BACAMALANG.COM – Perjalanan kemanusiaan relawan asal Malang di Nusa Tenggara Timur memunculkan banyak cerita menarik. Selain soal jarak ribuan kilometer yang ditempuh secara mandiri, juga tentang sambutan hangat dan detik-detik merasakan kembali guncangan gempa di lokasi bencana.
Relawan tersebut adalah Yoeni Achyar, perwakilan Komunitas Peduli Malang (Asli Malang). Ia telah tiba di lokasi setelah berangkat bersama satu relawan lainnya dari Gimbal Alas menuju Labuan Bajo untuk menyalurkan bantuan bagi warga terdampak gempa.
Kepada bacamalang.com, Yoeni menceritakan perjalanannya bertolak dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya menggunakan kapal KM Dharma Rucitra 7 pada Rabu (30/9/2026) pukul 23.00 WIB, namun mundur pukul 03.00 WIB. Karena membawa satu unit sepeda motor untuk mobilitas, ia harus melakukan persiapan boarding sekitar enam jam lebih awal.
“Seluruh perlengkapan, mulai dari perlengkapan pribadi, perlengkapan relawan, hingga kebutuhan operasional, kami bawa sendiri tanpa dukungan fasilitas pihak lain,” ujar Yoeni kepada bacamalang.com, Minggu (4/10/2026).
Diketahui, sejumlah relawan Gimbal Alas lainnya telah kembali pada 23 September lalu.
Setelah menempuh perjalanan panjang, Yoeni tiba di Labuan Bajo pada Jumat (2/10/2026). Ia kemudian singgah di Labuan Bajo Travel Market pada pukul 08.29 WITA, yang menjadi tempat transit pertamanya setelah menginjakkan kaki di Bajo.
Selanjutnya, ia tiba di Kecamatan Komodo pada Minggu (4/10/2026) pukul 08.31 WITA. Di sana ia mendapat tumpangan kebaikan dari Bang Herry.
“Setelah menginjakan kaki di Bajo saya transit di rumah Bang Herry. Terima kasih Bang Herry sudah dikasih tempat berteduh,” katanya.
Ia melanjutkan perjalanan ke Ruteng naik travel, sedangkan motornya dibawa teman Mas Gendon (Gimbal Alas). Setibanya di Ruteng, ia dijemput teman jaringan relawan yang kebetulan menempati posko di Kapolsek Sambi Rampas. Di sana ia dipertemukan dengan Kapolsek Sambi Rampas yang tinggal di Ruteng, yang merupakan teman dari Mas Noe, relawan drone asal Malang.
“Belum sempat cari makan, langsung diajak mampir di rumah Pak Kapolsek dan makan siang sudah tersedia. Alhamdulillah perjalanan jauh, capek, dingin-dingin begini, ternyata selalu ada saja orang baik yang menyambut,” cerita Yoeni.
Hidangan menu sederhana berupa nasi, sayuran, irisan tomat, sate daging, buah pisang, secangkir kopi, serta air putih disuguhkan untuk menyambut kedatangannya.
Selanjutnya, motor dinaikkan ke bak mobil pada pukul 15.43 WITA untuk melanjutkan perjalanan berikutnya. Dari Ruteng, ia menuju Sambi Rampas. Menurutnya, niat baik selalu menemukan jalannya.
Di Sambi Rampas, ia kembali dipertemukan secara spontan dengan jaringan relawan pada hari itu juga melalui beberapa grup koordinasi. Ia bertemu dengan Mas Noe, relawan drone asal Malang, serta teman-teman Mapala, jaringan Gimbal Alas Indonesia, relawan NH, dan Icikiwir Berbagi yang masih berada di lokasi.
Di tengah misi tersebut, Yoeni juga sempat merasakan guncangan gempa susulan pada Minggu pagi.
“Lumayan terasa, Minggu pagi sudah goyang buminya,” ujarnya.
Guncangan tersebut sesuai dengan informasi BMKG yang mencatat Gempa Tektonik magnitudo 6.1 di Kodi, Sumba Barat Daya, NTT, yang dinyatakan tidak berpotensi tsunami.
Saat ini, pergerakan dan program kegiatan Yoeni di lapangan masih menyesuaikan hasil assessment dan kebutuhan nyata warga.
“Kami berkoordinasi dengan jaringan yang sudah ada, lalu menyesuaikan program berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan,” pungkasnya.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga



























































