UB Kukuhkan Lima Profesor, Hadirkan Gagasan Baru dari Pertanian Berkelanjutan hingga Dekolonisasi Pengetahuan - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

MALANG RAYA · 22 Sep 2026 08:26 WIB ·

UB Kukuhkan Lima Profesor, Hadirkan Gagasan Baru dari Pertanian Berkelanjutan hingga Dekolonisasi Pengetahuan


 Dari kiri-Prof. Ir. Edi Dwi Cahyono, M.Agr.Sc., M.S., Ph.D., Prof. Cleoputri Al Yusainy, S.Psi., M.Psi., Ph.D., Prof. Putu Hadi Setyarini, Prof. Dr. Desi Dwi Prianti, S.Sos., M.Comn dan Prof. Ir. Winarto, S.T., M.T., Ph.D. (Nedi Putra AW) Perbesar

Dari kiri-Prof. Ir. Edi Dwi Cahyono, M.Agr.Sc., M.S., Ph.D., Prof. Cleoputri Al Yusainy, S.Psi., M.Psi., Ph.D., Prof. Putu Hadi Setyarini, Prof. Dr. Desi Dwi Prianti, S.Sos., M.Comn dan Prof. Ir. Winarto, S.T., M.T., Ph.D. (Nedi Putra AW)

BACAMALANG.COM – Universitas Brawijaya (UB) kembali memperkuat jajaran profesor dengan mengukuhkan lima guru besar yang menghadirkan gagasan dan inovasi dari berbagai bidang keilmuan. Kelima profesor tersebut menawarkan pemikiran mulai dari model penyuluhan pertanian berkelanjutan, rekayasa material fungsional, psikologi berbasis realitas kehidupan, simulasi molekuler, hingga dekolonisasi pengetahuan melalui literasi visual.

Pengukuhan tersebut menjadi bagian dari kontribusi akademik UB dalam mengembangkan ilmu pengetahuan yang tidak hanya berorientasi pada pengembangan keilmuan, tetapi juga diarahkan untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat.

Prof. Ir. Edi Dwi Cahyono, M.Agr.Sc., M.S., Ph.D. dikukuhkan sebagai Profesor dalam bidang Ilmu Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian pada Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBIPK). Profesor aktif ke-25 di FBIPK, Profesor aktif ke-258 di UB, serta profesor ke-456 dari seluruh profesor yang telah dihasilkan UB ini menyampaikan Model Penyuluhan untuk Pertanian Berkelanjutan dalam pidato pengukuhannya, yang mengangkat tema “E/D/C-RITA: Model Penyuluhan dan Komunikasi Era Baru untuk Adopsi Inovasi Pertanian Berkelanjutan.”

Model tersebut dikembangkan berdasarkan pengalaman penelitian dan pengamatan lapangan selama 38 tahun. E/D/C-RITA ditawarkan untuk menjawab persoalan mengapa petani belum tentu langsung menggunakan inovasi pertanian meskipun telah mengetahui manfaatnya.

Menurut Prof. Edi, keputusan petani untuk tidak mengadopsi sebuah inovasi tidak selalu berarti kegagalan atau kurangnya pemahaman terhadap teknologi. Keputusan tersebut dapat menjadi pilihan rasional setelah petani mempertimbangkan informasi, mencoba inovasi, mengamati hasil, serta menyesuaikannya dengan kondisi masing-masing.

“Model E/D/C-RITA terdiri atas lima tahap, yakni kesadaran, evaluasi awal, evaluasi refleksif, keputusan ambang, dan evaluasi setelah keputusan,” ungkapnya dalam konferensi pers di Gedung Samantha Krida UB, Senin (21/9/2026).

Dalam model ini, imbuhnya, penyuluh tidak lagi hanya berperan sebagai penyampai informasi. Penyuluh ditempatkan sebagai katalisator yang membantu petani mempertimbangkan berbagai pilihan sekaligus menjadi mitra dalam menciptakan solusi.

Model tersebut juga dilengkapi COAST Framework, instrumen 30 item yang membantu penyuluh mengidentifikasi hambatan adopsi dan menentukan pendekatan sesuai kondisi petani.

Melalui E/D/C-RITA, Prof. Edi menawarkan paradigma penyuluhan yang mengedepankan dialog, pertimbangan, dan kemandirian petani.

“Prinsip tersebut dirangkum dalam adagium, “Jangan Dipaksa-Terpaksa-Terbiasa, Tetapi Diajak-Menimbang-Memandirikan”, dimana model ini diarahkan tidak hanya untuk mendorong adopsi inovasi, tetapi juga membangun kemandirian petani dan sistem penyuluhan yang berkelanjutan melalui kolaborasi berbagai pihak,” jelasnya.

Sementara Prof. Putu Hadi Setyarini mengusung COAT360 untuk Rekayasa Material, sebuah kerangka kerja integratif yang menghubungkan seluruh tahapan rekayasa pelapisan, karakterisasi permukaan, ketahanan, hingga kinerja material fungsional dalam satu siklus terstruktur dan berorientasi fungsi.

Kerangka tersebut dikembangkan untuk menjawab tantangan pengembangan teknologi material yang selama ini kerap bergantung pada metode coba-coba (trial and error) serta menghasilkan data yang terpisah-pisah.

“Melalui COAT360, kondisi permukaan dan antarmuka ditempatkan sebagai jembatan utama yang menghubungkan proses pembuatan dengan fungsi akhir material,” ujar Profesor dalam bidang Pelapisan dan Karakterisasi Material pada Fakultas Teknik (FT) ini.

Prof Putu menyebutkan, keunggulan kerangka tersebut terletak pada keterlacakan data serta pemanfaatan informasi keberhasilan maupun kegagalan sebagai umpan balik untuk memperbaiki desain material berikutnya.

“Secara operasional, COAT360 mengusung enam rantai bukti minimum, mulai dari pemeriksaan kondisi awal sebelum pelapisan, keseragaman pembentukan lapisan, perubahan struktur penyusun, daya lekat antarmuka, ketahanan terhadap lingkungan, hingga evaluasi fungsi akhir,” jelas Profesor aktif ke-34 di FT, Profesor aktif ke-259 di UB, serta profesor ke-457 dari seluruh profesor yang telah dihasilkan UB ini.

Pendekatan tersebut diharapkan memastikan setiap data karakterisasi tidak sekadar menjadi angka pengujian, tetapi menjadi dasar untuk menjelaskan hubungan sebab-akibat dalam pengambilan keputusan rekayasa.

Penerapan COAT360 mencakup berbagai kebutuhan industri, mulai dari pengembangan kemasan pangan ramah lingkungan, biomaterial medis, teknologi energi bersih, hingga pencegahan korosi.

“Ke depan, kerangka tersebut diarahkan untuk membangun bank data material tervalidasi, mendukung analisis prediktif berbasis kecerdasan buatan, serta mempercepat hilirisasi hasil riset,” tandasnya.

Di sisi lain, Prof. Cleoputri Al Yusainy, S.Psi., M.Psi., Ph.D. menawarkan model psikologi “Lebur Duka Labur Rasa” yang berbasis pada realitas kehidupan.

Dalam pemikirannya, kemuliaan psikologi sebagai kajian ilmiah terletak pada praksisnya dalam membentuk individu agar bermental bugar. Ia menyoroti praktik psikologi yang dinilai kerap berjalan tanpa panduan filosofis dan terlalu berfokus pada bongkar pasang model serta pengukuran konstruk.

Cleo menawarkan pendekatan yang berpijak pada tradisi kontemplasi. Menurutnya, segala sesuatu terjadi karena syaratnya telah tercukupi, terlepas dari pemaknaan subjektif.

“Model tersebut juga memandang diri bukan sebagai entitas yang solid. Diri memiliki tiga ciri yang cair, yakni mineness, centeredness, dan selfhood,” ungkap profesor ke-5 di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dan profesor ke-458 di UB

Mineness berkaitan dengan rasa kepemilikan, centeredness merupakan rasa sebagai pusat pengalaman, sedangkan selfhood berkaitan dengan ilusi kontinuitas bahwa diri bersifat unik dan istimewa.

Menurut Cleo, penerapan model tersebut bukan bertujuan menambah sesuatu, melainkan melepaskan kemarahan, ketakutan, dan ketidaktenangan.

“Lebur Duka Labur Rasa ditawarkan sebagai upaya merevitalisasi cita-cita psikologi sebagai ilmu yang tidak hanya mengkaji proses mental dan perilaku, tetapi juga membentuk individu bermental bugar,” tegas profesor dalam bidang Psikologi Umum dan Eksperimen sekaligus guru besar pertama Psikologi FISIP UB ini.

Model tersebut perlu dipahami secara terintegrasi, diuji secara berkelanjutan pada berbagai kelompok, serta diperluas kepada publik melalui edukasi.

Kembali di bidang Teknik, Prof. Ir. Winarto, S.T., M.T., Ph.D., dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Teknik bidang Simulasi Dinamika Molekul, yang mengembangkan penelitian untuk mencari solusi pemisahan air-alkohol dan penangkapan karbon dioksida (CO₂) yang lebih efisien.

Dalam pidato pengukuhannya, Profesor aktif ke-35 di FT ini memaparkan pemanfaatan simulasi molecular dynamics (MD) melalui MD-TOOL untuk melihat perilaku molekul dalam skala sangat kecil.

“Penelitian ini berangkat dari persoalan tingginya kebutuhan energi dalam proses pemisahan alkohol dari air. Metode konvensional seperti distilasi membutuhkan energi dalam jumlah besar,” ujarnya.

Melalui simulasi, Prof. Winarto menunjukkan bahwa carbon nanotubes (CNTs) yang dipadukan dengan medan listrik dapat memperkuat proses pemisahan air dari metanol maupun etanol.

“Medan listrik membuat molekul air di dalam CNT tersusun lebih teratur sehingga lebih mudah masuk dan bertahan di dalam nanotube. Riset kemudian dikembangkan untuk menangkap CO₂ dari gas hasil pembakaran. Simulasi menunjukkan CNT lebih kuat mengadsorpsi CO₂ dibandingkan nitrogen (N₂) dan oksigen (O₂), sehingga berpotensi digunakan dalam proses pemisahan,” papar Profesor aktif ke-261 di UB, serta profesor ke-459 dari seluruh profesor yang telah dihasilkan UB ini.

Penelitian juga menggunakan boron nitride nanotubes (BNNT) dan membran silikon nitrida (Si₃N₄). Hasil simulasi menunjukkan keberadaan membran tersebut dapat memperkuat efek pemisahan CO₂.

Ke depan, Prof. Winarto berencana memperluas pemanfaatan simulasi MD ke bidang penyimpanan energi, khususnya baterai dan superkapasitor. Simulasi akan digunakan untuk memahami mekanisme material pada skala molekuler sekaligus membantu merancang material dengan kinerja yang lebih baik.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan peneliti eksperimental agar hasil simulasi dapat divalidasi dan dikembangkan menuju penerapan teknologi nanomaterial.

Berikutnya, Prof. Dr. Desi Dwi Prianti, S.Sos., M.Comn., mengangkat gagasan Literasi Visual Dekolonial sebagai upaya mendekolonisasi pengetahuan subjek terjajah. Desi merupakan profesor dalam bidang ilmu Media, Gender dan Studi Budaya.

Desi menjelaskan bahwa pengalaman kolonialisme tidak hanya meninggalkan luka fisik dan mental, tetapi juga membentuk rezim pengetahuan yang memengaruhi cara manusia membaca dan memahami dunia.

Menurutnya, persoalan tersebut semakin penting karena cara manusia mengonsumsi pesan telah berubah dari dominasi teks menjadi visual.

“Namun perubahan ini tidak dibarengi dengan penguatan kemampuan literasi visual. Kita hidup dalam paradoks dibanjiri representasi visual, tetapi rendah kemampuan membaca dan mengkritiknya. Inilah salah satu bentuk epistemik kolonial yang bekerja dalam diam, yaitu kolonisasi cara kita membaca dunia,” jelasnya.

Literasi Visual Dekolonial ditawarkan sebagai perangkat analisis sekaligus pedagogi. Desi mengenalkan modul ajar literasi visual kritis, protokol kurasi museum yang inklusif, serta riset transdisipliner mengenai tatanan visual di ruang digital.

Menurut Desi, dekolonisasi pengetahuan merupakan upaya membongkar epistemik kolonial yang berkelindan dengan pengalaman bangsa yang pernah dijajah, sekaligus membangun produksi pengetahuan yang berorientasi pada pemberdayaan.

Tiga strategi yang ditawarkan adalah menyingkap sudut pandang, melacak asal-usul historis standar visual, dan melawan dengan memproduksi tatanan visual tandingan.

Ia berharap Literasi Visual Dekolonial dapat membuat masyarakat tidak lagi sekadar menjadi penerima gambar, tetapi menjadi pembaca yang berdaulat atas gambar.

“Harapannya, konsep ini memperkaya khazanah ilmu komunikasi Indonesia dengan tradisi yang selama ini kurang populer, dan menegaskan bahwa ilmu komunikasi bukan sekadar teknik menyusun pesan yang efektif. Sebab bagi saya, ilmu pengetahuan harus bekerja untuk memanusiakan dan memerdekakan,” pungkas profesor ke-6 dari FISIP dan profesor ke-460 di UB ini.

Rangkaian pengukuhan lima profesor tersebut menunjukkan beragam arah pengembangan keilmuan di UB, dari inovasi pertanian dan material, pengembangan perspektif psikologi, teknologi nanomaterial, hingga kajian komunikasi dan budaya.

Pewarta/Editor: Nedi Putra AW

Artikel ini telah dibaca 7 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Bantur Deklarasikan KENCANA, Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Potensi Bencana

22 September 2026 - 07:53 WIB

Adu Banteng di Jatiguwi, Ibu dan Anak Tewas dalam Kecelakaan Maut

22 September 2026 - 07:49 WIB

Gembleng Calon Pemimpin Bangsa, Ribuan Peserta Padati Kemah Santri Muhammadiyah di Coban Rondo

21 September 2026 - 20:41 WIB

Ibu-Ibu PKK Candirenggo Dibekali Ilmu Pertolongan Pertama Korban Kecelakaan

21 September 2026 - 19:55 WIB

Polres Malang Bekuk Pelaku Penipuan Emas Palsu Bermodus Pura-pura Akrab di Dampit

21 September 2026 - 19:38 WIB

Kompol Diana Bawa Wawasan Global IAWP 2026 untuk Perkuat Polresta Malang Kota

21 September 2026 - 17:46 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !