Sheren Pawitandirogo

Pelapor Julianto SSD, J dan sejumlah alumni SPI Kota Batu, saat menggelar aksi demo sembari berjoget dengan membentangkan poster, banner, dan pamflet bertuliskan seruan menolak kekerasan seksual menjelang sidang tuntutan JE di depan PN Malang, pada Rabu (20/7/2022) lalu.

Oleh: Dahlan Iskan

Ini tidak objektif. Tidak cover both side. Jangan ditelan begitu saja. Saya sudah berusaha mencari Sheren Desandra. Atau nama di KTP-nya: Sheren Della Sandra. Tidak berhasil.

Harian Disway juga sudah mengontak lewat IG Sheren. Juga tidak direspons. IG itu, Anda sudah tau, bukan IG yang dikunci. Siapa saja boleh akses.

Julianto sendiri, yang diadukan Sheren ke polisi, sudah dituntut oleh jaksa 15 tahun penjara. Pekan lalu. Di pengadilan negeri Malang. Proses berikutnya adalah pembelaan dari terdakwa.

Setelah pembelaan itu sidang acara sidang berikutnya replik. Jawaban jaksa atas materi pembelaan. Lalu duplik, jawaban terdakwa atas jawaban jaksa. Acara terakhir: vonis. Putusan hakim.

Kenapa Julianto tidak dituntut hukuman mati?

Atau penjara seumur hidup?

Bukankah–kalau Julianto dikategorikan predator seks–bisa diancam hukuman mati?

Atau seumur hidup. Atau 20 tahun? Apalagi kalau status predator itu dilakukan terhadap anak-anak di lembaga pendidikan milik Julianto sendiri?

Kenapa tuntutannya hanya 15 tahun? Biarlah proses peradilan berjalan.

Saya lebih tertarik pada sosok ini: Risna Amalia. Dia ibu asrama saat Sheren masih sekolah SMA di Selamat Pagi Indonesia (SPI) Batu, dekat Malang. Sejak Sheren naik ke kelas dua.

Risna tinggal di asrama itu. Bersama suami dan anaknya. Kamar yang ditempati Risna di depan persis kamar Sheren. Di lantai 1 asrama itu.

Luas kamar itu 4 x 4 meter. Diisi oleh empat siswi. Ada dua tempat tidur tingkat di kamar itu. Sheren di bawah. Kamar mandi di luar kamar.

Tahun-tahun itu baru ada satu asrama: tiga lantai. Lantai 1 dan 3 untuk putri. Lantai 2 untuk putra.

Untuk menuju kamar-kamar tersebut ada lorong berpintu. Yang naik ke lantai 2 atau lantai 3 tidak bisa masuk lorong tersebut: dikunci. Terutama setelah jam 22.00 WIB.

Risna menjadi ibu asrama sejak sekolah itu belum dibuka. Risna sarjana matematika lulusan Fakultas Saintek Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Dia arek Malang. Sekolah Dasar, Tsanawiyah, dan Aliyah-nya pun di Malang.

Di SPI Batu, Risna juga mengajar: mata pelajaran matematika. Sebagai guru dan ibu asrama Risna mengenal sangat baik Sheren. Pun sampai orang tuanyi. Ibunda Sheren sering menelepon Risna. Zaman Sheren masih siswa SMA di SPI. Sang ibu sering menanyakan soal anaknya.

Suatu saat, sang Ibu menelepon Risna. Yakni beberapa bulan setelah Sheren lulus SMA. Sang Ibu marah-marah. Setengah komplain: gara-gara sekolah di SPI, Sheren pindah agama, masuk Katolik.

Sang Ibu mengatakan, kata Risna, akan ke Batu. Akan menarik Sheren pulang ke Madiun.

Risna menjelaskan bahwa Sheren sudah bukan siswa lagi. Sudah lulus. Agar sang Ibu berhubungan langsung dengan anaknys sendiri.

Itulah telepon terakhir sang Ibu kepada Risna. Isi telepon itu dia ceritakan ke Sheren. “Sheren memutuskan untuk pulang ke Madiun menemui ibunyia,” ujar Risna menirukan reaksi Sheren.

Risna tidak tau apa yang menyebabkan Sheren pindah agama. Setahu Risna, sampai tamat SMA, Sheren masih Islam. Masih ikut salat berjamaah yang diwajibkan di asrama itu. Ada musala di lantai dua asrama.

Siswa yang Kristen dan Katolik juga wajib ke gereja di hari Minggu. Yang Budha dan Hindu juga ibadah di luar.

Komposisi siswa di SMA Selamat Pagi Indonesia memang sudah ditetapkan: 40 persen Islam, 20 persen Kristen, 20 persen Katolik, 10 persen Buddha, dan 10 persen Hindu.

Komposisi itu juga harus mencerminkan wilayah Indonesia. Setiap angkatan setidaknya harus ada yang dari empat pulau besar: Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Kian banyak wilayah kian baik.

Apakah Risna melihat selama SMA Sheren berpacaran? “Ada. Pacarnya kakak kelasnya. Teman-temannya juga tau,” ujar Risna.

Sheren angkatan kedua di SMA SPI. Sekolah SPI memang baru dibuka setahun sebelumnya. Dia anak yatim. Bapaknya meninggal. Ibunya jualan kecil-kecilan. Ketika masuk SMA, ibunya sudah kawin lagi. Sheren punya bapak tiri.

Saat mendirikan sekolah itu Julianto ”bintang” dalam bisnis multi level marketing. Ia leader di MLM HDI. Yakni produk kesehatan dan vitalitas seperti pollen dan royal jelly.

Dalam pertemuan-pertemuan besar ”agen” MLM, Julianto jadi idola. Paling sukses. Lalu memberikan pidato kisah-kisah suksesnya. Julianto jadi motivator terkenal di lingkungan bisnis itu.

Temannya pun banyak. Para leader di bisnis HDI mengidolakannya.

Itulah bisnis jualan produk lewat Sosial Network Marketing–istilah baru untuk MLM. Julianto jago di situ.

Lewat jaringan para leader HDI itu Julianto mengemukakan pikiran baru: membuat sekolah gratis untuk anak yatim, piatu, miskin. Gagasannya diterima jaringannya. Ia kumpulkan dana dari teman-temannya itu. Berdirilah sekolah di Batu tersebut.

Untuk mencari siswa di tahun pertama, Julianto juga menggunakan jaringan leader HDI. Para leader diminta mencari anak yatim dan miskin di daerah masing-masing. Itulah siswa angkatan pertama.

Kian lama sekolah ini terkenal. Lahannya 3,5 hektar. Dibentuk yayasan. Julianto jadi ketua pembina. Yenny, istri Julianto, jadi wakil. Sandy, ipar Julianto jadi ketua.

Saya tidak mengikuti proses sidang perkara Julianto ini. Saya tidak tau apa-apa saja fakta di persidangan. Saya tidak tau isi laporan dan pengakuan Sheren di sidang. Apakah hubungan seks itu pagi, siang, sore, malam atau tengah malam. Juga tidak tahu dilakukannya di mana. Apakah di kamar yang isi empat siswa itu atau di luar. Apakah terus menerus selama tiga tahun atau ketika kelas 1,2 atau 3 saja.

“Saya tidak pernah melihat gelagat yang seperti itu terjadi,” ujar Risna, si ibu asrama.

Julianto tidak menetap di Batu. Rumahnya di Surabaya. Ia bukan guru di situ. Ia datang ke sekolah itu sesekali saja. Sandy yang mengurus setiap harinya.

Begitu lulus Sharen langsung bekerja di sekolah itu. Yakni di bagian show. Sekolah ini memang menerima kunjungan wisata, terutama wisata pendidikan anak-anak. Lokasinya di pegunungan. Tepat untuk rekreasi. Kota Batu sendiri adalah kota wisata.

Setahun setelah Sheren lulus, lulus pula Robert. Anak asal dari Pacitan. Adik kelasnya. Robert juga langsung bekerja di sekolah itu. Di bagian multi media.

Dua atau tiga tahun kemudian terlihat Sheren dan Robert. Teman-teman kerja mereka juga tau. Berarti lebih lima tahun mereka pacaran. Robert termasuk karyawan yang berprestasi. Ketika ditemukan sakit tumor di bawah otaknya para pimpinan turun tangan. Sampai ke Malaysia. Sembuh.

Awal Januari tahun lalu pasangan ini mengajukan surat pengunduran diri. Alasannya: akan menikah. Itu genap 9 tahun Sheren bekerja di SPI. Atau 8 tahun bagi Robert.

Pimpinan sekolah memanggil mereka: jangan mengundurkan diri. Cuti saja. “Kalau setelah kawin tidak mendapat pekerjaan yang lebih baik, agar kembali bekerja di SPI,” ujar Risna.

Empat bulan kemudian Sheren ke kantor polisi.

Sheren mengaku digauli Julianto sejak tahun 2009 sampai 2011. Saat masih SMA sampai setelah berstatus karyawan di SPI.

Ternyata Sheren mengaku perbuatan itu dilakukan di luar asrama. “Dia mengaku dihubungi lewat HP agar keluar asrama,” ujar Jeffry Simatupang, S.H., M.H, pengacara Julianto. Itulah yang dipersoalkan Jeffry: apakah Sheren punya HP saat itu.

Saya begitu ingin bertemu Sheren. Kalau pun bukan sebagai wartawan, anggap saja sebagai sesama warga paguyuban Pawitandirogo: Pacitan-Ngawi-Magetan-Madiun-Ponorogo.

*Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis