan sebutan kampung gaib.
Hutan tersebut memiliki lima titik yang diduga sebagai tempat pemakaman. Masyarakat juga meyakini adanya cerita mistis seperti suara aktivitas warga pada malam hari dan penemuan uang zaman dulu.
Warga meyakini area Makam Mbah Sumo sebagai sesepuh memiliki energi kuat. Di aliran sungai dekat lokasi, kabarnya sering diceritakan muncul sosok siluman ular besar. Ada pula yang menyebut makam tersebut milik orang yang memiliki ilmu kanuragan tinggi.
Hingga kini, Makam Mbah Sumo Saimin Bin Warso menjadi tujuan ziarah warga Mangunrejo dan sekitarnya, terutama dalam kegiatan adat dan spiritual masyarakat Kepanjen sebagai bentuk napak tilas menghormati sang pembabat alas desa.
*Misteri Makam Mbah Sumo*
“Di sana itu ada makam keramat katanya. Banyak orang bertanya di mana lokasinya kepada saya,” ujar Bang Nana, salah seorang pengelola wisata Hutan Jati Santren.
Pernyataan itu memunculkan spekulasi, jika Mbah Sumo bisa jadi merupakan pahlawan tak dikenal, atau bahkan sosok sang pembabat alas lokasi tersebut.
Dalam perbincangan santai, muncul pertanyaan tentang perbandingan jumlah antara pahlawan tak dikenal dengan pahlawan nasional yang tercatat resmi beserta nama dan asal-usulnya. Dengan lugas Bang Nana menjawab bahwa jumlah pahlawan tak dikenal pasti jauh lebih banyak.
Tak berselang lama, rombongan memutuskan untuk menengok keberadaan lokasi Makam Mbah Sumo. Jarak makam tersebut cukup jauh, sekitar belasan meter dari titik awal.
Sepanjang perjalanan, suasana Hutan Jati terasa damai. Angin berhembus lembut dan daun-daun jati kering menimbulkan bunyi “krek”, “kresek-kresek” yang sayup-sayup, seolah membawa imajinasi ke masa kerajaan silam. Kontur tanah yang tidak rata mengharuskan peziarah berjalan hati-hati agar tetap seimbang. Di sepanjang pinggiran jalan beton terlihat bekas ranting dan daun yang menghitam karena dibakar untuk menjaga kerapian lokasi.
Sekitar satu menit berjalan, terlihat sebuah bangunan makam kuno yang tetap terjaga utuh. Makam berukuran 1,5 x 1 meter itu dipadu dengan dua cungkup bercat warna hijau, tampak sederhana dan bersih. Pada bagian tengah makam terlihat sisa-sisa pengharum berupa dupa dan hio sebagai bekas ritual bersih desa warga.
Dari berbagai literatur yang ditelusuri, identitas, jejak nasab, dan eksistensi Mbah Sumo seolah tertutup tabir misteri. Konon, Mbah Sumo mempunyai kekuatan dan kedigdayaan yang disegani pada zamannya untuk mengatur tatanan masyarakat dan alam sekitar.
Mbah Sumo seolah meninggalkan pesan bahwa dirinya tidak perlu dikenal orang, namun yang penting adalah meninggalkan warisan adi luhung berupa nilai-nilai luhur kearifan lokal yang kekal dan berguna sepanjang masa.
Hal tersebut terlihat dari penataan tanaman di hutan yang mengombinasikan keanekaragaman hayati secara harmonis. Sistem irigasi sungai juga mampu memberikan penghidupan bagi masyarakat sekitar, serta dimanfaatkan flora dan fauna untuk melangsungkan perkembangbiakan.
Dari warisan kearifan lokal itu terbentuklah tatanan masyarakat yang bersahaja, sederhana, lugas, cinta lingkungan, dan guyub rukun.
“Gak nampak identitasnya. Masih misteri. Dengan kondisi makam yang terawat, dan aura baik yang bisa dirasakan, Mbah Sumo dipercaya sebagai sosok pembabat alas wilayah sini,” tutur Nur Cholis, warga Turen.
*Misteri Pewaris*
Usai ziarah ke Makam Mbah Sumo, pembahasan berlanjut ke tema kebangkitan Nusantara. Dipercaya bahwa para leluhur telah menyiapkan kebangkitan dengan menanamkan nilai-nilai spiritual kepada para pewarisnya. Salah satunya terlihat pada penataan kawasan Hutan Jati Santren tempat Makam Mbah Sumo berada.
Diperkirakan leluhur telah menyiapkan dan menunjuk pewaris untuk mengelola tempat tersebut agar nilai sejarah dan spiritualnya tetap lestari.
Napak tilas ke Makam Mbah Sumo Saimin bukan sekadar perjalanan ziarah, tetapi juga upaya mengingat kembali jasa para pendahulu yang telah membuka hutan dan menata kehidupan. Di tengah derasnya arus modernisasi, keberadaan makam sesepuh ini mengingatkan bahwa jati diri sebuah desa tidak bisa lepas dari akar sejarahnya.
Semoga nilai-nilai luhur, semangat gotong royong, dan kearifan lokal yang diwariskan Mbah Sumo terus hidup di hati generasi penerus, sehingga Desa Mangunrejo tetap menjadi tempat yang damai, subur, dan penuh berkah bagi anak cucu di masa mendatang.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga





















































