BACAMALANG.COM – Delegasi International Cultural Foundation (ICF), Trash Center Korea, Nanjing University of Aeronautics and Astronautics NUAA, dan Asian Cultural Landscape Association (ACLA) bersama Universitas Tribhuwana Tunggadewi UNITRI meninjau langsung program pendampingan konservasi dan pemberdayaan masyarakat di pesisir selatan Kabupaten Malang, belum lama ini.
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Ethical Site Initiation bertema Culture, Sustainability, and Global Education yang digelar di UNITRI. Delegasi tidak hanya mengikuti diskusi akademik, tetapi juga turun ke lapangan untuk melihat praktik konservasi yang dilakukan Sahabat Alam Indonesia (SALAM).
Didampingi Founder Sahabat Alam Indonesia Andik Syaifudin dan Dosen UNITRI Pramono Sasongko STP MP M.Sc, delegasi mengawali kunjungan di Pantai Sendangbiru, Dusun Sendangbiru, Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Presiden Trash Center Korea Selatan Lee Dong Hak berdialog dengan masyarakat nelayan mengenai kondisi sosial ekonomi, tantangan pengelolaan sampah, hingga persoalan sampah laut.
Delegasi juga meninjau tanggul penahan abrasi yang dibangun secara swadaya oleh warga serta menyusuri dari laut kawasan Cagar Alam Sempu yang menjadi benteng penting konservasi pesisir di selatan Pulau Jawa.
Perjalanan dilanjutkan ke Pantai Kondang Merak, Desa Sumberbening, Kecamatan Bantur. Di lokasi ini SALAM memperkenalkan program pendampingan mulai dari perlindungan kawasan laut dan hutan lindung Malang Selatan, penguatan kapasitas nelayan, penanganan isu kesehatan dan pendidikan, pengelolaan sampah di destinasi wisata, hingga pemanfaatan energi terbarukan melalui panel surya.
Masyarakat setempat juga menunjukkan produk kuliner hasil laut sebagai alternatif mata pencaharian yang dinilai dapat memperkuat ketahanan ekonomi sekaligus mendukung konservasi.
Founder SALAM Andik Syaifudin menegaskan, keberhasilan konservasi tidak hanya bergantung pada perlindungan kawasan, tetapi juga pada penguatan masyarakat di sekitarnya.
“Kami terus mendorong sinergi hexahelix dalam mengurai akar persoalan sosial dan lingkungan. Berbagi pengalaman pendampingan bersama Trash Center, ICF, serta akademisi dari UNITRI diharapkan semakin memperkuat kolaborasi Indonesia dan Korea Selatan. Pada akhirnya kita berbicara tentang ruang hidup yang sama, yaitu bumi dan kemanusiaan,” ujarnya.
President Trash Center Korea Lee Dong Hak mengaku terkesan dengan pendekatan konservasi yang diterapkan di Indonesia. Ia juga merasakan langsung keramahan warga dan keindahan alam pesisir Malang.
“Ini pertama kalinya saya datang ke Indonesia. Terima kasih kepada Universitas Tribhuwana Tunggadewi dan Sahabat Alam Indonesia yang telah mendampingi kami. Saya melihat masyarakat yang sangat ramah, laut yang indah, serta makanan yang luar biasa. Ini pertama kalinya saya mencoba ikan bakar dan sate tuna. Di Korea, ikan tuna lebih banyak diolah menjadi sushi atau makanan kalengan,” katanya.
Lee menambahkan persoalan sampah plastik dan sampah laut merupakan isu global yang tidak bisa diselesaikan satu negara. Limbah plastik dari berbagai negara termasuk Korea Selatan dapat terbawa arus dan mencemari wilayah negara lain. Karena itu pertukaran pengalaman pola pendampingan menjadi langkah penting untuk menghasilkan solusi yang bisa diadaptasi di berbagai negara.
Hal senada disampaikan Project Manager ICF Korea Kwag Min Ju. Ia berharap kunjungan ini menjadi awal kerja sama yang lebih luas.
“Keramahan masyarakat Indonesia semakin mempererat persahabatan kami, baik secara pribadi maupun antar institusi. Kami berharap ke depan dapat membangun kolaborasi lintas sektor, mulai dari penelitian hingga program bersama dalam konservasi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat untuk menciptakan ruang hidup yang aman, sehat, dan sejahtera,” ujarnya.
Kunjungan delegasi Korea Selatan ini menjadi bukti bahwa pendekatan konservasi berbasis masyarakat di pesisir selatan Malang mulai mendapat perhatian internasional. Model kolaborasi yang memadukan pelestarian lingkungan, penguatan ekonomi lokal, pendidikan, dan kesehatan dinilai memiliki potensi untuk direplikasi sebagai bagian dari solusi pembangunan berkelanjutan menghadapi perubahan iklim dan pencemaran laut.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga





















































