Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti

Dr Riyanto Budayawan dan Akademisi Universitas Brawijaya Malang

Oleh: Dr Riyanto*

Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti

Menurut Prof. Ario Santos, Jawa, Javana artinya mengangkasa.
Budaya Jawa, bebasan manuk Garuda ngekablak ngubengi jagat. Bagai burung Garuda mengembangkan sayap, mengitari dunia.

Dalam pemahaman itu, orang Jawa, bisa jadi bukan pengemban nilai budaya Jawa. Mereka kebetulan lahir dan nunut hidup di pulau Jawa.

Yuok Gwin Tong, Cwie Lan Theng, benar benar orang Jawa, njawani.
Sastro, jian blas ora Jawa. Sastro benar benar bukan Jawa.

Meskipun Cwie Lan Theng lahir di China, Sastro lahir di Yogjakarto, bisa jadi Cwie Lan Theng lebih Jawa dari pada Sastro.
Juga panjenenganipun Habib Lutfi Pekalongan.

Dalam masalah agama, budaya Jawa mampu merengkuh semua agama. Di sela sela baju agama, kalau diintip, di dalamnya ada budaya Jawa.

Bahkan Sultan Agung Hanyakrakusumo, menyambut agama Islam dengan rengkuhan, “tempuking syara’ lan ngelmu. Bertemunya syari’ah Islam dengan Kapitayan Jawa.

Mengapa bulan Muharam di tempukkan dengan bulan Suro ?

Orang Jawa itu, “sinamun ing samudana/ dibungkus kesamaran, sesadone adu manis/ semua masalah dihadapi dengan wajah manis.

Kita mulai dari bulan “Rejeb, renyep, menanam. Waktunya manusia menanam kebaikan.
“Ruwah, arwah, ruh. Mengarahkan jiwa-jiwa pada tiupan Allah yang disebut ruh. Hanya kebersamaan dengan ruh, manusia mampu menghadap Tuhan-nya.
WUjudnya ketentraman rasa, pasa.

“Syawal, meningkat naik. Semakin kuat kepatuhan pada perintah Tuhan.
Wujud Syawal, kehidupan manusia mulai longgar, “sela. Tidak ada kekhawatiran dan rasa benci pada sesama.

Rejeb, Ruwah, Pasa, Syawal, Sela, dan berakhir pada “Besar.
Dalam penanggalah Hijriyah disebut “Dzulhijah, artinya kondisi hajji atau raja. Disini manusia disempurnakan oleh Allah, dan dipanggil keharibaan-Nya; Labbaik Allahhumma labbaik – Kula dateng minangkani dawuh Panjenengan ya Allah …….

Suro itu syukur.
Kesaktian, kehebatan, dan kejayaan dunia, sudah melebur dalam ruh jiwa-jiwa yang tenang/
Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti

Bagaimana ritual wujud syukur ?
Apa makna dibalik bubur putih, kuning. Juga lombok merah, cambah, tomat, dan ingkung ?
Juga apa makna Suroboyo …..
🇲🇨

*Dr Riyanto Budayawan dan Akademisi Universitas Brawijaya Malang
*Isi tulisan menjadi tanggung jawab sepenuhnya penulis.