BACAMALANG.COM — Gempa bumi yang melanda sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT) turut berdampak pada mahasiswa asal Flores yang sedang menempuh pendidikan di Kota Malang. Kondisi keluarga yang terdampak bencana membuat sebagian mahasiswa menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga biaya perkuliahan.
Melihat kondisi tersebut, sejumlah elemen masyarakat NTT di Malang bergerak dengan membuka Posko Peduli Gempa NTT. Bantuan tidak hanya berupa penggalangan donasi, tetapi juga penyediaan makanan bagi mahasiswa yang orang tuanya terdampak bencana.
Salah satunya dilakukan Forum Pemuda NTT Malang Raya bersama Paguyuban Sesepuh NTT dan Flo Bora Batu. Posko bantuan tersebut berada di Jalan Mayjen Panjaitan, Kota Malang.
Ketua Forum Pemuda NTT Malang Raya, Philipus Oskar Api Oa, mengatakan posko dibentuk sebagai bentuk kepedulian sekaligus respons cepat terhadap kondisi mahasiswa asal Flores yang berada di Malang.
Menurutnya, sejumlah mahasiswa mengalami kendala memenuhi kebutuhan pangan karena orang tua mereka di daerah asal terdampak gempa dan belum dapat mengirimkan uang untuk kebutuhan makan maupun biaya studi.
“Forum Pemuda NTT bersama Paguyuban Sesepuh NTT dan Flo Bora Batu bersatu untuk memberikan solusi terbaik bagi putra-putri NTT di Malang, khususnya mahasiswa asal Flores yang terdampak gempa,” ujar Oskar.
Ia mengajak masyarakat Malang Raya maupun berbagai daerah di Indonesia untuk ikut bergotong royong memberikan bantuan kepada mahasiswa dan warga NTT yang terdampak bencana.
Kepedulian serupa juga dilakukan Universitas Katolik Widya Karya (UKWK) Malang melalui Posko Peduli Gempa NTT. Posko ini menyalurkan makanan bagi mahasiswa asal tujuh kabupaten di NTT yang terdampak gempa.
Koordinator Peduli Gempa NTT, Savier Dari Mbipi, mengatakan bantuan disiapkan setelah pihaknya memperoleh informasi langsung dari mahasiswa mengenai kondisi keluarga mereka di daerah terdampak.
“Mahasiswa mengalami kesulitan mendapatkan makanan, berkomunikasi dengan keluarga, hingga membayar uang kos,” ujarnya.
Sebagai tahap awal, posko menyediakan 100 porsi makanan setiap hari. Sebanyak 50 porsi dibagikan untuk makan siang dan 50 porsi untuk makan malam.
Makan siang diberikan pada pukul 11.30–13.00 WIB, sementara makan malam dibagikan pukul 17.00–18.00 WIB.
Program tersebut sementara diprioritaskan bagi mahasiswa UKWK Malang yang berasal dari tujuh kabupaten terdampak. Untuk memastikan bantuan tepat sasaran, penerima diwajibkan melakukan verifikasi dengan menunjukkan kartu tanda penduduk (KTP).
Savier menjelaskan, bantuan telah disiapkan untuk tiga hari pertama. Pelaksanaan selanjutnya akan menyesuaikan kondisi di lapangan serta hasil koordinasi dengan berbagai pihak.
Ia berharap keberadaan posko dapat menjadi ruang dukungan bagi mahasiswa, terutama mereka yang baru berada di Malang dan tengah menghadapi kekhawatiran akibat kondisi keluarga di daerah asal.
“Kami berharap mahasiswa yang terdampak tidak merasa sendirian di Kota Malang. Masih ada yang peduli dan siap membantu,” katanya.
Salah satu penerima bantuan, Aurelia Leonji Jebatung, mahasiswa baru Program Studi Agribisnis UKWK Malang asal Flores, NTT, mengaku keluarganya turut terdampak gempa.
Menurut Aurelia, keluarganya untuk sementara belum dapat menempati rumah dan memilih tinggal di tempat pengungsian. Kondisi tersebut telah berlangsung selama beberapa hari karena situasi di daerah asalnya belum sepenuhnya stabil.
Komunikasi dengan keluarga juga menjadi kendala. Ia mengaku terus merasa khawatir, terlebih salah satu anggota keluarganya mengalami luka ringan akibat gempa.
Bagi Aurelia, bantuan makanan yang diberikan UKWK Malang memiliki arti penting. Di tengah kekhawatiran terhadap kondisi keluarga, setidaknya kebutuhan makan selama berada di Malang dapat sedikit terbantu.
“Bantuan ini sangat berarti bagi kami, terutama ketika sedang memikirkan kondisi keluarga di daerah asal,” ungkapnya.
Dua gerakan tersebut menunjukkan bahwa dampak bencana tidak berhenti di wilayah yang terdampak langsung. Bagi mahasiswa perantauan, gempa juga dapat berimbas pada keberlangsungan kehidupan dan pendidikan mereka di Malang.
Melalui posko bantuan dan dukungan masyarakat, para mahasiswa asal NTT diharapkan tetap dapat menjalani perkuliahan sembari menunggu kondisi keluarga di daerah asal kembali pulih.
Forum Pemuda NTT Malang Raya pun terus membuka ruang bagi masyarakat yang ingin memberikan bantuan.
“Bantuan dari masyarakat sangat kami harapkan untuk meringankan beban saudara-saudara kita yang sedang membutuhkan dukungan,” ujar Oskar.
Pewarta/Editor: Rahmat Mashudi Prayoga



















































